Tiga Anak Hati

Rabu, 14 Maret 2012
Share this history on :

Tiga hari yang lalu saya sempat memposting tiga puisi baru saya di Facebook pribadi. Hal ini terasa spesial karena hampir dua tahun saya tak lagi produktif menulis puisi. Bukan karena saya tidak senang lagi menulis puisi, tapi lebih karena pemahaman baru yang saya dapatkan. Yup! Puisi menurut saya adalah hasil kontemplasi jiwa yang hadir sesuai kehendak molekul puisi itu sendiri. Memang agak rumit, tapi begitulah perbedaan proses kreatif saya sekarang dengan beberapa tahun sebelumnya.

So. Tiga puisi ini terasa spesial karena tercipta dalam rentang waktu yang relatif tak berjeda lama. Saya sempat mengetes "Aku" setelah menulis puisi yang ketiga. Mencoba menulis puisi keempat. Hasilnya? Nihil. Beberapa kali sempat memulai, tapi akhirnya saya hapus lagi karena sangat terkesan dipaksakan. Tak ada salahnya kalian menikmati puisi saya ini bukan? Silakan tinggalkan pesan dan kesan.

Sesauk Lauk

"Mak, tumpah peluhmu
sedandang ikan yang asin itu"

Semarang, 11 Maret '12 (QHI) 


Sesauk Alibi

"Aku pura lupa
jika semalam aku mengendap
-endap dalam larutan sirup yang kau hirup
tak kusangka kau tak keburu mati
padahal telah kusiapkan kasur
biar kau merasa hanya tidur
jika ini kepura-
puraan semata
aku tak
suka
dan
tak
.
.
.
ah, aku hanya pura
-pura

Semarang, 11 Maret 2012 (QHI)
 


Sesauk Batu

Beh a ba Teh U tu
Ba tu
tu ba dan ba tu
kau dari rahim mana?
mengapa tak kau tanam saja dirimu
dengan cangkul yang ikut menanam diri sendiri
batu itu tak tanah
tapi kau tahu ia tak rahim
lalu rahimku?

Teh u tu beh a ba
kueja tapi kau masih batu
kuurai tapi kau masih batu
kusasai tapi kau masih batu
apa yang kau tunggu?
itu langit masih biru
dan laut tetap biru
lalu kenapa harus mem-batu?
jika ruang tunggu itu meruang lagi jadi ruang
meruang lagi jadi ruang lantas meruang
jadi ruang meruang lagi
lalu, kau masih batu?

Semarang, 11 Maret '12
 (QHI)

sumber gambar: di sini

Related Posts by Categories

14 komentar:

Patta Hindi Azis Says:
Rabu, Maret 14, 2012

mengalir puisinya mas...

novi saja Says:
Rabu, Maret 14, 2012

lalu, kau masih batu?

suka puisinya.., walau masih meraba-raba apa yang dimaksud.

Stupid monkey Says:
Rabu, Maret 14, 2012

wew, batu yg membatu ... kerennnn ... aku batu k - batu k, wew ^^

Ririe Khayan Says:
Rabu, Maret 14, 2012

datang untuk menyimak puisinya...

Thanjawa Arif Says:
Rabu, Maret 14, 2012

senang puisinya sobat

Hairun NisYa Says:
Rabu, Maret 14, 2012

mampir sobat...waaahh mulai buat puisi yach sobat..??? suka dhe ma puisinya sobat yach walaupun nggak terlalu mengerti sih...hehehe

Nice post...

Muhammad Akram Says:
Rabu, Maret 14, 2012

Melongo aja deh coz kagak ngerti soal puisi

srulz Says:
Rabu, Maret 14, 2012

ba tu...
ba -n- tu aku mengerti puisimu... :D

covalimawati Says:
Rabu, Maret 14, 2012

aku paling ga bs bikin puisi.. jd sering terpana sndri klo baca puisi.. hehe

octarezka Says:
Rabu, Maret 14, 2012

tak paham benar soal puisiny =(

Hiaku Herry Says:
Rabu, Maret 14, 2012

asli keren bngt puisinya, sukses terus ya kawan :)

outbound malang Says:
Senin, Maret 19, 2012

mantap sob .
salam sukses ..:)

Nurul Says:
Senin, April 02, 2012

seperti kontemporer..
kalo aku sendiri, menurutku, semakin bagus puisi adalah semakin susah makna nya ditebak.. dan ini berhasil..
diksinya bagus..
:D kunjungi juga blogq ya..

Anonim Says:
Sabtu, Maret 16, 2013

wow

Posting Komentar

Selesai baca, tinggalkan jejak ya!