Senyum Sampan

Kamis, 12 Januari 2012
Share this history on :
Sumber Gambar

Lelaki itu menatap lautan dengan wajah takjub, bersatunya biru langit dengan deburan ombak yang kian tinggi, juga hembusan angin yang membawa beberapa kabar musim. Ia menatap ke bawah, seorang bocah permpuan bermata rembulan menyuruk di selengkangannya. Dengan susah payah wajah kecil itu mendongak melihatnya, sebuah senyum melengkung seperti sampan. Ia tak tahu apa yang sedang dipikirkan ayahnya, ia hanya tahu ayahnya akan melaut dan siap membelinya sepatu berwarna biru yang sudah lama ia idamkan.

bocah perempuan itu diangkatnya dengan senyum yang terpaksa rekah. Ya, ia tak kuasa memberi seberkas kerisauan pada anaknya yang belum saatnya mengerti urusan meyambung hidup. Bocah berumur 5 tahun itu ia julang tinggi-tinggi ke atas, wajahnya lugunya menyembulkan kengerian bercampur senang.

"Sepatunya Bah!" leher lelaki itu dipeluk oleh sepasang tangan mungil. Saat wajah anaknya menatap belakang, wajahnya kembali menyiratkan kerisauan, terlebih karena "gugatan janji" yang baru didengarnya. Ia sudah terlalu banyak beralasan. Tapi, ia bagian dari anak-anak sungai yang telah lekat dengan kerasnya hidup dan hantaman ombak.
"Iya, nanti Abah belikan kalau sudah pulang!" nada suaranya terdengar jelas dibuat optimis.
"Belikan permen yang banyak warna itu juga Bah!"
"Iya, Abah belikan!" bocah itu ia turunkan, matanya terlihat semakin bercahaya karena harapan yang ditanamkan dalam tubuhnya. Tapi, ia tak lepas memandang wajah si ayah yang kulitnya sudah legam oleh terik matahari. "Sana, balik ke rumah!" Ia mendorong pelan tubuh anaknya yang seketika langsung berlari riang menuju arah rumah kecil mereka.

Musim telah membawa harapan itu jauh ke tengah lautan. Sebagai lelaki laut, gelagat buruk cuaca telah diendusnya, lewat angin dan kabar yang disampaikan penunggu laut. Tapi ternyata keadaan lebih berkuasa dari keharusan. Ia bertaruh demi sepotong senyum berbentuk sampan anaknya, yang belum bisa ia jelaskan tentang musim dan segala pancaroba.

Di kepalanya hanya tergambar sebuah sepatu kecil biru dan setangkai permen warna-warni. Ia pun kini berlayar membawa sisa keyakinan.


Semarang, 12 Januari 2012
Qur'anul Hidayat Idris

Related Posts by Categories

0 komentar:

Poskan Komentar

Selesai baca, tinggalkan jejak ya!