Perasaan itu Air: Petak 1 (Menguap)

Minggu, 28 Maret 2010
Share this history on :

Pengalaman, adalah waktu yang bergerak. Masa yang menuju pada beberapa titik, bukan hanya satu titik saja. Namun, pada akhirnya tidak dapat dipungkiri pemberhentian itu nantinya. Seperti yang telah ditulis dari novel “cermin”ku, dalam pengalaman ada perasaan, dan kampung ini mendiskripsikan perasaan laksanan air yang keadaannya sesuai dengan kondisi diluar. Menguap, mengembun, mengalir, membasuh atau merebus. Begitulah perasaan akan terwadahkan oleh yang namanya pengalaman. Kita akan merasa dengan perasaan dari sebuah pengalaman.

Pengalamanlah yang akan ditulis oleh aku, seorang warga dari kampoeng karya yang hidup dalam kebulatan, kekompleksitasan, tepatnya sebagai seorang manusia yang biasa, benar-benar biasa.

Kemunculan rencana berwisata-ria ke Yogyakarta membuat aku merasa sangat senang. Selain datang dari Riau dengan harapan bisa mengefektifkan pendidikan dan berhasil dalam jenjang kesarjanaan, tak ku pungkiri masalah jalan-jalan adalah debu yang nempel di benak. Jadinya ketika ada rencana ini, debu itu langsung menggoyang-goyangkan kepalaku. Tak tahan aku menolaknya.
.
“Goes to Jogja” itulah nama acara kami, Sasta Indonesia 2009. Waktu itu aku ditempatkan dalam susunan kepanitiaan di seksi transportasi, walau sebelum menerima tanggungjawab ini tak lebih dulu kubaca kapasitasku, yang akan berdampak kemudiannya. Perencanaan pun diolah matang-matang, rincian dana dibuat, kunjungan wisata apa saja yang akan dikunjungi, selain menarik tempat wisatanya juga harus sesuai dengan ketebalan kantong mahasiswa.

Bukan tanpa badai, bukan tanpa longsor, bukan tanpa banjir. Begitulah juga rencana ini, beberapa masalah muncul mewarnai dari perjalanan ke perjalanannya. Pertama, karena ini adalah rencana wisata independen dari angkatan 2009, timbul keraguan di awal tentang perizinan kampus, apakah perlu atau langsung nyerobot pergi sebagai sebuah lembaga yang tegak sendiri. Aku sendiri waktu itu menyarankan adanya

perizinan, dengan alasan demi kepercayaan orang tua mahasiswa, jadinya perizinan demi perizinan. Tetap ada kubu yang menolak, mengatakan akan ribet dan berbelit, lalu bisa-bisa sistem administrasinya akan dipersulit dan implikasi dengan meminta izin adalah setidaknya keharusan membawa perwakilan jurusan, yang membuat daya ekspresif terganggu (pendapat orang-orang narsis mungkin)

Tidak tahu aku, apakah karena dikelas banyak anak-anak yang narsis, atau memang yang lainnya malas mikir. Akhirnya pendapat kedualah yang di pakai, lalu kemana pendapatku, di depak jauh-jauh karena tidak memenuhi kapasitas suara massa, hehe. Nggak apa-apa, aku juga lambat-laun merasa senang dengan sistem kemandirian ini, yang kalau kau tahu, membuat aku menemukan pengalaman yang membawa perasaanku mengembun dan mengalir deras.

Kedua, tepatnya adalah masalah ongkos yang berdampak kenegatifan lainnya, masalah yang klise bukan?. Aku menyadari panitia telah berusaha menekan biaya sekecil-sekecilnya. Mencari transportasi yang nyaman namun tidak terlalu eksklusif. Menginap di villa yang menampung banyak orang daripada di hotel, lalu mengunjungi tempat wisata yang masih sanggup di jangkau. Tidak perlulah aku menyebutkan berapa biaya yang dibutuhkan dari per-mahasiswa, namun bisa dengan pasti ku katakan biaya itu sesuai dengan apa yang didapat nantinya.

Permasalahannya adalah, banyak mahasiswa yang tidak bisa ikut dengan beragam alasan. Ada yang tidak sanggup dengan biaya yang ditetapkan, ada yang sudah harus membayar kosan, ada yang memang tidak berniat pergi karena telah beberapa kali pergi—orang yang tidak bersolidaritas menurutku, lalu alasan yang tidak mengenakkan karena mereka sudah punya rencana pergi nantinya dengan sang pacar.




Apa yang terjadi?. Panitia kalangkabut dengan masalah ini. Bagaimana tidak, dari 72 mahasiswa yang diawal sebagian besar mencatatkan dirinya untuk ikut, di ujung-ujung keberangkatan menyusut tinggal 30-an orang, fantastis bukan. Panitia mencari akal dan aku tidak terlibat dalam kepanikan tersebut, entah kenapa. Biro perjalanan yang semula dimintai untuk menyediakan dua buas bis akhirnya di ralat menjadi satu bis saja, itu pun yang ukurannya S alias small. Masih saja kurang, karena bis itu memuat 40 orang, gawatnya, seberapa pun yang ikut harus membayar semua kursi dalam bis, panik.

Akibat masalah di atas, terjadi kedilematisan yang luar biasa di tubuh panitia maupun mahasiswa yang benar-benar kebelet pergi. Dan yang kebelet pergi itu salah satunya adalah aku dan seorang wanita yang kupanggil gadis, wanita berjilbab yang ketika itu sependapat denganku. Alasannya jelas, kami berdua orang Sumatera yang merasa punya hak lebih untuk dapat pergi, mengingat jauhnya jarak dari tempat asal dengan tempat-tempat wisata di Jawa.

Kami berdua memberontak kawan, ditengah rapat darurat yang diselenggarakan waktu itu muncul wacana pembatalan atau diganti dengan pergi ke taman permainan yang membuat hatiku dan hati si gadis lantak luluh. Kami tidak mendengarkan apa yang tengah dibicarakan oleh panitia-panita lain yang kebanyakan berasal dari daerah jawa tersebut. Kami berargumen, bukan beradu argument, tetapi menyamakan argument.
“.ngomong saja, sebagai perwakilan mahasiswa dari Sumatera” itulah sepenggal kalimat yang masih kuingat meluncur dari bibir gadis yang menguapkan airku nanti. Aku berpikir sejenak untuk meninbang dan menginat, apakah pendapat ini akan membuat timbulnya rasa primordialisme yang tinggi diantara mahasiswa yang heterogen itu. Namun, aku berpikir ini adalah aspirasi yang perlu disampaikan, menggagalkan rencaca pembatalan. Apa salahnya, pikirku.

Aku pun menyatakan argument di tengah forum itu, kusampaikan dengan runtut dan dengan bahasa yang bisa membuat iba. Apa pun itu, semuanya berawal dari keinginan yang besar dalam diri untuk pergi ke Jogja, apalagi kalau teringat Candi Borobudur. Keinginan itu semakin kuat mengikat. Aku bicara agak lama, teman-teman panitia lain tampak mengangguk-anggukkan kepala, meyakinkan aku kalau mereka juga sebenarnya tidak ingin acara ini batal.

Aku melirik si gadis setelah selesai menyampaikan aspirasi kami berdua. Kulihat senyum tipisnya lega. Entah kenapa, airku langsung menguap, tinggi, tinggi sekali. Aku belum tahu.

Semenjak itu, aku dan………………….. (bersambung)

Semarang, 28 Maret 2010
Qur’anul Hidayat Idris

Related Posts by Categories

1 komentar:

d. a wulandari Says:
Senin, Maret 29, 2010

ooo.
jadi, ada teknik membuat katakata terdengar iba, to?

hhe..
ternyata berhasil telak.
selamat!

Posting Komentar

Selesai baca, tinggalkan jejak ya!