JANGAN LAKUKAN PEMBUNUHAN KARAKTER!

Jumat, 04 Maret 2011
Share this history on :

Dua hari yang lalu aku mengikuti rapat BEM yang membahas tentang cara penarikan DKM (Dana Kemahasiswaan), aku disitu sebenarnya mewakili HaWe, tapi dikarenakan tidak ada perwakilan KMSI (Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia) yang hadir dan kebetulan ada Achmad—anggota Hawe—yang hadir, jadinya secara dadakan aku jadi perwakilan KMSI. Tidak masalah, yang penting KMSI tidak diberi sanksi karena tidak ada perwakilan rapat.


Rapat diagendakan dalam undangan jam 14.00 WIB, tapi terlambat sekitar setengah jam. Setelah mendapatkan ruangan kelas yang tak terpakai, kami pun berkumpul. Masyaallah, AC-nya kencang banget, alhasil yang ada di dalam pada cenat-cenut, aku sampai pusing dan memijit-mijit kepala. Rapat berjalan lancar dengan laporan dari bendahara BEM tentang penarikan DKM sewaktu pengumpulan KRS yang tidak efektif, pertama dikarenakan angkatan 2010 yang memakai sistem KRS online dan beberapa UKM dan HMJ yang tidak memenuhi tanggung jawab mengisi pos penarikan. Akhirnya diajukan solusi dengan memerpanjang waktu penarikan sampai akhir maret. Tugas penarikan tetap dilakukan oleh HMJ dan UKM.

Aku menyimak dengan sesekali membaca pesan di Hape, belum mau bicara karena semua masih aman terkendali. Sampai ada silang pendapat antara Anton—anak prodi sejarah—dan seorang cewe dari prodi inggris. Si cewe menyarankan agar penarikan menggunakan sistem sanksi agar mahasiswa tidak menganggap enteng pembayaran DKM, lalu ini disanggahi oleh Anton yang mengatakan kalau masalah sanksi jangan dipikirkan sekarang, itu menyusul.

Jujur, aku kurang sependapat dengan Anton dan sepakat dengan si cewe, kenapa sanksi tidak dibicarakan langsung, toh untuk berkumpul aja sulit, lagipula setelah rapat itu sudah mulai penarikan, bagaimana penerapan sanksi menyusul. Lalu aku berusaha menengahi karena melihat Anton dan si cewe mulai bersela-sela ngomong dan bisa jadi debat kusir.

Aku : maaf, boleh saya bicara, untuk menengahi

Presiden BEM hampir saja memersilakan ketika ada sebuah suara cewe dari depan.

Cewe 2: aduh, sudah jangan ngomong lagi, sudah sore nih!

Sumpah, aku terkaget-kaget dan melihat ke depan, ternyata itu cewe yang tadi datangnya terlambat. Seluruh ruangan juga tampak kaget dan diam beberapa saat, entah apa yang kami pikirkan. Yang jelas aku secara manusiawi tersinggung, apalagi ini adalah forum yang dihadiri oleh yang belum terlalu saling mengenal bahkan belum kenal. Satu lagi, tidak sepantasnya dia memotongku yang belum bicara dari awal dengan tidak sopan seperti itu, apalagi ada debat kusir di dalam rapat.

Pres BEM : silahkan Dayat!
Aku : (diam)
Pres BEM : ayo Dayat!
Aku  : maaf, saya lupa!

Yang ada diruangan pasti mengerti kalau sebenarnya aku berbohong dengan mengatakan ‘lupa’. Aku kali ini benar-benar dongkol dan tersinggung, karena jelas keberadaanku dalam rapat tidak dihargai. Aku akan sangat senang dan apresiasi kalau dia nyeletuk “ayo mas, tapi jangan lama-lama ya!” walau pun konteksnya bukan hak dia untuk mengatakan itu, tapi perkataan itu lebih bisa kuterima karena masih ada unsur penerimaan dan pengizinan. Tapi apa yang dilakukannya benar-benar telah MEMBUNUH KARAKTERKU DI DALAM FORUM.

Akhirnya memang aku tetap bicara karena dipaksa Pres. BEM berulang-ulang. Aku memang tidak memersalahkan itu setelah forum, cuma ada pelajaran berharga yang bisa kuambil dari situasi yang langsung kualami.

Sikap seenaknya dalam forum bisa sangat berbahaya, karena kita harus mengerti setiap yang ada di dalam ruangan memiliki hak bicara yang sama. Dalam konteks forum antar-teman dekat mungkin akan berbeda, karena semua hal bisa jadi adalah candaan dan sudah saling mengenal karakter, tapi coba bayangkan bila sikap tidak beretika dan tidak menghargai keberadaan dan pendapat orang lain dilakukan dalam forum besar dengan peserta yang sebelumnya tidak berhubungan dekat bahkan belum mengenal satu sama lain.

Walau pun kondisinya pada suatu titik kita tidak sependapat dengan pendapat seseorang, lakukanlah teknik pengutaraan yang netral yang berdiri pada pijakan sendiri, karena mengikutsertakan unsur penekanan pada orang lain akan menggiring stigma yang bisa membunuh karakter orang tersebut di forum.

Pembunuhan karakter berakibat terpendamnya kebebasan dan kreatifitas karena sudah merasa minder dan merasa akan salah bila menunjukkan apa yang ia bisa atau pikirkan, sungguh berbahaya, bukan!

Konspirasi suara pun dilakukan dengan cara begini, pertama, menggiring sebagian forum untuk satu suara, kedua, membunuh pendapat lain yang berbeda sehingga akhirnya hanya ada suara tunggal, dan ini akan benar-benar merugikan secara psikis.

Jadi, jangan lakukan pembunuhan karakter ya (berucap pada diri sendiri)


Semarang, 04 Maret 2011
Qur’anul Hidayat Idris

sumber gambar : klik di sini

Related Posts by Categories

2 komentar:

Anonim Says:
Sabtu, Maret 05, 2011

ada sebuah pepatah tua yang sepertinya masih berlaku sampai sekarang, "tak kenal maka tak sayang". ketika kita belum mengena seseorang secara baik, seringnya kita memang akan menjudge setiap perilaku buruknya. saya hanya ingin menengahi, sebagai salah satu peserta rapat, saya cukup atau setidaknya tahu karakter "cewe" yang anda maksud, memang seperti itu karakternya, ditambah lagi ia berasal dari sumatra. lagipula, saya sbg salah satu peserta rapat baru tahu bahwa anda merasa "perkataannya" itu ditujukan pada anda. memangnya ia melihat anda ketika mengatakan hal tsb? saya sama sekali tidak menganggap karakter anda dibunuh, tapi ia sekedar menyela agar debat kusir tsb tidak terjadi. mungkin ada sedang sensitif saja :)

K3 Says:
Sabtu, Maret 05, 2011

setiap tulisan bagiku adalah pelajaran dan lebih ditujukan kepada diriku sendiri, (lihat kalimat tulisan terakhir). secara pribadi aku tahu itu ditujukan kepadaku, karena aku yang tengah mengajukan diri untuk berbicara seperti itu. ini pelajaran yang kuambil, karena kalau aku tidak mengenalnya,dalam posisinya dia pun tidak atau belum terlalu mengenalku, jadi ini ini lebih agar kita berhati-hati. terlebih saya tidak menyimpan kemarahan setelah itu, itu hanya permasalahan dalam rapat, dan kalau pun ada kesempatan bersua lagi, aku tidak akan mengimbaskan permasalahan.

sekali lagi, ini adalah pelajaran, dan aku belajar dari tulisan dan pengalaman..

terimkasih

Posting Komentar

Selesai baca, tinggalkan jejak ya!