Esai: Momen Kontemplatif (Bag. 1)

Kamis, 15 Maret 2012
Share this history on :

Ada pembicaraan seputar proses kreatif yang terjadi beberapa waktu yang lalu di sebuah "ruang kreatif" bagi beberapa orang yang saya kenal. Kami lalu menjurus ke beberapa objek. Kami bukan sedang menggosip karena "berbicara untuk berpikir" berbeda dengan "berbicara untuk sekadar bicara". Yang nomer dua itulah gosip, karena apa yang dibicarakan hanya akan habis dalam pembicaraan itu sendiri. Kami lebih condong yang pertama, berbicara untuk menemukan gagasan atau merenungi gagasan yang telah ada. Walau, pembicaraan kami menggunakan objek, setidaknya kami tak menggosip.

Proses kreatif tentu berkaitan dengan pergelutan seseorang dengan daya pikir, gagasan, dan penciptaannya. Semakin kesini orang lebih mengaitkan "proses kreatif" dengan "kerja menulis". Namun, sesungguhnya proses kreatif dapat terjadi pada semua bidang yang menghendaki adanya eksplorasi di dalamnya. Namun, pada tulisan ini saya akan berbicara pada fokus awal, tentang "kerja menulis".

Banyak hal berbeda dari "proses kreatif" yang saya geluti saat ini. Sedikit cerita, pada tahun 2009 menuju 2010  awal, saya merupakan seorang "pengobral karya". Istilah ini saya luahkan karena saya terlalu mudah untuk membagikan ke publik puisi saya yang tercipta dalam waktu bersamaan, dengan rentang waktu perkarya yang menakjubkan (cepat, red). Dalam satu bulan, saya bisa membuat 100 puisi dan kerap memenuhi beranda Facebook saya. Namun sebuah kejadian merubah itu semua.

Akhir 2010. Saya mendapat informasi adanya sebuah lomba bertajuk FTD (Forum Tinta Dakwah) yang diadakan FLP Pekanbaru. Ketentuan lomba tersebut cukup unik, yaitu puisi tak boleh lebih panjang dari 50 kata. Saya tertarik mengikuti lomba tersebut. Saya pun mencari ide yang berkaitan tema lomba dan berpikir akan mudah karena kebiasaan "ngobral karya" yang sering saya lakukan. Tapi, nyatanya kali ini berbeda. Ide saya mandeg, buntu, kosong.

Selama 2 (dua) minggu saya tak mendapat sepatah kata pun. Di lain sisi, batas waktu pengiriman sudah tinggal menghitung hari. Saya hampir menyerah sampai secara mendadak di kepala saya lewat untaian kata yang entah dari mana asalnya. Seperti orang kaget saya membuka laptop dan mencoba menuangkan kata-kata yang lewat tersebut. Saya menghitung jumlah katanya, pas.

Tanpa kepercayaan diri tinggi saya mengirim karya tersebut. Setelah sebulan berlalu optimisme saya semakin menciut setelah tahu peserta yang ikut lebih dari 500 orang (lomba tersebut berskala nasional) dengan banyak nama beken. Tibalah saatnya pengumuman 100 nominasi dan tanpa saya duga karya saya muncul. Namun, saya tak berharap banyak, sudah sangat bersyukur berhasil masuk dalam 100 nominasi.

Ketika mengerucut jadi 30 nominasi, saya cek dan di sana tertera nama karya saya. Sampai pada momen ini saya mulai kaget karena sudah mengalahkan banyak pesaing. Namun, tetap saja saya tak terlalu berharap lebih karena apa yang telah dicapai sudah luar biasa bagi saya.

Akhirnya pengumuman juara 1 sampai 3 keluar. Saya tak sempat membaca karena sedang menghadiri Makrab (Malam Keakraban) dengan anak seprodi. Pagi ketika acara senam, ponsel saya menerima sebuah pesan dari nomor tak bernama. Dalam smsnya ia menyampaikan ucapan selamat karena saya menjadi jawara pada lomba FTD. Saya melemparkan tawa pada teman di sebelah saya karena menganggap "penipuan" tersebut begitu menggelikan. Namun, si teman menyuruh saya mengecek Fb lewat koneksi ponsel. Seketika, saya ternganga-nganga.

Yup. Karya yang sekali lintas itu benar menjadi juara. Yup. Puisi yang dihasilkan dari perenungan selama 2 minggu itu telah mengalahkan lebih dari 500 puisi. Saya benar-benar kaget.

Puisi tersebut sudah dibukukan dalam antologi seratus nominasi buku "Munajat Sesayat Doa". Puisi saya berada diurutan pertama. Klik di sini untuk melihat penampakan bukunya.

berikut puisinya:

SUDUMU, ALLAH 

kuperuk candu rindu pada-Mu
di tanah purna-punah menyetuju
kita menerpal sesal
menggali seteguk
bersudu liang rumah
sudahkah siap menemu
candu
di hutan sanggrah
Akuan Robbi
:ruh

Sudumu, Allah
beriku seteguk rindu

Qur'anul Hidayat Idris

Puisi di atas memberi pengertian lebih kepada saya tentang "proses kreatif", terutama untuk konsumsi saya pribadi. Hasil  berpikir yang saya lakukan menghasilkan sebuah kesimpulan. Bahwa ada MOMEN KONTEMPLATIF yang harus dikejar oleh seorang penulis. Kontemplasi secara sederhana saya artikan sebagai "perenungan yang mendalam". Pada akhirnya, susunan mozaik dari molekul perenungan itu membentuk saripati yang secara alamiah hadir pada si pemilik perenungan. Saripati itulah sebagai hasil yang murni.

Memang, mencari momen kontemplatif membuat saya tak bisa buru-buru mendapatkan sebuah karya. Jika dipaksakan, maka saya hanya akan menghasilkan untaian kata yang tak memiliki daya pesona, atau tak mengirimkan sesuatu yang berarti pada pembaca. Momen kontemplatif ini juga digeluti oleh Sutardji Calzoum Bachri yang sangat "pelit" dalam berpuisi.

Artinya, yang dicari dari momen kontemplatif adalah KUALITAS kata, bukan sekadar KUANTITAS kata. Saya lebih memilih satu puisi namun dahsyat daripada memiliki 100 puisi yang biasa-biasa saja.

(bersambung)

Semarang, 15 Maret 2012
Qur'anul Hidayat Idris

sumber gambar: klik di sini

Related Posts by Categories

11 komentar:

Antaresa Says:
Jumat, Maret 16, 2012

jujur, aku awam, pemahamannya rendah. Jadi ga tau pasti makna puisinya. Tapi bahasanya bagus.

Selamat ya

Sam Says:
Jumat, Maret 16, 2012

"kualitas kata, bukan sekedar kuantitas kata"

kalau diaplikasikan ke dunia blogger, sepertinya lebih baik punya sedikit postingan tapi berkualitas, daripada banyak tapi terkesan biasa saja... tapi kalo mau lebih rakus lagi, lebih baik memiliki banyak postingan tapi, hampir sebagian besar berkualitas....

nice share kawan.... :)

femalebox Says:
Jumat, Maret 16, 2012

benar sob, aku sering mandeg ide. saat date line sudah didepan mata, terkadang malah blank sama sekali, ditambah klien yang koar-koar kalau artikelnya harus terbit.

selamat ya sob... sukses terus berkarya

eksak Says:
Jumat, Maret 16, 2012

Sukses buat karya-karya dan nominasinya, sob! ;-)

risa Says:
Jumat, Maret 16, 2012

suka saya dengan puisinya
menambah kosakata ..
ditunggu bagian selanjutnya ^^

zasachi Says:
Sabtu, Maret 17, 2012

ada award buat kamu, ambil di blog aku yaaa....

octarezka Says:
Senin, Maret 19, 2012

uhm,..kata-katany itu gak tau maknanya
=?

Michael Angelo [Desah Kian Dera] Says:
Senin, Maret 19, 2012

setuju bgt tuh sob.. tp terkadang hal2 yg luar biasa itu bisa tercipta dari hal yg biasa saja.

Ririe Khayan Says:
Senin, Maret 19, 2012

Momen kontemplatif ....bagi saya yg minim dasar berpuisi tentu Momen kontemplatif sangat confidential. Saya sgt suka menikmati bait2 puisi, entah paham artinya atau gak. Bagi saya puisi selalu menghadirkan pesona magis karena setiap katanya menyiratkan banyak makna yg mendlam..

Tabah Says:
Selasa, Maret 20, 2012

maksd dan tujuan puisi ntu paan si. . . ??? tumben aku ndak paham hehehehehe

vie_three Says:
Sabtu, Maret 24, 2012

waaahhh, aku ucapin selamat dulu.

kalau untuk puisi, aku memang orangnya gak terlalu menyukai membaca puisi kali ya. Jadi gak nangkep sama puisi itu, hehehe. Tapi, kalau untuk susunan katanya, aku suka. serasa banyak misteri dalam arti puisi itu.

Posting Komentar

Selesai baca, tinggalkan jejak ya!