Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
13 Tiga Anak Hati
Diposting oleh
Kampung Karya
Rabu, 14 Maret 2012
Label: seni, puisi, artikel, cerpen, esai
Kataku,
puisi
13
komentar
0 BEBERAPA SESAJI BUATMU
Diposting oleh
Kampung Karya
Jumat, 04 Februari 2011
Label: seni, puisi, artikel, cerpen, esai
puisi
0
komentar
mari berlabuh di sebait puisi
mendendangkan luka-luka lama
tanpa beranjak
kita mencabuti akar perindu
yang kau tanam tanpa ampu
mari berlabuh di sebait puisi
tikam tikam yang dalam
di dadaku
ada sebatang dadamu
(malam) rindang
dan parang tergenang
mari melabuh di sebait puisi
di sampan kita bercinta
melihat siluet dosa-dosa
merampungkan iman yang terjera
menampung air langit mata
kita
adalah kembali dosa
saat bercinta
mari melabuh di sebait puisi
dari panca
ke yang bukan setya
kita redam amuk di jalan
seperti lagu luka saat sesat tersesat
'kemana bau hujan?'
disana hanya redam
darah redam
berwarna legam
meri melabuh di sebait puisi
mencandu cumbu tubuhmu
menghirup aroma kopi kesadaran
'kita tak semakin kokoh berada di tembok'
dan jelata
akan menjadi rata oleh tanah
sebab kematian
hanya soal singgah
mari terlabuh di sebait puisi
dan kita terjaga
kala malam belum usai
bertanya, "kapan bulan ke perutmu!"
mari terlabuh di sebait puisi
meneroka lebam di bibirmu
yang memberkas bibir
aku terkilir
.
.
mari kucium kau sekali lagi
ditengah percintaan penuh dosa
(puisi)
Semarang, 04 Februari 2011
Qur'anul Hidayat Idris
1 Dan Memang, Garuda Itu Milik Bangsa dan Yang Memperjuangkannya
Diposting oleh
Kampung Karya
Rabu, 15 Desember 2010
Label: seni, puisi, artikel, cerpen, esai
puisi
1 komentar
kau terbanglah jauh mengambil tabuh sayap di tanah ribuan pulau, dengan luka apa kami menyebut yang tersiksa oleh anak bangsa sendiri. Kusertai keranda di bola matamu tapi kau lagi berkata "aku pada yang memiliki, pada nakhoda sayap dan limpahan tumpah tanah, hutan dan laut yang ricuh" lalu jalan yang melapang bukankah telah tumbuh di ujung persengajaan yang rindang? aku mengenal yang bukan kata, aku mengenal yang bukan frasa bahkan aku tak tahu kapan tubuhku mereduplikasi menjadi ganda.
ah, sesungguhnya aku hanya bahasa
hutan fona
inilah leksem
kompositori yang mahir menjemput kompleks tubuh--terikat
atau simpleks yang bundar
sayap
sayap dari kau garuda
adalah fona, leksem bahasa tubuh bangsa
ah, sesungguhnya aku hanya bahasa
dan memang, garuda itu milik bangsa
dan yang memerjuangkannya
Semarang, 15 Desember 2010
Qur'anul Hidayat Idris
0 Jantungku Masuk Ke Gelas Kopi Pagimu
Diposting oleh
Kampung Karya
Senin, 04 Oktober 2010
Label: seni, puisi, artikel, cerpen, esai
puisi
0
komentar
I/
sudah kita jelajahi rawa-rawa berpelita redup ujung pengandaian
menebak berapa sisa peradaban remuk di tumit dan lengan
di setiap Mesolitikum kutemui parau
sebentar dentang di ujung darah meracau
bukan aw tapi AW
kau telah membaca
belajarlah pula cara lupa
II/
kita bukan tersesat
semata hilang mencekau ruparupa karat
pemberhentian hanyalah kursi
ada apa dibalik dada
jantung, disebaliknya
daging, lalu?
pembuluh, terus?
kopi-kopi berwarna malam
yang kita minum tiap selepas bermakam
III/
aku ingin mengambilmu
sebagai arteri dan ragi
IV
aku menatap neolitikum
orang berwajah ladang dan sawah
asyik meminum
kembang bermadu darah
tak puas, kucampur
di kopi
dadamu
V
menukar beberapa jantung
menampik tuduhan waktu pada masa sulung
HaWe, 041010
Qur'anul Hidayat Idris
0 OASIS PERJALANAN V
Diposting oleh
Kampung Karya
Minggu, 12 September 2010
Label: seni, puisi, artikel, cerpen, esai
puisi
0
komentar
RUMAH
lempung dalam takaran jemarimu
menata sisi dan beberapa gambar mata
kau jerat semesta
di jagat kau carikan aku 7 malam
tanpa derai
coba membaca ngarai
disanalah tempatmu
menjadikan patri
sebelah kamar membelah sungai
dan membangun sebuah rumah
:kita
MALAM KE-7
kuciumi diammu
entah kenapa, dimalam ke-7
genangan apa kasih?
bukankah sudah kubuat rawarawa
disanalah kita susur jalan perit
dilembat tungku dan perapian pahit
entah kenapa, di malam ke-7
kau membawaku rajuk
tak mempan kubujuk
ah,
VAS
kau suka vas oranye di simpang sebelah perempatan itu, ya
aku tahu
akan kumasak matangmatang di bibirku
kupasang di keningmu
setelah tumbuh bunga
kusemai di depan rumah
setiap hari, kan kau lihat airmataku menyiraminya
Bengkalis, 7 September 2010
terakhir 15.22
Qur'anul Hidayat Idris
lempung dalam takaran jemarimu
menata sisi dan beberapa gambar mata
kau jerat semesta
di jagat kau carikan aku 7 malam
tanpa derai
coba membaca ngarai
disanalah tempatmu
menjadikan patri
sebelah kamar membelah sungai
dan membangun sebuah rumah
:kita
MALAM KE-7
kuciumi diammu
entah kenapa, dimalam ke-7
genangan apa kasih?
bukankah sudah kubuat rawarawa
disanalah kita susur jalan perit
dilembat tungku dan perapian pahit
entah kenapa, di malam ke-7
kau membawaku rajuk
tak mempan kubujuk
ah,
VAS
kau suka vas oranye di simpang sebelah perempatan itu, ya
aku tahu
akan kumasak matangmatang di bibirku
kupasang di keningmu
setelah tumbuh bunga
kusemai di depan rumah
setiap hari, kan kau lihat airmataku menyiraminya
Bengkalis, 7 September 2010
terakhir 15.22
Qur'anul Hidayat Idris
0 OASIS PERJALANAN IV
DEBUR
bulan merebah mamah di pangkuanku
diujung lidah pantai
kusemai butir doa
terserah pada bakau
dan liangliang derita
'di semak aku mengutip sepadan jalan,
mendarat tak tepat di sampan''
diujung lidah pantai
hikayat jatuh menyebut tapak lapuk
kakikai pemijak usang berlinang timang
'doi, nak!"
ditatap seratap bekap
bulan lagilagi menampik kedatanganku
padanya berpuluh putar getar jam
jaman
dan semua taman pengikatan
'di semak aku mengutip sepadan jalan,
kapan bulan mendaratkan sampan?'
HIKAYAT SAMPAN
berkata sebab itu rebab dibunyi nampan
tang tang
seperti bocor yang asin
badanbadan laut terhenti membangun sauh
di tangan beberapa nelayan
singgah berbutir ketam dan anakanak tanah
di bocor yang mulai ubin
kilap tersarap ayat miskin
bersurah jejal saat airmata bertampin
melempar pukat
melempar jerat
tang tang
rebab dibunyi
nampan dan serongkeng
membentuk wajah berdada pasir
tempat henti
yang jauh di tunai kayuh
SAUH
di atap
tubuh berendam
mengembang menjadi bukan bunga
bukan raga
sebenar kusam yang jaga
putih menghitam
melayang
layang
melayang
:layang
poripori campak ke gigitan
di eluh yang aduh
ada senyum mengembang
:sayang
melayang
berkali
layang
tinggi
ah, bukankah tak pernah berhenti
ATAS BAWAH
dimuka lupa
tertenteng sebadan kemban
lamat tersentap badan bulan
untuk ini malam jadi santapan
Bengkalis, 06 September 2010
terakhir di 12.27
Qur'anul Hidayat Idris
bulan merebah mamah di pangkuanku
diujung lidah pantai
kusemai butir doa
terserah pada bakau
dan liangliang derita
'di semak aku mengutip sepadan jalan,
mendarat tak tepat di sampan''
diujung lidah pantai
hikayat jatuh menyebut tapak lapuk
kakikai pemijak usang berlinang timang
'doi, nak!"
ditatap seratap bekap
bulan lagilagi menampik kedatanganku
padanya berpuluh putar getar jam
jaman
dan semua taman pengikatan
'di semak aku mengutip sepadan jalan,
kapan bulan mendaratkan sampan?'
HIKAYAT SAMPAN
berkata sebab itu rebab dibunyi nampan
tang tang
seperti bocor yang asin
badanbadan laut terhenti membangun sauh
di tangan beberapa nelayan
singgah berbutir ketam dan anakanak tanah
di bocor yang mulai ubin
kilap tersarap ayat miskin
bersurah jejal saat airmata bertampin
melempar pukat
melempar jerat
tang tang
rebab dibunyi
nampan dan serongkeng
membentuk wajah berdada pasir
tempat henti
yang jauh di tunai kayuh
SAUH
di atap
tubuh berendam
mengembang menjadi bukan bunga
bukan raga
sebenar kusam yang jaga
putih menghitam
melayang
layang
melayang
:layang
poripori campak ke gigitan
di eluh yang aduh
ada senyum mengembang
:sayang
melayang
berkali
layang
tinggi
ah, bukankah tak pernah berhenti
ATAS BAWAH
dimuka lupa
tertenteng sebadan kemban
lamat tersentap badan bulan
untuk ini malam jadi santapan
Bengkalis, 06 September 2010
terakhir di 12.27
Qur'anul Hidayat Idris
0 OASIS PERJALANAN III
Diposting oleh
Kampung Karya
Rabu, 01 September 2010
Label: seni, puisi, artikel, cerpen, esai
puisi
0
komentar
TEDUH
disana tempat semua berujung
danaudanau berpalung
selat terlarung
hingga airmata terpasung
datang itu menyeduh kopikopi pekat
berapa gelas, atau segelas berserat
:malam lengah
dentang dipan kehabisan peradu
menunggu secarik ampunan
teduh di pasir nadi
teduh di jalan menuju sunyi
KERUH
sekawanan nyawa melenggang
namun tak sedikit berlalu terbang
lalu tambatanmu dimana?
nyawa yang penuh
menyesak sentuh tergaduh
keruh
sekawanan nyawa melenggang
namun tak sedikit berlalu terbang
lalu pelabuhanmu dimana?
apa sebatas pandang
lewat dan tak tepat menghitung gersang
(sekedar) tumbang
sekawanan nyawa melenggang
namun tak sedikit berlalu terbang
lalu singgahmu dimana?
kelana tak perih
hanya rupa gerai tak putih
berpuring pedih
LEPUH
dilangit
tersulam peta perjalanan
ke teduh
ke keruh
atau lepuh
dilangit
tersulam abstraksi kehidupan
realitakan
bumikan
ditanah kau berperan
aktor
pengatur selangkah
papan panggung
atau berhenti di cenung
bingung
Bengkalis, 01 September 2010
Qur'anul Hidayat Idris
disana tempat semua berujung
danaudanau berpalung
selat terlarung
hingga airmata terpasung
datang itu menyeduh kopikopi pekat
berapa gelas, atau segelas berserat
:malam lengah
dentang dipan kehabisan peradu
menunggu secarik ampunan
teduh di pasir nadi
teduh di jalan menuju sunyi
KERUH
sekawanan nyawa melenggang
namun tak sedikit berlalu terbang
lalu tambatanmu dimana?
nyawa yang penuh
menyesak sentuh tergaduh
keruh
sekawanan nyawa melenggang
namun tak sedikit berlalu terbang
lalu pelabuhanmu dimana?
apa sebatas pandang
lewat dan tak tepat menghitung gersang
(sekedar) tumbang
sekawanan nyawa melenggang
namun tak sedikit berlalu terbang
lalu singgahmu dimana?
kelana tak perih
hanya rupa gerai tak putih
berpuring pedih
LEPUH
dilangit
tersulam peta perjalanan
ke teduh
ke keruh
atau lepuh
dilangit
tersulam abstraksi kehidupan
realitakan
bumikan
ditanah kau berperan
aktor
pengatur selangkah
papan panggung
atau berhenti di cenung
bingung
Bengkalis, 01 September 2010
Qur'anul Hidayat Idris
0 SEMPAT AKU MENYESAL MENGETAHUI ADA BIBIT CINTA DIHATIKU YANG SECARA TIBA-TIBA MEMBESAR DAN KUPOTONG PUN IA REINKARNASI
Diposting oleh
Kampung Karya
Rabu, 23 Juni 2010
Label: seni, puisi, artikel, cerpen, esai
puisi
0
komentar
apa yang tegoreslukis di beranda kau duduk
mengambil kanvas
menggenanginya berkuas-kuas
dan cat yang lupa warna
juga helai yang terbang
tak serupa aku,
karena secara tibaba ada bibit cinta
dihatiku
membesar
sempat kupotong dan maki hamun berlarian bersama angin
sebagai kesakitan
dan aku pesakitan yang menua di tempat semakin hilangnya kau dan menghilanglenyapnya kau
bahkan lebih lagi
KAU
:bukan aku
TAPI
ada yang reinkarnasi
menjadi bibit yang semakin menghutan dihatiku
memanggil rintik dan menghujani cinta yang lebih mekar
aku
tak bisa mengerti
kenapa ketika itu kau bakar kanvasmu
tunggu-tunggu
tak mengapa kau bakar ia
tapi kenapa beserta hatiku dan segenap isinya
aku tak habis pikir
Tembalang-Semarang, 23-Juni-2010
Qur'anul Hidayat idris
mengambil kanvas
menggenanginya berkuas-kuas
dan cat yang lupa warna
juga helai yang terbang
tak serupa aku,
karena secara tibaba ada bibit cinta
dihatiku
membesar
sempat kupotong dan maki hamun berlarian bersama angin
sebagai kesakitan
dan aku pesakitan yang menua di tempat semakin hilangnya kau dan menghilanglenyapnya kau
bahkan lebih lagi
KAU
:bukan aku
TAPI
ada yang reinkarnasi
menjadi bibit yang semakin menghutan dihatiku
memanggil rintik dan menghujani cinta yang lebih mekar
aku
tak bisa mengerti
kenapa ketika itu kau bakar kanvasmu
tunggu-tunggu
tak mengapa kau bakar ia
tapi kenapa beserta hatiku dan segenap isinya
aku tak habis pikir
Tembalang-Semarang, 23-Juni-2010
Qur'anul Hidayat idris
0 Meniti Jarah Sesaku Rumah
Diposting oleh
Kampung Karya
Minggu, 30 Mei 2010
Label: seni, puisi, artikel, cerpen, esai
puisi
0
komentar
masih meniti jarahkah
disaku rumah, hamparan tadah yang ruah?
lalu sembah atau simbah
darah bisu
dipelataran tunggu kau melipat rindu
membungkus
dan menguburnya ditanah
kerontang oleh basah
masih meniti jarahkah
disaku rumah, hamparan tadah yang ruah
letakkah itu batu
dimatamu
atau dirayu
tapi jangan pada raguku
sudah penat
ia memepat
di rekat
dan pesan yang mengawat
itu, kau
yang maui
bukan tanganku mengasah parang secarik pagi
masih meniti jarahkah
hamparan tadah yang ruah?
disitulah kembali
aku setengah mati
Tembalang-Semarang, 30 Mei 2010
Qur'anul Hidayat Idris
0 Tak Seromantis Air
Diposting oleh
Kampung Karya
Selasa, 06 April 2010
Label: seni, puisi, artikel, cerpen, esai
puisi
0
komentar
aku mengakui
sentuhanku tak seromantis air
yang membelai batu
hingga lena
dan terkikis sampai habis
aku menyadari
pandanganku tak seromantis air
yang menjadi cermin bagi karang
lalu mengelupasinya
tanpa mata dan rupa
aku sanggup mengata
sunyiku tak seromantis air
yang tenang waktu siang
menggenggam malam dengan pasang
bergelombang
aku sudah mencatat
rengkuhanku tak seromantis air
yang mengabarkan sebuah langit lain
lalu berubah tawar dan asin
pada dua buah samudera
aku sudah mendikte
sari hidupku tak seromantis air
yang jadi perisai hidup
kenaifan berlaku
padanya larut dan surut
aku, lalu menggambar
lukisanku tak seromantis air
yang mengajak sekawanan burung
lalu bersama bersenda ria
di tengah samudera yang mencinta
aku sudah mengakui itu
namun,
bila aku jadi air
tak ku kikis kau sampai habis
tak ku kelupasi wajah dan rupamu
tak ku gelombang kau di malam-malam
tak ku adu kau pada dua samudera
tak ku naifkan pada larut dan surut
tak ku senda kau bersama burung melata jalang
aku memang tak seromantis air
tapi aku lebih mencintaimu daripadanya
Tembalang-Semarang, 05-04-2010
02.45 (disubuh aku mengelana)
Qur'anul Hidayat Idris
0 Mari! kita beternak mimpi
Diposting oleh
Kampung Karya
Selasa, 23 Maret 2010
Label: seni, puisi, artikel, cerpen, esai
puisi
0
komentar
tidakkah kau iri
dengan muka koreng
dada berdaki
juga celana pesing
ia tetap merebus mimpinya
asapnya mengepul
lama-lama mulai beraroma panggilan
"larilah"
tidakkah kau iri
sambil beringsut dan meniti
ia berlari
terengah, namun bibir tergantung senyum
sarapannya hanya sepiring mimpi rebus
masih berasap, ngepul
mengajaknya bercinta
sungguh ia telah menjadi seorang wirausaha mimpi
mimpi rebus menjadi tulang dan darah
mari! kita beternak mimpi
carilah bibitnya dengan kau mulai berlari
ingat, jangan lupa mimpi rebus
lalu letakkan bibit itu semeter didepanmu
jangan, jangan pernah kau meraihnya
sebelum
kau benar-benar berlari
saksikanlah
kambing mimpimu yang mulai besar
larinya semakin cepat
pakailah energi turbomu
untuk tetap
semeter dibelakangnya
kambing mimpimu kini menjadi gajah mimpi
tetap, tambah kekuatan turbomu
biar ia tetap semeter didepanmu
mari! kita beternak mimpi
sampai ia jadi kura-kura mimpi
cantik, menawan
sungguh ia lelah
tahu kau tetap semeter dibelakangnya
kini, ia siap untuk kau panen dan kau kandangi
mari sekali lagi! kita beternak mimpi
Semarang, 17 Maret 2010
Qur'anul Hidayat Idris
dengan muka koreng
dada berdaki
juga celana pesing
ia tetap merebus mimpinya
asapnya mengepul
lama-lama mulai beraroma panggilan
"larilah"
tidakkah kau iri
sambil beringsut dan meniti
ia berlari
terengah, namun bibir tergantung senyum
sarapannya hanya sepiring mimpi rebus
masih berasap, ngepul
mengajaknya bercinta
sungguh ia telah menjadi seorang wirausaha mimpi
mimpi rebus menjadi tulang dan darah
mari! kita beternak mimpi
carilah bibitnya dengan kau mulai berlari
ingat, jangan lupa mimpi rebus
lalu letakkan bibit itu semeter didepanmu
jangan, jangan pernah kau meraihnya
sebelum
kau benar-benar berlari
saksikanlah
kambing mimpimu yang mulai besar
larinya semakin cepat
pakailah energi turbomu
untuk tetap
semeter dibelakangnya
kambing mimpimu kini menjadi gajah mimpi
tetap, tambah kekuatan turbomu
biar ia tetap semeter didepanmu
mari! kita beternak mimpi
sampai ia jadi kura-kura mimpi
cantik, menawan
sungguh ia lelah
tahu kau tetap semeter dibelakangnya
kini, ia siap untuk kau panen dan kau kandangi
mari sekali lagi! kita beternak mimpi
Semarang, 17 Maret 2010
Qur'anul Hidayat Idris
0 Segelas Tawa
minumlah segelas tawa yang kuhidangkan
ayo! di telan
atau segera kau simpan
untuk besok jadi menu sarapan
sudah banyak gelas kau habiskan
cerekku pun berkarat menahan
tapi, kubiarkan kau sampai puas
untukku menunggu rindu ini kau tetas
sudahlah!
jangan banyak bicara
aku saja yang bicara
mulutmu hanya untuk meneguk di sepadan bibir gelas
kalau kau ulangi lagi
kan kutahan jatahmu esok hari
nah!
begitu lebih baik
minumlah segelas tawa untukmu
bila cerek tawaku habis
akan kucuri ditempat lain
yang penting kau tetap meminumnya seteguk-seteguk
aku?
aku biasa hidup kehilangan tawa
acuhkan
Semarang, 18 maret 2010
Qur'anul Hidayat Idris
ayo! di telan
atau segera kau simpan
untuk besok jadi menu sarapan
sudah banyak gelas kau habiskan
cerekku pun berkarat menahan
tapi, kubiarkan kau sampai puas
untukku menunggu rindu ini kau tetas
sudahlah!
jangan banyak bicara
aku saja yang bicara
mulutmu hanya untuk meneguk di sepadan bibir gelas
kalau kau ulangi lagi
kan kutahan jatahmu esok hari
nah!
begitu lebih baik
minumlah segelas tawa untukmu
bila cerek tawaku habis
akan kucuri ditempat lain
yang penting kau tetap meminumnya seteguk-seteguk
aku?
aku biasa hidup kehilangan tawa
acuhkan
Semarang, 18 maret 2010
Qur'anul Hidayat Idris
0 Kampung Karya Kita Minggu Ini
Diposting oleh
Kampung Karya
Minggu, 21 Maret 2010
Label: seni, puisi, artikel, cerpen, esai
kampung karya,
puisi
0
komentar
Karya kita : Qur'anul Hidayat Idris
Tameran, Bengkalis-Riau 19 april 2005
Kartini,Bengkalis-Riau 15&16 Juni 2006
Sebuah Deraian
Menangislah
Cobalah untuk terus menangis
Karena tangisanmu
Tidak melunturkan warna-warna cerah
Tidak menghujam
Layaknya peluru-peluru gila
Disana
Berkobar bara api
Yang tak pernah mati
Menentukan filsafat-filsafat
Tanpa menoleh kasta-kasta tak berarti
Menghanguskan asa kosong
Tanpa menyisakan
Debu-debu kecil
Yang menghilangkan
Kilatan menyilaukan mata
Cobalah untuk terus menangis
Tangisanmu tak akan membuat surut
Keinginan melahirkan
Pondasi-pondasi yang selalu bersiap sianga
Menggempur tiang-tiang rapuh
Tanpa dasar
Inilah ketentuan hidup
Jalan ini telah panjang
Jangan sia-sia
Jadi hari tanpa lahirnya tangis
Qur'anul Hidayat I
Penantian Yang Tertunda
Meredam hati yang tak ingin pergi
Ku lihat inilah yang tak bisa ku tempuh
Meratap atas apa yang tak pasti
Mencari kesejatian dalam rautmu yang ikhlas
Air mata menjadi saksi
Ku tenteng sejuta harapan yang ku khayal
Menentang hari yang selalu rindu
Bersua bagai cerita dahulu
Berjalan dalam puing hati yang kian menyatu
Kutunggu
Dalam gundah ku tatap bintang
Berseri
Mencari walau ku sendiri terjepit
Mencekam
Memberi sakit yang tak bisa hilang
Meratap, dan
Inilah satu penantian yang akan
Tertunda, dan
Jangan berharap suatu saat aku akan datang
Pintaku hanya sebatas pinta
Jangan merasa inilah syarat
Ku toleh semuanya dengan kegalauan
Ku ingin ku terus bersemayam di jiwamu
Jangan hapus jadi bayang-bayang seakan mati
Dalam sedih tak sanggup bicara
Carilah yang terbaik
Buktikan pada dunia kita tabah
Ceritakan pada dunia,
Inilah cinta tanpa harus
Memiliki
Qur'anul Hidayat I
Induk!
Tidak senyap sungguh
Derik-derik ranting pun berlagu
Mengadu pada bulan terselit, mengapit
Disitulah aku
Di bawah dentum langkah bocah
Menarikan irama katak terjepit
Tak jarak bersama liur angin
Yang pekat mengelat rasaku
Aku masih disini
Berguyur cahaya yang pandangi lama rentang langkahku
Aku jauh tak berkawan
Hanya tanah ini mengacau ingatku
Tentang keringat indukku, tercecer
Kalahkan tulang belulang memutih
Mengurai suka duka nestapa di sudut matahari
Berair sungai jiwa, aku malu
Tetap di sini mencari benih risau
Menggantung hujan di pelupuk resahmu, induk
Bergayut sudah aku meredam debu menyulut ibamu
Terbawa gelombang di terbang angin seberang samudera
Lagi-lagi berkawan penat
Mengucap tak jelas ejamu induk
Maunya redam itu dari kerling mataku
Mengadu, membual resah ini
Endapkan seberkas embun melekat hati kita, berdua
Tapi aku di sini
Tak jarak membuat semak
Liur angin pun tak sanggup menjaga anganku
Menghatur tawamu induk, hanya itu
Sendang Guo, Semarang, 20-09-09
Qur'anul Hidayat I
0 Launching K3
Diposting oleh
Kampung Karya
Kamis, 04 Maret 2010
Label: seni, puisi, artikel, cerpen, esai
pengumuman,
puisi
0
komentar
adalah saya seorang mahasiswa Sastra Indonesia Undip bernama Qur'anul Hidayat Idris ingin berbagi dalam berbagai macam hal keilmuan dan karya sastra. maka tepat pada hari ini saya luncurkan sebuah blog Kampung Karya Kita atau dengan singkatan K3. blog ini diharapkan mampu menyalurkan kreatifitas kita dalam berkarya. baik itu puisi, cerpen, lakon ataupun artikel atau esai yang bersifat keilmuan...
selogannya : Berkaryalah maka engkau akan kaya
selogannya : Berkaryalah maka engkau akan kaya












