TOMADACHI DAY di FIB Undip

Jumat, 18 Maret 2011
Share this history on :

Dua acara menarik hari ini sungguh menggoda. Pertama, presentasi PPAN (Pertukaran Pemuda Antar Negara) oleh Yoga Pratama yang diadakan oleh EDSA di gedung FIB, ruangan A.3.8 jam 13.30 WIB. Secara bersamaan di ruangan A.3.6 dan jam yang sama diadakan juga acara bulanan HMJ Sastra Jepang, Tomodachi Day. Sumpah, aku kebingungan mau ke acara yang mana.


Karena lebih dulu dimulai, aku masuk ke ruang presentasi PPAN. Beberapa program pertukaran pemuda lintas negara disajikan dalam slide yang terpampang di dinding ruangan. Pertama ICYEP (Indonesian-Canada Youth Exchange Program), program ini memberikan kesempatan kepada pemuda dari kedua negara dengan kisaran umur 18-23 Th. Program ini sangat luar biasa dengan durasi  7 bulan. Tidak hanya mengunjungi Kanada—bagi pemuda Indonesia, namun nantinya bergantian menemani pemuda Kanada mengunjungi salah satu daerah di Indonesia. Agenda ICYEP sangat membangun kepribadian dan lintas-budaya karena selain memerkenalkan budaya, peserta juga belajar budaya Kanada, pun sebaliknya.

Kedua, program PPIM (Pertukaran Pemuda Indonesia-Malaysia). Durasi pertukaran ini hanya 10 hari. Beda dengan ICYEP, peserta tidak melakukan program di kedua negara, namun kunjungan dilakukan ke salah satu negara tanpa melakukan program di negara sendiri. PPIM lebih menekankan pada edukasi, acaranya pun kebanyakan dalam bentuk diskusi.

Program selanjutnya adalah SSEAYP (Ship for South East Asia Youth Program). Sangat berbeda dengan dua program di atas yang dilakukan di daratan negara, maka SSEAYP dilakukan di dalam kapal pesiar, WOW!. Selama 3 Bulan, pemuda dari berbagai negara Asia berkumpul dalam satu kapal pesiar lalu menjelajahi lautan untuk kemudian beberapa waktu singgah di berbagai negara. Tentu keberbauran sangat dirasakan pesertanya, selama di dalam kapal mereka harus menaati peraturan serta jadwal ketat.

Terakhir adalah HNMUN (Harvard National Model United States), sebuah program mengunjungi Harvard University untuk melakukan simulasi rapat PBB, setiap negara mengemukakan permasalahan lalu mengajukan resolusi. Yang mendapat voting terbanyak, akan ditetapkan sebagai agenda perubahan. Yang menarik dari HNMUN adalah pemuda dari suatu negara tidak mewakili negaranya sendiri, namun mewakili negara lain yang sudah ditentukan. Contohnya, di HNMUN 2011 beberapa waktu lalu, perwakilan Indonesia mewakili negara Tajikistan.

Sayang seribu kali sayang, program di atas, selain HNMUN tidak bisa kuikuti karena keikutsertaannya bersifat provinsi kelahiran. Aku yang lahir di Bengkalis, Riau baru bisa mengikuti PPAN jika mengikuti seleksi di Riau. tapi tidak masalah, setidaknya aku bisa membagikan informasi ini ke teman-teman, lalu mencari indormasi PPAN di Provinsinya masing-masing.

Pukul 15.00 WIB aku keluar ruangan. Aku sudah merasa tidak mungkin untuk mengikuti Tomadachi Day, namun karena penasaran dan terlihat di ruangan acara masih ramai. Aku mengisi buku tamu lalu mendapatkan pita putih yang ditempel di lengan kanan sebagai aksi belasungkawa gempa Jepang.

TARAAA


Aku tidak menyangka di dalam ruangan, tepatnya di depan sudah berjejer 6 orang Pemuda/I Jepang yang sibuk menjawab pertanyaan dari mahasiswa. Baru aku sadar kalau acara ini menghadirkan tamu khusus, 6 orang mahasiswa Jepang.

MEREKA SANGAT RAKUS

Mahasiswa Jepang itu tidak sungkan melahap makanan Indonesia yang disajikan panitia, dengan lucunya mereka memerhatikan bentuk arem-arem lalu menggigit sambil menikmati lalu berkata ‘enaak’. Kudapan pun beberapa kali tukar ganti karena sudah habis tidak lama setelah dihidangkan. Mereka ternyata sangat ‘rakus’, hehe.

Paling lucu ketika salah satu peserta meminta mereka menyanyikan salah satu lagu Indonesia. salah satu yang cowo berdiri lalu mengatakan ‘Aishiteru’ yang kita tahu merupakan lagu Zivilia. Sayangnya yang bisa dinyanyikannya hanya bagian berbahasa Jepangnya, yang lainnya? Na na na na.. hehe

Mereka tidak bisa mengelak untuk berjoget Telunjuk ala Melinda saat panitia memutar lagu Cinta Satu Malam, jadilah ruangan heboh oleh tingkah lucu para mahasiswa Jepang tersebut. Terakhir, mereka mendapat bingkisan yang dibuka saat acara. Yang cowo mendapat blangkon dan cewe mendapat rok batik. Sekarang jadilah mereka Jawa-Jepang.

Semoga FIB Undip selalu dihiasi acara yang berbau budaya seperti ini dan seterusnya mahasiswa FIB yang bertandang membawakan budaya Indonesia ke luar negeri. Semoga aku salah satunya. (amin)


(sayangnya, kamera HP-ku rusak, jadi tidak bisa menangkap momen lucunya)

Semarang, 18 Maret 2011
Qur’anul Hidayat

Related Posts by Categories

0 komentar:

Posting Komentar

Selesai baca, tinggalkan jejak ya!