[#FikTwit] PRELUDE: (fragmen 3)

Kamis, 13 Desember 2012
Share this history on :

fragmen 2 klik di sini

Dengan tergagu aku menolehnya dan kudapati ia sedang tersenyum. Aku tahu ia tak lupa ingatan atas apa yang telah kulakukan padanya kemaren malam. Senyum itu membuatku semakin sadar bahwa ia menyimpan semua sakit yang ia rasakan. Ia tak pernah protes. “Kamu nggak sarapan?” Aku coba membalas senyumnya dengan perasaan yang masih bercampur aduk.

“Aku nanti saja, Mas duluan!” Masih dengan senyumannya ia kemudian berjalan menuju ruang tengah. Reflek aku menangkap tangannya dan ia terhenti. Ia melihatku heran dan dalam sekejap hilanglah semua kata-kataku. Aku melepas tangannya lalu berlagak sibuk mengambil nasi goreng ke piring. Ya, pagi itu kata maaf sama sekali tak keluar dari mulutku. Bahkan sampai sekarang.
***
Pukul 15.30. Aku menatap ponselku yang tergeletak di atas meja kerja. Tidak biasanya aku begitu segan meneleponnya. Sudah dua kali benda berlayar sentuh itu aku ambil kemudian kutaruh lagi. Entahlah, aku jadi seperti orang yang sedang mengikuti sebuah lomba. Gugup. Aku bahkan jadi sedikit waras dengan berpikir, tidakkah pertanyaanku tentang jam mandinya malah membuatnya muak karena sudah ribuan kali kutanyakan? Aku mengacak rambutku sejadi-jadinya. Aku sepenuhnya bingung dengan yang tengah terjadi padaku. Bukankah selama ini aku hanya menganggap peristiwa pukul 15.30 itu hanyalah sebuah keisengan semata?
Selebihnya aku tetaplah orang yang masih tak bisa mencintainya. Tak dapat dihindari, dalam hatiku mulai muncul perasaan bahwa sebenarnya yang kuyakini selama ini sudah berputar, berbalik 180 derajat. Tapi entah kenapa perasaan itu selalu ingin kututupi sedalam mungkin.
Mungkin Kemal tepat menggambarkan perasaanku. “Kau  itu mencoba superior terhadap yang kau rasakan. Terlebih sebagai seorang laki-laki!” Itu diucapkannya suatu hari saat aku tak tahan lagi memendam rahasiaku sendirian. Kemal adalah teman akrabku di kantor.
Mendengar kata-katanya, jujur aku agak tersinggung, sebagai seorang laki-laki. Tapi belakangan aku menyadari yang dikatakan Kemal ada benarnya. Aku terlalu gengsi mengakui rahasia sebenar perasaanku. Untuk mengakui kegengsian itu pun, aku kelewat gengsi.
Aku mendapatkan keyakinan. Tanganku segera menuju ponselku, persetan dengan apa yang mesti kuucapkan padanya. Tapi aku terhenti seketika karena ponselku tiba-tiba berbunyi dan lampunya nyala mati-nyala mati. Mataku langsung tertuju ke layarnya, di sana tertera nama yang memanggilku, Dia. Ya itu nama kontak istriku.
(bersambung cuy!)

Bagi yang ingin menikmati karya ini secara berkelanjutan dan lebih mudah tahu apabila ada cerita telah terupdate. Silakan gabung ke page di fb (KLIK DI SINI). Saya akan mentautkan ke sana. Terimakasih!

oleh Qur'anul Hidayat Idris alias @Bang_Dayyy

ilustrasi terlalu bagus, jadi tak terdefinisikan :D :D



Related Posts by Categories

5 komentar:

obat tumor ganas Says:
Senin, Desember 17, 2012

ikut menyimak gan, salam kenal

solusi mengobati penyakit Says:
Jumat, Februari 15, 2013

nice info gan ,, salam kenal

distributor jelly gamat gold Says:
Jumat, Februari 15, 2013

ikut menyimak postingan anda

obat sinusitis Says:
Jumat, Februari 15, 2013

artikelnya menarik, sukses selalu

Putri Devina Says:
Sabtu, Februari 28, 2015

hahaha seruu pas mau telpon , malah keduluaan .. bagaimana kan selanjutnyaaaaa....

Posting Komentar

Selesai baca, tinggalkan jejak ya!