0 Hasil Seri yang Dibarengi Keberuntungan

Minggu, 25 September 2011
Selebrasi gol Krasic ke gawang Catania (sumber)

Melawat ke kandang Catania, Juventus diwarnai beberapa masalah. Antonio Conte tidak bisa memainkan Vucinic yang terkena kartu merah dan dihukum 1 laga, padahal pemain ini kerap menjadi oportunis yang sangat berbahaya di dalam kotak 12 m lawan. Selain itu, penampilan De Ceglie pada laga sebelumnya--melawan Bologna--mengecewakan. Kalau boleh dibilang, gol yang tercipta dari Bologna berawal dari kesalahan antisipasinya di dalam kotak penalti, sehingga menghasilkan tendangan sudut yang dikonversi menjadi gol. Conte tentu tidak ingin berjudi, karena sebelumnya De Ceglie juga membuat masalah dengan kartu merah yang didapatnya saat melawan Parma.

0 Tukar Link

Hai bloggers mania.
Gimana kabarnya, semoga sehat selalu.

Oh ya, untuk menggalakkan link exchange dan saling pasang banner. Setelah kawan" memasang link atau banner saya di website/blog kawan semua. Silakan kirimkan email permintaan anda beserta link (link exchange) dan html (banner) DI SINI

http://kampungkaryakita.blogspot.com/
dengan nama
Kampung Karya Kita

Ini banner saya, silakan dipasang.



Setelah menerima email, sesegera mungkin saya akan memasang permintaan kawan"

berikut daftar link sahabat bloggers


0 Hari Ini, Alhamdulillah Sesuatu Ya!

Rabu, 14 September 2011

sumber

20 tahun yang lalu aku menangis ketika keluar dari perut mak. Kini, aku melihat berupa hujan dari langit semarang mengiringi sampainya waktu pada umurku. Kepala dua, begitu orang sering menyebut jika tahun umur mencapai persepuluhan. Umur segini bagiku tidak remaja tapi juga belum pada masa dewasa. Walau, tua itu pasti dan dewasa itu pilihan. 20 tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah jalan yang fana ini. Sebuah refleksi menuju kedewasaan sepantasnyalah aku ambil.

0 The New Stadium of Juventus

Kamis, 08 September 2011

Sumber

Sebuah langkah revolusi dirasa penting untuk meningkatkan prestise seseorang, termasuk sebuah klub yang telah memiliki dan memenangi semua trofi bergengsi sepakbola. Terlebih lagi klub yang selalu menjadi kekasih Italia (La Fidanzata D'Italia) ini pengoleksi scudetto (Piala Seria A Italia) terbanyak dengan jumlah 29, klub Italia pertama yang telah memakai bintang dua di dada jersey mereka. Juventus merupakan klub  raksasa sepakbola dunia yang malam ini akan mencatatkan sejarah penting sepakbola Italia dan dunia.

0 Maka, Meledaklah GBK

Rabu, 07 September 2011


Hei..

Sepakbola disukai oleh lintaskalangan dengan tanpa mengenal pembatasan apa pun. Banyak antusias yang membuat olahraga termasyur di dunia ini digandrungi, mulai dari klub kesayangan, ikut-ikutan pacar bahkan dikarenakan rivalitas antarkomunitas/daerah/negara.

Takdir dalam sepakbola tak jauh beda dengan cabang olahraga lainnya. Membawa suka cita meraih kemenangan. Tertunduk lesu karena kalah atau menggumam geram karena meraih hasil seri. So, ketiga takdir ini tentu berdampak luar-dalam bagi semua fragmen sepakbola (tim). 11 orang pemain memang bertanggungjawab kepada pelatih dan segenap official untuk mengeluarkan semua kemampuan agar kemenangan dan poin sempurna dapat diraih.

Sampai di situkah?

0 Meja Otak

Senin, 05 September 2011

Hei...

"Rugilah orang yang tidak bertemu minimal satu orang baru dalam satu hari"

Blog ini rasanya kusam banget kalo gak diapdet, sudah sekita 4 bulan ia didiemin sama pemiliknya yang kabur (nunjuk idung sendiri). Bukan karena gak kepengen ngapdet sih, tapi lebih kepada kondisi yang tidak memungkinkan. Pertama, di kampungku Tameran (12 km dari kota Bengkalis) belum terjamah provider Ax*s yang selama ini kugunakan untuk modem dan berinternetan ria di Semarang. Alhasil aku hanya bisa liat-liat fb ama twitter via hape. Kedua, kebersamaan dengan keluarga terkadang membuatku lupa dan malas menulis. haha, yang kedua ini patut untuk tidak ditiru sobat.

0 Asep Samboja dan Dekonstruksi Sejarah*

Rabu, 13 April 2011

Belum pernah kudengar nama ini sebelum akhirnya sebuah buku sampai ketangan, diberikan Adin, Direktur Hysteria untuk dibedah. Aku sempat mengeluh melihat buku tebal itu, bukan karena tidak suka membaca, tapi lebih dikarenakan siangnya aku baru membeli 5 buku baru—yang juga tidak tipis—yang sudah kuurutkan jadwal bacanya.

Urutan segera kuganti, buku ‘Asep Sambodja Menulis’ segera kubaca, sesuai tabiatku dalam membaca buku, tak pernah aku melompat dari bagian ke bagian, aku harus tahu bahkan dari kata pengantarnya sekali pun. Terbukti, kutemukan jawaban dari pertanyaan, “kenapa buku ini harus kubaca?”. Nama asing itu mulai ku kenal sebagai sosok berpandangan objektif terhadap sejarah dan melakukan kerja mulia agar supaya kebohongan di buku-buku sejarah yang menjadi doktrin dari generasi ke generasi dapat terkikis, sedikit demi sedikit. Aku juga baru tahu, tokoh yang baru kukenal itu sudah menutup pengabdiannya di dunia, khususnya perjuangan—belum selesai—mengoreksi fakta sejarah.


Generasi yang hidup pra-tragedi 1965-1966 adalah pendengar dongeng yang dihembuskan oleh rekaman-rekaman peristiwa. Apa jadinya ketika doktrinisasi menjadi bahan masakan yang tersantap habis tanpa ada yang mencegah dan menegah, untuk mengoreksi dan menyadarkan bahwa proses perpolitikan ketika itu mempunyai kekuatan yang sangat besar, bukan saja untuk membunuh manusia, tapi juga membunuh suara—media aspirasi.



Penulisan sejarah saat itu dapat dikatakan sebagai mediator untuk melengkapkan pembenaran terhadap perbuatan keji yang telah diperbuat. Generasi setelah tragedi disiapkan untuk ikut pada satu jalan yang telah diskenariokan, tak lain bertujuan agar tak banyak suara kritikan yang muncul, dan di masa depan, kekejian tersebut tetap bertahan menjadi kebenaran.

Secara umum, penggubahan fakta sejarah itu bisa dikatakan berhasil, jika melihat bagaimana pihak yang ‘dikutuk’ oleh ‘yang terkutuk’ hidup seperti sampah yang bau dan harus disingkirkan keberadaannya. PKI tidak sepenuhnya benar, tapi PKI tidak sepenuhnya salah, lalu penggubahan sejarah berhasil membuat PKI dilatenkan sebagai virus bangsa, dari generasi ke generasi.

Pembantaian massal yang terjadi pada tahun 1965 disebut sebagai tragedi terburuk yang pernah ada di peta sejarah Indonesia. Angka korban tewas tidak bisa disebutkan secara pasti, namun diperkirakan setidaknya ada setengah juta orang dibunuh. Anggota Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) mendapat hal serupa, bahkan selain dibunuh, mereka diperkosa. Seratusan ribu orang ditahan tanpa diadili secara jelas. Bahkan, keturunan PKI dari generasi ke generasi yang tidak telibat dan tahu menahu ikut dibebankan hukuman dengan pembunuhan karakter.

Asep Sambodja merekam dengan sangat baik polemik sastra terbesar yang pernah ada di arena kesusastraan Indonesia. Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dengan moto ‘politik sebagai panglima’ ditentang oleh kelompok yang tergabung dalam Manikebu (Manifes Kebudayaan) dengan paham ‘humanisme universal’. Lekra yang dianggap bagian dari PKI dikecam dan ikut menjadi korban dalam tragedi ’65.

Hadiah Magsaysay yang diberikan kepada Pramodya Ananta Toer menjadi sasaran kritik dari penyair Manikebu, mereka memertanyakan keabsahan even tersebut karena menobatkan penyair Lekra yang dikecam dengan tindakan kekerasan dan pembakaran buku sebagai seorang yang patut dihormati di dunia sastra.
Tidak hanya membicarakan polemik seputar Lekra dan Manikebu, Asep Sambodja juga menulis tentang polemik antara Boemipoetra—jurnal sastra—dengan Goenawan Muhammad dan TUK (Teater Utan Kayu). Jurnal tersebut mengkritik keras GM dengan tuduhan sebagai media masuknya paham liberalisme dalam kebudayaan. Saut Situmorang adalah yang paling sering muncul dengan artikel-artikel dalam jurnal tersebut, menganggap ada sesuatu dibalik terpilihnya Ayu Utami sebagai pemenang sayembara novel IKJ dengan novel Saman. Mereka juga menolak adanya sastra kelamin.

Asep Sambodja yang juga hidup pra-tragedi ’65 rupanya tidak terkena doktrinisasi penguasa prihal kebenaran yang dihembuskan selama ini. Ia mengungkapkan, pembunuhan massal tersebut bisa saja karena keinginan besar Soeharto untuk merebut kekuasaan tertinggi. PKI adalah simpatisan Soekarno yang sangat mendukung paham Nasakom-nya, tentunya massa yang besar ini harus dikurangi agar jalan menuju kekuasaan semakin mudah.


Membaca buku ini, membawa kita pada perspektif lain sejarah, kita dibenturkan oleh pengetahuan umum dan kenyataan gamblang yang diungkapkan, bukan semata dongeng, namun berisikan kekuatan fakta tertulis.

Selamat jalan, Asep Sambodja



Peringatan

Jika rakyat pergi
Ketiika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat sembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat tidak berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!

Wiji Thukul
Solo, 1986



Ditulis oleh Qur’anul Hidayat Idris untuk acara bedah buku Asep Sambodja Menulis, yang diadakan komunitas Hysteria dan Dekase tanggal 12 April 2011