Potret Musik Indonesia Masa Kini

Selasa, 24 Januari 2012
Share this history on :


Aku bukanlah seorang pengamat musik, juga bukanlah seorang pemain musik atau seorang penyanyi yang mampu menghibur banyak orang. Posisiku hanyalah sebagai seorang penikmat musik. Aku adalah objek dari musik yang seketika bisa bertindak sebagai subjek yang menilai. Musik tidak dibuat untuk musik itu sendiri bukan? Keberadaan penikmatlah yang membuat musik itu ada secara objektif. Lalu, berbicara masalah objektif kita kembali terbentur masalah zaman. Namun, jangan lupakan bahwa persoalan kualitas itu juga mempersoalkan masalah "ketahanan", "keberlangsungan", dan "citra" yang tebangun.


Sehari yang lalu aku menyaksikan sebuah acara musik di salah satu stasiun televisi. Sebenarnya secara tidak sengaja sih. Saat di rumah makan masakan Padang, kebetulan televisi di sana menyetel channel yang menyiarkan acara musik siang. Sekitar dua menit aku menikmati acara musik itu, yang tampil adalah band Kotak. Band yang digawangi Tantri cs itu selesai tampil. Jreng jreng, tiba-tiba musik berubah ceria, tak berapa lama kemudian 6 pria--aku terkadang ragu menyebut mereka pria--dengan pakaian warna "ngejreng" masuk panggung dan membentuk formasi yang menurut trend sekarang disebut "unyu-unyu". Aku juga tak mengerti maksud unyu-unyu itu, menurut pengamatanku jika cewe-cewe berteriak dengan mata berbinar, itu tandanya sedang terjadi momen tersebut.

Aku membatin, "halah ini mesti boyband yang pasang tampang doang!". Aku kembali khusyuk makan. Sial, televisi itu berbanding lurus dengan mata, aku akhirnya melihat kejanggalan. Wajah beberapa personilnya tak se-unyu yang kumaksudkan di atas. Dan, semakin di close up wajah personilnya aku mengingat sesuatu. "Sepertinya itu asistennya Uya Kuya sama anaknya deh!". Aku menajamkan pengamatanku. Ternyata benar. Dua orang personilnya adalah orang yang kupikirkan tadi. Lalu aku membatin lagi, "Sejak kapan jadi penyanyi?". Gampang sekali ditebak, mereka sedang lip sing. Rambut mereka dibuat a la Korea untuk "memaksa" keunyuan. Aku lanjut membatin, "Kaya begini masuk televisi nasional? ckck musik kita udah asal do re mi saja nih!"

Ini bukan masalah antiKorea atau boyband yang marak sekarang. Tapi ini masalah martabat musik Indonesia. Kita tahu bukan? Sebelum masa-masa ini, untuk menembus ke televisi nasional seorang penyanyi atau grup band harus "berdarah-darah" memperjuangkan bakat yang mereka miliki. Aku bukan pula menyebut mereka tidak berjuang dari awal! Bukan. Tapi, sejelek-jelek kualitas kuping, pasti tahu kalau suara mereka itu tidak bagus dan betapa lip sing itu menipu. Kuulangi sekali lagi. Menipu. Siapa pun bisa berlenggak-lenggok di atas panggung, joget sedikit, lalu tinggal mengkomatkamitkan mulut dengan mic yang off.

Aku ingat beberapa tahun belakangan ketika sebuah acara musik bernama Dahsyat baru muncul. Jika sedang libur sekolah aku selalu menonton acara tersebut. Efeknya, aku sangat cinta sama produk musik anak negeri. Lalu apa yang ada pada musik pada masa itu? Aku mengenal Peterpan, Dewa, Padi, Gigi, Slank, dan band-band baru muncul lainnya dengan kualitas yang "lumayanlah". Aku pun mengetahui betapa musik Indonesia waktu itu menguasai pasaran musik di Malaysia. Di Riau, untuk menangkap sinyal radio dari Malaysia itu sangat mudah. Apa yang kami dengar? Lagu dari Indonesia, bahkan ada sebuah acara yang khusus menampilkan lagu-lagu Indonesia. Band yang kusebutkan di atas, jadi primadona di sana.

Puncak kebanggaanku adalah ketika aku mendengar sebuah berita lewat radio kalau Pemerintah Kerajaan Malaysia marah besar dan menetapkan sebuah aturan pembatasan peredaran musik asing. Mudah ditebak, pihak Malaysia jelas gusar dengan lagu-lagu Indonesia yang lebih dicintai ketimbang musik mereka sendiri. Alhasil, peraturan itu berbunyi, peredaran musik asing hanya boleh 10% dan 90% adalah lagu-lagu karya Malaysia. Tapi apa yang terjadi? Radio-radio di sana tetap menyiarkan lagu-lagu Indonesia.

Aku sungguh menantikan penampilan-penampilan band yang kusebutkan di atas. Tidak hanya kualitas musikalitas yang bagus. Kata-kata mereka tidak "sampah", berkualitas dan maknanya tidak hanya, "Aku cinta kamu", "Aku tak bisa hidup tanpamu!". Aku bahkan tak mengenal begitu banyak band dari luar negeri, paling lagu-lagunya Westlife yang ditularkan oleh kakak. Aku merasa lagu Indonesia layak untuk dibanggakan. Dan, aku benar-benar bangga menyanyikannya waktu iu.

Tapi, aku sekarang seperti kehilangan jejak itu. Setelah Dewa vakum, Peterpan terkena masalah, Padi jarang tampil, dan Gigi pun terbilang jarang. Aku tak punya idola sama sekali, sama sekali! Aku bahkan sudah lama sekali tak pernah kepingin nonton acara musik yang dulu kugandrungi, paling hanya papasan ketika duduk di depan televisi. Itu pun yang kulihat bukan penampil di acara tersebut, tapi Olga yang bisa membuatku tertawa.

Efek Industrialisasi Berlebihan

Fakta di atas tak bisa kita lepaskan dari industrialisasi besar-besaran oleh media. Saat ini, untuk tampil di sebuah stasiun televisi, yang jadi soal bukanlah masalah bakat seseorang. Tapi "apakah ia bernilai jual?". Nilai jual di sini artinya banyak. Pertama, permasalahan kemasan (tampang). Kedua, seberapa besar ia mampu membuat sensasi yang mengundang perhatian banyak orang. Ketiga, kontroversi.

Kualitas? Itu soal yang tak terlalu signifikan. Perhitungan media yang "menjual" ketiga karakteristik tersebut adalah seberapa besar "penarikan minat pemirsa". Akhirnya kita kembali berurusan dengan kapitalisme media, mencari keuntungan sebanyak-banyaknya tanpa menghiraukan unsur-unsur "kelayakan" yang selama ini dipatuhi.

Apakah Shiren Sungkar bisa disebut sebagai seorang penyanyi berkualitas? Kurasa tidak. Lalu kenapa ia bisa tembus ke media? Jawabannya karena ia memiliki tampang, sudah punya penggemar, dan sesekali keluar dengan isu hangat. Tahu sendiri bukan kalau suara rekaman itu bisa menipu? Suara jelek pun bisa diperindah di sana. Lalu, itu sudah cukup menjadi modal. Selanjutnya kan lip sing.

Kaum Muda yang Tersedot Trend

Alasan lain kenapa mekanisme pasar musik seperti di atas mudah sekali diterapkan di negeri kita ini, tak lain tak bukan adalah "mabuk trend" kalangan muda kita. Pandangan mereka, apa yang trending di televisi adalah sesuatu yang wajib mereka ikuti. Kalau tidak, "Ah, lo gak gaul cuy!".

Pasar tidak akan bisa berbuat banyak jika penonton, khususnya kalangan muda cerdas dalam menilai objek bergerak mau pun nongerak yang dipampangkan ke hadapan mereka. Pasar akan mati kutu karena strategi mereka tak berjalan dengan baik.

Sayangnya kalangan muda kita sangat mudah "mabuk trend" yang berubah setiap bulannya. duh.


Aku rindu dengan musik Indonesia yang berkualitas. Aku rindu dengan musik Indonesia yang dicintai sampai ke luar negeri. Aku rindu musik Indonesia yang bermartabat. Aku rindu hapal banyak lagu-lagu Indonesia seperti dulu lagi.


Kau?


Semarang, 24 Januari 2012
Qur'anul Hidayat Idris (QHI)
pengamat hal kecil


gambar di ambil dari sini

Related Posts by Categories

32 komentar:

Uswah Says:
Selasa, Januari 24, 2012

aku juga mirisss banget liat musik indonesia skrg, band2 karbitan,, band yang cuma bermodal tampang cakep doang, artis2 sinetron yang aji mumpung ikut2an nyanyi tapi maksa, boy n girl band yang bisanya cuma salto2 doang dengan suara pas2an... seni musik di indonesia makin meredup, makanya aku lebih suka musik luar negri yang masih memiliki nyawa, musik indonesia bisa dihitung...

aku sepakat dgn kutipan di atas

"Aku rindu dengan musik Indonesia yang berkualitas. Aku rindu dengan musik Indonesia yang dicintai sampai ke luar negeri. Aku rindu musik Indonesia yang bermartabat. Aku rindu hapal banyak lagu-lagu Indonesia seperti dulu lagi."

Uswah Says:
Selasa, Januari 24, 2012

horeeee PERTAMAX :D

Kampung Karya Says:
Selasa, Januari 24, 2012

@Uswah: begitulah Uswah, artikel ini sudah lama kutahan. Karena sudah benerbener sumpek karena kejadian di atas.. makanya akhirnya kutulis juga.. yeeyyeye pertamaxx hehe

Uswah Says:
Selasa, Januari 24, 2012

hehehee... kapan hari juga sempet nulis miriskutentang maraknya boy n girlband... makanya aku males banget nonton tivi,,, kamarku uda steril dari televisi,, yang ada cuma laptop n dispenser buat bikin kopi n surfing internet teruuus,,, rijikkkk... hehehe

Kampung Karya Says:
Selasa, Januari 24, 2012

@Uswah: bener Uswah, sejak laptop dan buku jadi kekasihku, aku lebih asyik dengan mereka sekarang ini.. oh ya aku suka orang berprinsip, tidak "mabuk trend".. mana postingan barunyaa?? hehe

'Kaito' Pasca Driyarkara Says:
Selasa, Januari 24, 2012

seetuujjuu.... saya setuju sekali maas.... itu yang membuat saya kadang langsung mematikan TV.... tdk peduli dg apa yg orang bilang.... saya belum menemukan boyband/girlband yang bisa dibilang cukup, apalagi bagus.... tapi bagaimanapun jg, kita harus bisa menghargai mereka (walaupun terpaksa).... kemdian, bgimana pndapat mas admin ttg ST12 ?? sy setiaku.... ^_^

Kampung Karya Says:
Selasa, Januari 24, 2012

@Kaito Pasca Driyarkara: bener mas, saya sekarang jadi males nonton tivi. nonton paling acara bola atau acara berita.. Kalau ST12 menurut saya lumayanlah, cuma makin kesini sebelum bubar itu agak berubah dari musik mereka ketika awal muncul.. awal mereka muncul saya suka lho.. thanks ya

Ririe Khayan Says:
Selasa, Januari 24, 2012

senada dengan pernyataan miris yg di uaraikan, efek trend dan industriliasasi sdh melunturkan kualitas musik di negeri ini. GGrup musik/penyanyi datang silih berganti seperti jamur di musim hujan...(eh, jamur ada kan di musim hujan?)

Kampung Karya Says:
Selasa, Januari 24, 2012

@Ririe Khayan: hehe. jamur musim lembab.. ya, menyedihkan sekali bukan?

Mama Olive Says:
Selasa, Januari 24, 2012

Aku suka Musik..
Dan penikmat musik juga..

Kampung Karya Says:
Selasa, Januari 24, 2012

@Mama Olive: sama penikmat

eksak Says:
Selasa, Januari 24, 2012

kang QHI lan mbak Uswah, kok dadi misah-misuh ki lho? gmn pun penilaian org, mreka ttp bagian musik indonesia. biarpun ala korea, ala jepang, ala arab, ala barat, ala chef farah quin, mrk ttp atas nama indonesia.

coba kita dikasih kesempatan maju ke dpan (pasti gk ke blkang) terserah kita dong, kita mau nampilin apaan? mungkin kita gk lebih baik dari mereka, gk lebih bruntung! tp perjuangan ttp ada, dan kita gk tau smuanya kan?

atau mungkin kita ngerasa lebih bisa dri mereka? dadi wong iku mbok ya biso rumongso, ojo rumongso biso! belum tentu kan kita lebih baik dri mereka?

ane bukan fans atau penggemar mereka. tp ada cara apresiasi yg lebih baikkah drpd muna-muni sing gak genah?

buset! ngomong apaan ane dr tadi? maap kalo gak berkenan! :)

eksak Says:
Selasa, Januari 24, 2012

komenku gak metu ig! :(

Kaito Kidd Says:
Selasa, Januari 24, 2012

selesai baca, tinggalkan jejak ya

covalimawati Says:
Selasa, Januari 24, 2012

aku sbnrnya jg suka yg unyu2 gt, tp yg suaranya jg bagus, musiknya jg oke. Bukan yg sekedar unyu tampangnya doank, tp suaranya ancur. Yg kek gt mlh keliatan dipaksakan, 'n malah bikin malu ngliatnya.

jiah al jafara Says:
Selasa, Januari 24, 2012

ayo yg berkualitas tunjukkan gigi :D

Si Galau Says:
Selasa, Januari 24, 2012

q juga sama sob..
moga cepat ato lambat musik indo bisa menemukan jati diri mreka lagi :)

Kampung Karya Says:
Selasa, Januari 24, 2012

reme nih
@Eksak: dari awal kalo kamu cermat membaca, sudah kujelaskan tulisan ini bkan karena saya anti sama mereka. Tapi, saya melihat dari sudut pandang "dampak mereka terhadao musik kita". Kalau memang mereka bisa bagus, insyaallah akan saya dukung, dan itu memang bisa terbukti karena kualitas mereke emang keren, suara aduhai. Disini yang saya soalkan ketika tampang menjadi hal nomor 1 di negeri kita. Coba lihat artis luar, mereka punya tampang tapi juga bersuara bagus, juga banyak yang kulihat tampangnya biasa aja tapi tetap oke.. Jadi, yang kukhawatirkan "demam trend" ini membuat negeri kita semakin latah. Akhirnya, kita tak punya jati diri lagi... mohon koreksinya.. Saya malah senang ada diskusi seperti ini..

Kampung Karya Says:
Selasa, Januari 24, 2012

@Kaito Kidd: terimakasih buat jejaknya
@Covalimawati: paham, baca komenku di atas ini. Aku juga bakal dukung kalo mereka bener" berbakat dan mampu menunjukkannya..
@Jiah: #nutup idung haha
@Si Galau: Insyaallah, untuk merubah itu harus ada kritik dari kita sebagai penikmat, bukan asal ikut demam saja..

Hana Ester Says:
Selasa, Januari 24, 2012

Mending kayak aq mas, menjauhkan diri dari jangkauan TV.
Da lama bgt ga natap tipi lagi,,
hahahhahaha

alaika abdullah Says:
Selasa, Januari 24, 2012

uraian yang bagus dan menarik sekali kawan.... :-)
aku sih bukan pecinta musik manapun.... habis kebanyakan yang diputar di televisi melulu urusan cinta.... baju seksi kurang bahan, yang cowok tampang dan gayanya malah kebanci-bancian... makin ga suka deh nonton acara music... walau ada beberapa yang aku suka dengarkan jika sedang mengemudi, itupun dari radio, begitu lirik dan iramanya nyeleneh, langsung tune into gelombang lainnya...

benar katamu mas... kualitas musik kita sekarang ini semakin memprihatinkan, ikut-ikutan... mutu bukan lagi hal utama... sungguh menyedihkan ya?

Kampung Karya Says:
Selasa, Januari 24, 2012

@Hana Ester: haha.. saya pun kalo nonton ya kebetulan kaya di rumah makan itu, ato nonton bola.. :)

Kampung Karya Says:
Selasa, Januari 24, 2012

Alaika Abdullah: terimakasih kunjungannya mbk.. Karena alasan itu juga saya jadi semakin prihatin mbk. Musik Indonesia bahkan sudah semakin tak dicintai di tanahnya sendiri. :)

Stupid monkey Says:
Selasa, Januari 24, 2012

yep, banaer sob, "bukan membetulkan komentar yang rusuh diatas ya"

Pejuangan dulu bila ingin bisa menjadi band yang dikenal saja berat banget,"pernah ngerasaain soalnya", tapi sekarang???

Musikalitas dalam negri sedang bedmood kalo kata saya sih. saya sendiri masik tertarik mendengan msik2 jadul, seperti Power metal, boomerang, jamrud, dewa dan sejamannya deh. atau musik era 80'an, saat mereka masih unyu2, hehe ^_^

Kampung Karya Says:
Selasa, Januari 24, 2012

@Stupid Monkey: thanks kunjungan dan komentarnya sob. Yup, saya saja tuh gak ada koleksi lagu tahuntahun ini. Malah masih seneng dengan Dewa, Padi, dkk... gimana ya dengernya tuh gak sekadar bikin musik aja mereka. Ada musikalitas, seperti yang disebut mas bro.. Ouh ternyata dulu anak band juga? mesti unyunyu hehe

'Kaito' Pasca Driyarkara Says:
Selasa, Januari 24, 2012

waah.. mas... kalau nnton bola, sy jugaa.... saya madridistaa.... ^_^

Kampung Karya Says:
Selasa, Januari 24, 2012

@Kaito: Saya JUVENTINI mas.. toss

Marisa Agustina Says:
Selasa, Januari 24, 2012

aku juga ikut bingung dengan musik indonesia jaman sekarang ... :D

Kampung Karya Says:
Selasa, Januari 24, 2012

@Marisa: hehe sya juga bingung

Christopher Dennis Says:
Rabu, Januari 15, 2014

Saya benar-benar setuju dengan ini. Seni yang harusnya ada pada musik sudah mulai ditinggalkan... Padahal Musik Indonesia tidaklah buruk, dan bahkan saya dapat berkata bahwa musik Indonesia merupakan musik yang berkualitas tinggi. Namun sayang sekali, para "artis" Indonesia seperti yang dibicarakan di artikel atas sudah merusak citra musik Indonesia, sehingga musik Indonesia sering dipandang sebagai musik plagiat.

Anonim Says:
Jumat, Februari 28, 2014

Musik jaman skarang jauh lbh buruk d bndingkan dngan dekade 90an,dmana waktu itu banyak muncul band2 dngn warna musik n ciri khas yg brbda2 pada tiap grup band,mski rata2 hnya 1 ato 2 lagu yg menjadi andalan tp tetap smp skarang msh enak bwt d dngr krna memang kualitas brmusik lbh mumpuni,tp skr coba lihat,jgankan lagunya,grup bandnya pun saya ga pernah dngr,yg tau2 muncul dan terlalu dipaksakan dmi ketenaran mski musik n vokalnya trbilang parah,plagiat,jual tampang n latah/ikut2n,shngga trkesan kaku,malah mengacaukan karakter2 band,yg dlunya brkualitas malah jd ikut2n lebay,,tp anehnya laku pula,,bwt q tetep lagu2 jaman dlu yg lbh easy listening,kalo lgu2 skr muncul sminggu stlh it hlg,,,

maschun Says:
Rabu, Desember 10, 2014

merindukan lagu indonesia ygn karya asli bukan copy paste

Poskan Komentar

Selesai baca, tinggalkan jejak ya!