Dua Pasang Mata Hujan

Jumat, 13 Januari 2012
Share this history on :
Sumber Gambar

Wanita itu berdiri resah di depan jendela rumahnya. Ia menyentuh kaca yang lembab oleh tempias. Ia menggigit bibir. Tampilannya begitu cantik dengan kaos berwarna biru muda yang ia gantungkan di atas celana jeans  warna hitam. Rambut hitam sebahunya melambai ke belakang terkena hembusan angin yang masuk dari celah jendela. Ia menunggu, sampai hujan itu reda.

Kebiasaan itu sudah hampir 2 tahun hinggap dalam hari-harinya. Ini bulan Januari, apalagi. Hujan selalu hadir hampir di setiap waktu, kadang deras atau hanya tetesan kecil yang melembabkan jalan dan atap rumah. Sudah kali ketiga waktu hujan lelaki itu tak hadir di jalan depan rumahnya. Oh ya, aku lupa cerita, wanita itu punya alasan, yang setidaknya pantas dan wajar bagi dirinya. Awal September 2009, kala itu hujan begitu deras mengguyur sore yang redup. Ia menemui hujan kala itu, bergegas turun dari kamarnya di lantai dua melihat langsung percikan air yang bunyi jatuhnya memenuhi ruang pendengaran. Ia menatap lewat jendela, persis seperti yang sekarang ia lakukan.

Tiba-tiba ia melihat seorang pria berpayung berhenti di pinggiran jalan, membentuk sudut penglihatan yang menjurus padanya. Ah, tidak hanya itu, tapi tepat pada kedua matanya. Raut muka pria itu datar sekali, tapi matanya tak lepas menatap kedua bola matan wanita yang kini terpaku, diam. Sekitar lima belas detik momen itu berlangsung, pria itu sekejap menghilang dari batas pandang karena tertutup deretan pagar rumah. Wanita itu gusar, ia melihat ke kiri dan ke kanan memastikan keberadaan sosok pria tersebut. Ia tak menemui apa-apa. Tapi entah keyakinan dari mana muncul di benaknya bahwa pria itu masih mengintipnya dari luar.

Wanita itu keluar rumah, menikmati ketiadaan di bawah guyuran hujan.

Ia berharap kali keempat hujan pada sore hari itu pria yang ditungguinya muncul kembali. Ada kerinduan menyengatnya pada sosok yang tak pernah mengajaknya berkenalan itu. Oh, tidak, wanita itu meyakini mereka sudah saling kenal, lewat tatapan di kala air membatasi ruang pandang mereka. Ia tahu setiap kali Ia keluar berlari menerobos hujan, sosok itu sudah hilang dan Ia hanya mendapati jalanan kosong. Atau, beberapa orang yang kebetulan lewat meliriknya dengan tatapan heran. Mungkin orang-orang itu bergumam dalam hati, "Dasar wanita aneh!"

Tapi, wanita itu lebih senang dibilang aneh daripada harus menerima kenyataan kalau pria itu tidak akan pernah hadir lagi di matanya. Ia menggigit bibirnya, gusar!



Semarang, 13 Januari 2012
Qur'anul Hidayat Idris

Related Posts by Categories

2 komentar:

Patta Hindi Azis Says:
Minggu, Januari 15, 2012

hujan selalu menjadi penanda untuk berkarya, jadi ingat puisi SDD *hujan bulan juni...

menarik mas,

salam hangat

Kampung Karya Says:
Minggu, Januari 15, 2012

iya mas, hujan terkadang menginspirasi..

terimaksih kunjungannya..

salam hangat

Posting Komentar

Selesai baca, tinggalkan jejak ya!