Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

13 Tiga Anak Hati

Rabu, 14 Maret 2012

Tiga hari yang lalu saya sempat memposting tiga puisi baru saya di Facebook pribadi. Hal ini terasa spesial karena hampir dua tahun saya tak lagi produktif menulis puisi. Bukan karena saya tidak senang lagi menulis puisi, tapi lebih karena pemahaman baru yang saya dapatkan. Yup! Puisi menurut saya adalah hasil kontemplasi jiwa yang hadir sesuai kehendak molekul puisi itu sendiri. Memang agak rumit, tapi begitulah perbedaan proses kreatif saya sekarang dengan beberapa tahun sebelumnya.

0 BEBERAPA SESAJI BUATMU

Jumat, 04 Februari 2011

mari berlabuh di sebait puisi

mendendangkan luka-luka lama

tanpa beranjak

kita mencabuti akar perindu

yang kau tanam tanpa ampu



mari berlabuh di sebait puisi

tikam tikam yang dalam

di dadaku

ada sebatang dadamu

(malam) rindang

dan parang tergenang



mari melabuh di sebait puisi

di sampan kita bercinta

melihat siluet dosa-dosa

merampungkan iman yang terjera

menampung air langit mata

kita

adalah kembali dosa

saat bercinta



mari melabuh di sebait puisi

dari panca

ke yang bukan setya

kita redam amuk di jalan

seperti lagu luka saat sesat tersesat

'kemana bau hujan?'

disana hanya redam

darah redam

berwarna legam



meri melabuh di sebait puisi

mencandu cumbu tubuhmu

menghirup aroma kopi kesadaran

'kita tak semakin kokoh berada di tembok'

dan jelata

akan menjadi rata oleh tanah

sebab kematian

hanya soal singgah



mari terlabuh di sebait puisi

dan kita terjaga

kala malam belum usai

bertanya, "kapan bulan ke perutmu!"



mari terlabuh di sebait puisi

meneroka lebam di bibirmu

yang memberkas bibir

aku terkilir

.

.



mari kucium kau sekali lagi

ditengah percintaan penuh dosa

(puisi)







Semarang, 04 Februari 2011

Qur'anul Hidayat Idris

1 Dan Memang, Garuda Itu Milik Bangsa dan Yang Memperjuangkannya

Rabu, 15 Desember 2010
kau terbanglah jauh mengambil tabuh sayap di tanah ribuan pulau, dengan luka apa kami menyebut yang tersiksa oleh anak bangsa sendiri. Kusertai keranda di bola matamu tapi kau lagi berkata "aku pada yang memiliki, pada nakhoda sayap dan limpahan tumpah tanah, hutan dan laut yang ricuh" lalu jalan yang melapang bukankah telah tumbuh di ujung persengajaan yang rindang? aku mengenal yang bukan kata, aku mengenal yang bukan frasa bahkan aku tak tahu kapan tubuhku mereduplikasi menjadi ganda.

ah, sesungguhnya aku hanya bahasa

hutan fona
inilah leksem
kompositori yang mahir menjemput kompleks tubuh--terikat
atau simpleks yang bundar
sayap
sayap dari kau garuda
adalah fona, leksem bahasa  tubuh bangsa

ah, sesungguhnya aku hanya bahasa
dan memang, garuda itu milik bangsa
dan yang memerjuangkannya


Semarang, 15 Desember 2010
Qur'anul Hidayat Idris

0 Jantungku Masuk Ke Gelas Kopi Pagimu

Senin, 04 Oktober 2010

I/
sudah kita jelajahi rawa-rawa berpelita redup ujung pengandaian

menebak berapa sisa peradaban remuk di tumit dan lengan

di setiap Mesolitikum kutemui parau

sebentar dentang di ujung darah meracau

bukan aw tapi AW

kau telah membaca

belajarlah pula cara lupa



II/

kita bukan tersesat

semata hilang mencekau ruparupa karat

pemberhentian hanyalah kursi

ada apa dibalik dada

jantung, disebaliknya

daging, lalu?

pembuluh, terus?

kopi-kopi berwarna malam

yang kita minum tiap selepas bermakam



III/

aku ingin mengambilmu

sebagai arteri dan ragi



IV

aku menatap neolitikum

orang berwajah ladang dan sawah

asyik meminum

kembang bermadu darah

tak puas, kucampur

di kopi

dadamu



V

menukar beberapa jantung

menampik tuduhan waktu pada masa sulung






HaWe, 041010

Qur'anul Hidayat Idris

0 OASIS PERJALANAN V

Minggu, 12 September 2010
RUMAH

lempung dalam takaran jemarimu
menata sisi dan beberapa gambar mata
kau jerat semesta
di jagat kau carikan aku 7 malam
tanpa derai
coba membaca ngarai
disanalah tempatmu
menjadikan patri
sebelah kamar membelah sungai
dan membangun sebuah rumah
:kita


MALAM KE-7

kuciumi diammu
entah kenapa, dimalam ke-7
genangan apa kasih?
bukankah sudah kubuat rawarawa
disanalah kita susur jalan perit
dilembat tungku dan perapian pahit

entah kenapa, di malam ke-7
kau membawaku rajuk
tak mempan kubujuk
ah,


VAS

kau suka vas oranye di simpang sebelah perempatan itu, ya
aku tahu
akan kumasak matangmatang di bibirku
kupasang di keningmu
setelah tumbuh bunga
kusemai di depan rumah
setiap hari, kan kau lihat airmataku menyiraminya



Bengkalis, 7 September 2010
terakhir 15.22
Qur'anul Hidayat Idris
 

0 OASIS PERJALANAN IV

DEBUR

bulan merebah mamah di pangkuanku
diujung lidah pantai
kusemai butir doa
terserah pada bakau
dan liangliang derita

'di semak aku mengutip sepadan jalan,
mendarat tak tepat di sampan''

diujung lidah pantai
hikayat jatuh menyebut tapak lapuk
kakikai pemijak usang berlinang timang
'doi, nak!"
ditatap seratap bekap
bulan lagilagi menampik kedatanganku
padanya berpuluh putar getar jam
jaman
dan semua taman pengikatan

'di semak aku mengutip sepadan jalan,
kapan bulan mendaratkan sampan?'


HIKAYAT SAMPAN

berkata sebab itu rebab dibunyi nampan
tang tang
seperti bocor yang asin
badanbadan laut terhenti membangun sauh
di tangan beberapa nelayan
singgah berbutir ketam dan anakanak tanah
di bocor yang mulai ubin
kilap tersarap ayat miskin
bersurah jejal saat airmata bertampin
melempar pukat
melempar jerat
tang tang
rebab dibunyi
nampan dan serongkeng
membentuk wajah berdada pasir
tempat henti
yang jauh di tunai kayuh


SAUH


di atap
tubuh berendam
mengembang menjadi bukan bunga
bukan raga
sebenar kusam yang jaga
putih menghitam
melayang
layang

melayang
:layang
poripori campak ke gigitan
di eluh yang aduh
ada senyum mengembang
:sayang

melayang
berkali
layang
tinggi
ah, bukankah tak pernah berhenti


ATAS BAWAH


dimuka lupa
tertenteng sebadan kemban
lamat tersentap badan bulan
untuk ini malam jadi santapan



Bengkalis, 06 September 2010
terakhir di 12.27
Qur'anul Hidayat Idris

0 OASIS PERJALANAN III

Rabu, 01 September 2010
TEDUH

disana tempat semua berujung
danaudanau berpalung
selat terlarung
hingga airmata terpasung
datang itu menyeduh kopikopi pekat
berapa gelas, atau segelas berserat
:malam lengah
dentang dipan kehabisan peradu
menunggu secarik ampunan
teduh di pasir nadi
teduh di jalan menuju sunyi


KERUH

 sekawanan nyawa melenggang
namun tak sedikit berlalu terbang


lalu tambatanmu dimana?
nyawa yang penuh
menyesak sentuh tergaduh
keruh

sekawanan nyawa melenggang
namun tak sedikit berlalu terbang

lalu pelabuhanmu dimana?
apa sebatas pandang
lewat dan tak tepat menghitung gersang
(sekedar) tumbang

sekawanan nyawa melenggang
namun tak sedikit berlalu terbang

lalu singgahmu dimana?
kelana tak perih
hanya rupa gerai tak putih
berpuring pedih


LEPUH

 dilangit
tersulam peta perjalanan
ke teduh
ke keruh

atau lepuh

dilangit
tersulam abstraksi kehidupan
realitakan
bumikan
ditanah kau berperan
aktor
pengatur selangkah
papan panggung
atau berhenti di cenung
bingung


Bengkalis, 01 September 2010

Qur'anul Hidayat Idris

0 SEMPAT AKU MENYESAL MENGETAHUI ADA BIBIT CINTA DIHATIKU YANG SECARA TIBA-TIBA MEMBESAR DAN KUPOTONG PUN IA REINKARNASI

Rabu, 23 Juni 2010
apa yang tegoreslukis di beranda kau duduk
mengambil kanvas
menggenanginya berkuas-kuas
dan cat yang lupa warna
juga helai yang terbang

tak serupa aku,
karena secara tibaba ada bibit cinta
dihatiku
membesar

sempat kupotong dan maki hamun berlarian bersama angin
sebagai kesakitan
dan aku pesakitan yang menua di tempat semakin hilangnya kau dan menghilanglenyapnya kau
bahkan lebih lagi
KAU
:bukan aku

TAPI
ada yang reinkarnasi
menjadi bibit yang semakin menghutan dihatiku
memanggil rintik dan menghujani cinta yang lebih mekar
aku
tak bisa mengerti
kenapa ketika itu kau bakar kanvasmu
tunggu-tunggu
tak mengapa kau bakar ia
tapi kenapa beserta hatiku dan segenap isinya

aku tak habis pikir



Tembalang-Semarang, 23-Juni-2010
Qur'anul Hidayat idris

0 Meniti Jarah Sesaku Rumah

Minggu, 30 Mei 2010
















masih meniti jarahkah
disaku rumah, hamparan tadah yang ruah?
lalu sembah atau simbah
darah bisu
dipelataran tunggu kau melipat rindu
membungkus
dan menguburnya ditanah
kerontang oleh basah

masih meniti jarahkah
disaku rumah, hamparan tadah yang ruah

letakkah itu batu
dimatamu
atau dirayu
tapi jangan pada raguku
sudah penat
ia memepat
di rekat
dan pesan yang mengawat
itu, kau
yang maui
bukan tanganku mengasah parang secarik pagi

masih meniti jarahkah
hamparan tadah yang ruah?

disitulah kembali
aku setengah mati


Tembalang-Semarang, 30 Mei 2010
Qur'anul Hidayat Idris

0 Tak Seromantis Air

Selasa, 06 April 2010

aku mengakui
sentuhanku tak seromantis air
yang membelai batu
hingga lena
dan terkikis sampai habis

aku menyadari
pandanganku tak seromantis air
yang menjadi cermin bagi karang
lalu mengelupasinya
tanpa mata dan rupa

aku sanggup mengata
sunyiku tak seromantis air
yang tenang waktu siang
menggenggam malam dengan pasang
bergelombang

aku sudah mencatat
rengkuhanku tak seromantis air
yang mengabarkan sebuah langit lain
lalu berubah tawar dan asin
pada dua buah samudera

aku sudah mendikte
sari hidupku tak seromantis air
yang jadi perisai hidup
kenaifan berlaku
padanya larut dan surut

aku, lalu menggambar
lukisanku tak seromantis air
yang mengajak sekawanan burung
lalu bersama bersenda ria
di tengah samudera yang mencinta
 

                                                                aku sudah mengakui itu

namun,
bila aku jadi air
tak ku kikis kau sampai habis
tak ku kelupasi wajah dan rupamu
tak ku gelombang kau di malam-malam
tak ku adu kau pada dua samudera
tak ku naifkan pada larut dan surut
tak ku senda kau bersama burung melata jalang

aku memang tak seromantis air
tapi aku lebih mencintaimu daripadanya

Tembalang-Semarang, 05-04-2010
02.45 (disubuh aku mengelana)
Qur'anul Hidayat Idris

0 Mari! kita beternak mimpi

Selasa, 23 Maret 2010
tidakkah kau iri
dengan muka koreng
dada berdaki
juga celana pesing
ia tetap merebus mimpinya
asapnya mengepul
lama-lama mulai beraroma panggilan
"larilah"

tidakkah kau iri
sambil beringsut dan meniti
ia berlari
terengah, namun bibir tergantung senyum
sarapannya hanya sepiring mimpi rebus
masih berasap, ngepul
mengajaknya bercinta

sungguh ia telah menjadi seorang wirausaha mimpi
mimpi rebus menjadi tulang dan darah

mari! kita beternak mimpi
carilah bibitnya dengan kau mulai berlari
ingat, jangan lupa mimpi rebus
lalu letakkan bibit itu semeter didepanmu
jangan, jangan pernah kau meraihnya
sebelum
kau benar-benar berlari

saksikanlah
kambing mimpimu yang mulai besar
larinya semakin cepat
pakailah energi turbomu
untuk tetap
semeter dibelakangnya

kambing mimpimu kini menjadi gajah mimpi
tetap, tambah kekuatan turbomu
biar ia tetap semeter didepanmu

mari! kita beternak mimpi
sampai ia jadi kura-kura mimpi
cantik, menawan
sungguh ia lelah
tahu kau tetap semeter dibelakangnya

kini, ia siap untuk kau panen dan kau kandangi

mari sekali lagi! kita beternak mimpi

Semarang, 17 Maret 2010
Qur'anul Hidayat Idris

0 Segelas Tawa

minumlah segelas tawa yang kuhidangkan
ayo! di telan
atau segera kau simpan
untuk besok jadi menu sarapan

sudah banyak gelas kau habiskan
cerekku pun berkarat menahan
tapi, kubiarkan kau sampai puas
untukku menunggu rindu ini kau tetas

sudahlah!
jangan banyak bicara
aku saja yang bicara
mulutmu hanya untuk meneguk di sepadan bibir gelas
kalau kau ulangi lagi
kan kutahan jatahmu esok hari

nah!
begitu lebih baik

minumlah segelas tawa untukmu
bila cerek tawaku habis
akan kucuri ditempat lain
yang penting kau tetap meminumnya seteguk-seteguk

aku?
aku biasa hidup kehilangan tawa
acuhkan

Semarang, 18 maret 2010
Qur'anul Hidayat Idris

0 Kampung Karya Kita Minggu Ini

Minggu, 21 Maret 2010
Karya kita : Qur'anul Hidayat Idris


Sebuah Deraian

Menangislah
Cobalah untuk terus menangis
Karena tangisanmu
Tidak melunturkan warna-warna cerah
Tidak menghujam
Layaknya peluru-peluru gila

Disana
Berkobar bara api
Yang tak pernah mati
Menentukan filsafat-filsafat
Tanpa menoleh kasta-kasta tak berarti
Menghanguskan asa kosong
Tanpa menyisakan
Debu-debu kecil
Yang menghilangkan
Kilatan menyilaukan mata

Cobalah untuk terus menangis
Tangisanmu tak akan membuat surut
Keinginan melahirkan
Pondasi-pondasi yang selalu bersiap sianga
Menggempur tiang-tiang rapuh
Tanpa dasar

Inilah ketentuan hidup
Jalan ini telah panjang
Jangan sia-sia
Jadi hari tanpa lahirnya tangis

  
                                                                                                    Tameran, Bengkalis-Riau 19 april 2005
                                                                                                    Qur'anul Hidayat I

Penantian Yang Tertunda

Meredam hati yang tak ingin pergi
Ku lihat inilah yang tak bisa ku tempuh
Meratap atas apa yang tak pasti
Mencari kesejatian dalam rautmu yang ikhlas

Air mata menjadi saksi
Ku tenteng sejuta harapan yang ku khayal
Menentang hari yang selalu rindu
Bersua bagai cerita dahulu
Berjalan dalam puing hati yang kian menyatu
Kutunggu
Dalam gundah ku tatap bintang
Berseri
Mencari walau ku sendiri terjepit
Mencekam
Memberi sakit yang tak bisa hilang
Meratap, dan
Inilah satu penantian yang akan
Tertunda, dan
Jangan berharap suatu saat aku akan datang

Pintaku hanya sebatas pinta
Jangan merasa inilah syarat
Ku toleh semuanya dengan kegalauan
Ku ingin ku terus bersemayam di jiwamu
Jangan hapus jadi bayang-bayang seakan mati
Dalam sedih tak sanggup bicara

Carilah yang terbaik
Buktikan pada dunia kita tabah
Ceritakan pada dunia,
Inilah cinta tanpa harus
Memiliki


                                                                                                       Kartini,Bengkalis-Riau 15&16 Juni 2006
                                                                                                       Qur'anul Hidayat I 

Induk!

Tidak senyap sungguh
Derik-derik ranting pun berlagu
Mengadu pada bulan terselit, mengapit
Disitulah aku
Di bawah dentum langkah bocah
Menarikan irama katak terjepit
Tak jarak bersama liur angin
Yang pekat mengelat rasaku
Aku masih disini
Berguyur cahaya yang pandangi lama rentang langkahku
Aku jauh tak berkawan
Hanya tanah ini mengacau ingatku
Tentang keringat indukku, tercecer
Kalahkan tulang belulang memutih
Mengurai suka duka nestapa di sudut matahari
Berair sungai jiwa, aku malu
Tetap di sini mencari benih risau
Menggantung hujan di pelupuk resahmu, induk
Bergayut sudah aku meredam debu menyulut ibamu
Terbawa gelombang di terbang angin seberang samudera
Lagi-lagi berkawan penat
Mengucap tak jelas ejamu induk
Maunya redam itu dari kerling mataku
Mengadu, membual resah ini
Endapkan seberkas embun melekat hati kita, berdua
Tapi aku di sini
Tak jarak membuat semak
Liur angin pun tak sanggup menjaga anganku
Menghatur tawamu induk, hanya itu

  
                                                                                                  Sendang Guo, Semarang, 20-09-09
                                                                                                  Qur'anul Hidayat I 

0 Launching K3

Kamis, 04 Maret 2010
adalah saya seorang mahasiswa Sastra Indonesia Undip bernama Qur'anul Hidayat Idris ingin berbagi dalam berbagai macam hal keilmuan dan karya sastra. maka tepat pada hari ini saya luncurkan sebuah blog Kampung Karya Kita atau dengan singkatan K3. blog ini diharapkan mampu menyalurkan kreatifitas kita dalam berkarya. baik itu puisi, cerpen, lakon ataupun artikel atau esai yang bersifat keilmuan...
selogannya : Berkaryalah maka engkau akan kaya