Tampilkan postingan dengan label esai budaya dan kesenian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label esai budaya dan kesenian. Tampilkan semua postingan

0 Maka, Meledaklah GBK

Rabu, 07 September 2011


Hei..

Sepakbola disukai oleh lintaskalangan dengan tanpa mengenal pembatasan apa pun. Banyak antusias yang membuat olahraga termasyur di dunia ini digandrungi, mulai dari klub kesayangan, ikut-ikutan pacar bahkan dikarenakan rivalitas antarkomunitas/daerah/negara.

Takdir dalam sepakbola tak jauh beda dengan cabang olahraga lainnya. Membawa suka cita meraih kemenangan. Tertunduk lesu karena kalah atau menggumam geram karena meraih hasil seri. So, ketiga takdir ini tentu berdampak luar-dalam bagi semua fragmen sepakbola (tim). 11 orang pemain memang bertanggungjawab kepada pelatih dan segenap official untuk mengeluarkan semua kemampuan agar kemenangan dan poin sempurna dapat diraih.

Sampai di situkah?

0 Asep Samboja dan Dekonstruksi Sejarah*

Rabu, 13 April 2011

Belum pernah kudengar nama ini sebelum akhirnya sebuah buku sampai ketangan, diberikan Adin, Direktur Hysteria untuk dibedah. Aku sempat mengeluh melihat buku tebal itu, bukan karena tidak suka membaca, tapi lebih dikarenakan siangnya aku baru membeli 5 buku baru—yang juga tidak tipis—yang sudah kuurutkan jadwal bacanya.

Urutan segera kuganti, buku ‘Asep Sambodja Menulis’ segera kubaca, sesuai tabiatku dalam membaca buku, tak pernah aku melompat dari bagian ke bagian, aku harus tahu bahkan dari kata pengantarnya sekali pun. Terbukti, kutemukan jawaban dari pertanyaan, “kenapa buku ini harus kubaca?”. Nama asing itu mulai ku kenal sebagai sosok berpandangan objektif terhadap sejarah dan melakukan kerja mulia agar supaya kebohongan di buku-buku sejarah yang menjadi doktrin dari generasi ke generasi dapat terkikis, sedikit demi sedikit. Aku juga baru tahu, tokoh yang baru kukenal itu sudah menutup pengabdiannya di dunia, khususnya perjuangan—belum selesai—mengoreksi fakta sejarah.


Generasi yang hidup pra-tragedi 1965-1966 adalah pendengar dongeng yang dihembuskan oleh rekaman-rekaman peristiwa. Apa jadinya ketika doktrinisasi menjadi bahan masakan yang tersantap habis tanpa ada yang mencegah dan menegah, untuk mengoreksi dan menyadarkan bahwa proses perpolitikan ketika itu mempunyai kekuatan yang sangat besar, bukan saja untuk membunuh manusia, tapi juga membunuh suara—media aspirasi.



Penulisan sejarah saat itu dapat dikatakan sebagai mediator untuk melengkapkan pembenaran terhadap perbuatan keji yang telah diperbuat. Generasi setelah tragedi disiapkan untuk ikut pada satu jalan yang telah diskenariokan, tak lain bertujuan agar tak banyak suara kritikan yang muncul, dan di masa depan, kekejian tersebut tetap bertahan menjadi kebenaran.

Secara umum, penggubahan fakta sejarah itu bisa dikatakan berhasil, jika melihat bagaimana pihak yang ‘dikutuk’ oleh ‘yang terkutuk’ hidup seperti sampah yang bau dan harus disingkirkan keberadaannya. PKI tidak sepenuhnya benar, tapi PKI tidak sepenuhnya salah, lalu penggubahan sejarah berhasil membuat PKI dilatenkan sebagai virus bangsa, dari generasi ke generasi.

Pembantaian massal yang terjadi pada tahun 1965 disebut sebagai tragedi terburuk yang pernah ada di peta sejarah Indonesia. Angka korban tewas tidak bisa disebutkan secara pasti, namun diperkirakan setidaknya ada setengah juta orang dibunuh. Anggota Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) mendapat hal serupa, bahkan selain dibunuh, mereka diperkosa. Seratusan ribu orang ditahan tanpa diadili secara jelas. Bahkan, keturunan PKI dari generasi ke generasi yang tidak telibat dan tahu menahu ikut dibebankan hukuman dengan pembunuhan karakter.

Asep Sambodja merekam dengan sangat baik polemik sastra terbesar yang pernah ada di arena kesusastraan Indonesia. Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dengan moto ‘politik sebagai panglima’ ditentang oleh kelompok yang tergabung dalam Manikebu (Manifes Kebudayaan) dengan paham ‘humanisme universal’. Lekra yang dianggap bagian dari PKI dikecam dan ikut menjadi korban dalam tragedi ’65.

Hadiah Magsaysay yang diberikan kepada Pramodya Ananta Toer menjadi sasaran kritik dari penyair Manikebu, mereka memertanyakan keabsahan even tersebut karena menobatkan penyair Lekra yang dikecam dengan tindakan kekerasan dan pembakaran buku sebagai seorang yang patut dihormati di dunia sastra.
Tidak hanya membicarakan polemik seputar Lekra dan Manikebu, Asep Sambodja juga menulis tentang polemik antara Boemipoetra—jurnal sastra—dengan Goenawan Muhammad dan TUK (Teater Utan Kayu). Jurnal tersebut mengkritik keras GM dengan tuduhan sebagai media masuknya paham liberalisme dalam kebudayaan. Saut Situmorang adalah yang paling sering muncul dengan artikel-artikel dalam jurnal tersebut, menganggap ada sesuatu dibalik terpilihnya Ayu Utami sebagai pemenang sayembara novel IKJ dengan novel Saman. Mereka juga menolak adanya sastra kelamin.

Asep Sambodja yang juga hidup pra-tragedi ’65 rupanya tidak terkena doktrinisasi penguasa prihal kebenaran yang dihembuskan selama ini. Ia mengungkapkan, pembunuhan massal tersebut bisa saja karena keinginan besar Soeharto untuk merebut kekuasaan tertinggi. PKI adalah simpatisan Soekarno yang sangat mendukung paham Nasakom-nya, tentunya massa yang besar ini harus dikurangi agar jalan menuju kekuasaan semakin mudah.


Membaca buku ini, membawa kita pada perspektif lain sejarah, kita dibenturkan oleh pengetahuan umum dan kenyataan gamblang yang diungkapkan, bukan semata dongeng, namun berisikan kekuatan fakta tertulis.

Selamat jalan, Asep Sambodja



Peringatan

Jika rakyat pergi
Ketiika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat sembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat tidak berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!

Wiji Thukul
Solo, 1986



Ditulis oleh Qur’anul Hidayat Idris untuk acara bedah buku Asep Sambodja Menulis, yang diadakan komunitas Hysteria dan Dekase tanggal 12 April 2011

0 Menghemah Budaya, menjamah sejarah

Senin, 14 Maret 2011
(barusan bongkar dokumen di laptop, ketemu sama tugas semester I tentang kunjungan ke Museum Ronggowarsitho. Cekidooot)



Ujian Filologi kurintangi dengan 85% kesuksesan, meninggalkan sejumput penyesalan yang tidak terelakkan, ya, targetku adalah perfect dan kalau penyakit mental menyeruak saat ujian, gugup, maka semua persiapan yang telah matangpun bisa terpatahkan. Filologi adalah ujian terakhir minggu ini karena esoknya hari sabtu, dan segala macam rencana untuk memulihkan tenaga telah kusiapkan, bangun tidur agak siang lalu internet-an.

1 MARI MENGENAL TARI ZAPIN (EDISI 1) oleh Qur'anul Hidayat Idris

Rabu, 30 Juni 2010

Indonesia menyimpan begitu banyak ragam kesenian. Salah satu yang menonjol adalah kesenian tari. Di Aceh kita mengenal adanya tari Saman, di Bali dengan tarian Kecak dan di Jawa terkenal dengan tari Tayub. Seni tari yang ada di setiap daerah memiliki kekhasannya masing-masing, bahkan menjadi sebuah identitas keeksistensian daerah itu sendiri.
Ragam kesenian menjadi simbol pengenal bagi daerah yang memilikinya, kekuatan dalam menyebar dan memperluas kesenian tersebut menjadi celah semakin mengukuhkan kesenian di ranah yang lebih luas. Selain pengakuan yang dianggap penting untuk mematenkan, nilai pariwisata juga menjadi incaran APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah). Sehingga, tidak mengherankan menjadi komoditas yang bisa menjadi jalur penghubung berdatangannya wisatawan lokal maupun mancanegara.
Dapat dilihat bagaimana Bali bisa mengukuhkan diri sebagai tempat pariwisata yang kuat, mereka mampu menarik wisatawan dengan menjadikan kesenian sebagai jalur penghubungnya. Hal ini menyebabkan objek-objek wisata lainnya mendapat imbasnya.
Tari zapin, merupakan salah satu dari banyaknya tarian daerah yang ada. Tarian yang pada awalnya dibawa oleh orang-orang Yaman dan Gujarat untuk menyiarkan islam. Tindakan penyiaran mendapat sambutan yang baik dari masyrakat Melayu, khususnya di Riau waktu itu.
Di dalam makalah ini nantinya, akan dipusatkan perhatian pada tari zapin yang ada di Kabupaten Bengkalis, yang merupakan bagian dari Propinsi Riau. letak geografisnya yang dekat dengan Selat Melaka membuat daerah ini menjadi begitu kental dalam khazanah kebudayaan melayunya. Apalagi pada awal tarian ini diperkenalkan oleh pedagang-pedagang Arab, belum terjadi pemisahan batas negara dengan Malaysia, sehingga disebut serumpun.
Tari zapin sarat dengan nuansa keislaman, mulai dari gerakan dan pakaian yang sopan, juga dengan music pengiring sederhana.

Sejarah Tari  Zapin Masuk ke Riau

 Pada masa lampau, penyebaran kepercayaan dilakukan melalui media perdagangan. Cara seperti ini sangat efektif pada saat itu, berhubung masyarakat masih sangat bertopang pada sistem interaksi lisan, segala informasi dengan cara bercerita dan disampaikan langsung akan sangat mempengaruhi warga pribumi. Semua kepercayaan yang ada di Indonesia kalau dilihat sejarahnya, tidak akan lepas dari penyebarluasan melalui media dagang.
Bangsa Arab termasuk salah satu negara yang senang berkelana membawa hasil-hasil kerajinan; seperti permadani, batu permata dan beragam pernak-pernik aksesoris yang berbau ke-araban. Berbagai belahan dunia mereka singgahi, dari mulai bangsa-bangsa Eropa, Afrika termasuk Asia.
Selain berdagang, para pedagang dari negeri Arab mempunyai misi menyampaikan dan mendakwahkan agama Islam kepada siapa pun yang mereka temui. Bahkan tidak jarang mereka memperistri gadis-gadis pribumi dengan tujuan mendekati keluarga wanita secara personal dan bisa memiliki keturunan di tempat yang mereka singgahi.
Tidak mengherankan bila di Indonesia sendiri banyak kelompok masyarakah Arab yang menempati suatu bagian wilayah. Tapi pada umumnya mereka menyebar dan menyisakan gurat-gurat fisik pada keturunannya.
Untuk tarian zapin sendiri dibawa oleh orang-orang dari Yaman dan Gujarat ke Indonesia di awal abak ke-16. Mereka datang ke tanah melayu, khususnya Riau untuk berdagang hasil kerajinan dan menyebarluarkan agama islam.
                                               Gambar 2: Peta Gujarat

Menyebarluaskan agama tidak bisa disamakan ketika menawarkan barang yang hendak di jual. Selain warga pribumi sudah memiliki kepercayaan peninggalan nenek moyang atau yang bersifat anemisme, masalah kepercayaan juga sangat sensitif bila disampaikan secara vocal, cara terbaik adalah dengan cara persuasif atau ajakan yang bersifat pengertian dan kelembutan.
Penyampaian secara vocal tanpa gerakan permisif hanya akan menimbulkan kecurigaan yang pada akhirnya berdampak pada pembencian dan perpecahan. Hal lain yang bisa diakibatkan adalah semakin menguatnya primordialisme di tengah masyarakat.
Media yang di pilih oleh bangsa Arab untuk mendekati warga pribumi supaya percaya maksud dan tujuan mereka datang adalah  dengan memperkenalkan kesenian dan kebudayaan yang mereka miliki. Terbukti, cara ini efektif membuat antara para pengelana dan masyarakat tercipta kedekatan secara emosional melewati batas ras, bangsa dan karakter fisik.
Di daerah Yaman dan Gujarat sendiri terdapat sebuah tarian dengan karakteristik dan corak islam yang kuat menggunakan alat musik utama sebuah marwas. Tarian tersebut mulai diperkenalkan kepada warga pribumi sekaligus menunjukkan beragam ciri khas agama islam.
Diawal masuknya, tarian ini sangat digemari oleh para raja-raja di tanah melayu, seperti kerajaan Melaka dan Siak. Celah ini juga yang membuat mereka lebih leluasa bergerak dengan sedikit demi sedikit melakukan pendekatan terhadap pihak kerajaan. Bahkan pada akhirnya raja-raja tersebut menerima islam menjadi kepercayaan mereka. Kondisi ini membuat animo kepercayaan kian luar biasa, mengingat pada zaman dahulu seorang raja adalah “tuhan kecil” di daerah kekuasaannya, sehingga segala pilihan dan tindakannya di anggap keramat dan selalu benar.
Akulturasi budaya telah berlangsung dengan mulus. Pedagang-pedagang dari Yaman telah meninggalkan kebudayaan dan kesenian baru yang sangat disenangi raja-raja—pada awalnya. Pada waktu itu, sesuatu yang dilakukan seorang raja pantang dan dianggap menentang apabila diikuti oleh rakyat biasa. Seperti tari zapin, perkembangannnya hanya di seputar kerajaan sebagai hiburan bagi raja dan keluarganya.
Keadaan seperti ini terjadi dalam kurun waktu yang lama, masyarakat hanya bisa mendengar cerita-cerita tentang tari zapin dari beberapa orang warga yang kebetulan berani untuk mengintip aktifitas di dalam kerajaan. Namun untuk mempraktekkan gerakannya mereka tidak berani dan tidak mau menghadapi hukuman yang berat, di hukum mati.
Hingga pada akhirnya seiring perkembangan zaman dan perubahan pola pikir. Banyak masyarakat yang berani secara diam-diam menirukan gerakan yang ada di zapin. Cara yang dilakukan masyarakat ini akhirnya merubah suatu hal yang fundamen pada tarian zapin yakni merubah bentuk tarian yang dimainkan oleh –hanya—laki-laki menjadi percampuran antara laki-laki dan perempuan atau pun semuanya hanya perempuan.
Kerajaan semakin kehilangan pamornya karena tidak mampu menguasai masyarakat yang gencar menarikan zapin secara sembunyi-sembunyi. Sampai pada akhirnya keadaan berubah. Raja pada waktu itu mengizinkan tari zapin menjadi tarian rakyat yang bebas ditarikan oleh siapa pun. Keputusan ini juga berbarengan dengan perubahan bentuk tarian dari segi para penarinya.
Inilah titik dimana zapin memiliki wajah baru sehingga berkembang secara normal sesuai zamannya. Tarian yang awalnya hanya dimiliki oleh seorang raja kini menjadi milik rakyat. Mereka merayakan dan menghibur diri dengan tari zapin, sehingga lama-kelamaan tarian ini mulai kembali tersebarkan di jagad nusantara dengan pembawanya masyarakat melayu itu sendiri.

note: materi saya dapatkan dari pembelajaran Muatan Lokal di SMP dan SMA di Kab. Bengkalis-Riau