2 Kemarahan di Mesin ATM
Diposting oleh
Kampung Karya
Senin, 20 September 2010
Label: seni, puisi, artikel, cerpen, esai
catatan kampoeng-ku
2
komentar
aku berangkat dari rumah menuju Bengkalis kota untuk menyelesaikan beberapa urusan yang sempat tertunda, ya aku harus segera mengambil ijazah dari sekolahku, SMAN 01 Bengkalis. keterlambatan pengambilan sebenarnya amat berlebihan--kelamaan. bayangkan saja sudah satu tahun setengah ijazah itu nangkring di ruangan Pak Burhan (kepala TU sekolah). alasannya jelas sih, setamat sekolah aku melanjutkan kuliah ke Undip Semarang mengambil Prodi Sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya. kalau kalian punya peta sekarang, coba liat jarak Riau yang di pulau Sumatera sama Semarang di pulau Jawa, tepatnya Jawa Tengah, luar biasa n g g a k deket. memang sekarang dengan pesawat semua jadi cepat, tapi bukan itu masalahnya cuy, dananya dapat darimana kalo keseringan pulang, hehe --disemarang masih pengangguran lagi soalnya *malu. alhasil kepulanganku ke kampung tercinta hanya setahun sekali.
dari kampungku ke Bengkalis Kota hanya berjarak 12 KM, kutempuh 20 menit naik motor. di tengah perjalanan, entah kenapa ada yang aneh dengan perasaanku. semakin dekat jarakku dengan lokasi sekolah, jantungku semakin bergelombang-gelombang--diksinya alay, hehe. apalagi pas punggung gedung sekolah kulihat dari jauh, seperti magnet, otakku bagai ditarik sampai dikeroyok untuk kembali singgah pada masa aku masih sekolah. ah, itulah ingatan agaknya, ia punya pikiran sendiri dan punya kehendaknya sendiri, lihat saja, tanpa sadar sebagian kenangan yang memberkas melintas tanpa rambu, meluncur saja seenaknya. dan aku mau tak mau harus menitikkan.... hehe,, nggak", hanya sedikit menitikkan peluh segede butir jagung.
sesampainya di gedung depan sekolah, kulihat beberapa guru duduk disitu--sudah jamnya istirahat ternyata. ingatan itu pun sekarang mempersempit diri, turun ke setiap guru yang kulihat. Pak EM yang super gal*ak tapi romantis (loh, gimana tuh?). Pak Ion, guru olahraga yang perhatian dan beberapa pria lain--sepertinya guru baru--yang kusalami dengan menciun tangan (gini gini anak baik tau!). sekolah masih seperti dahulu, hanya perubahan yang nggak mencolok, salah satunya kumis Pak Kepala Sekolah yang jadi agak tebal.. :)
ringkas punya ringkas, setelah bolak-balik beberapa kali dari ruangan TU-KEPSEK yang membuat pegel--ruangannya beda lantai. akhirnya semua beres, ijazah sama legalisirnya sudah kupegang. (maaf ya baru paragraf ini yang ke berkenaan judul 0_0) saat mengambil motor di parkiran sekolah, aku melihat jam di Hape dan masih teramat pagi menurutku, nah mulailah pikiranku berkeliaran kemana-mana, walau akhirnya tetap saja kecemplung ke suatu tempat favoritku, WARNET dan sekarang ini aku lagi nulis (waah, satuan waktu cerita jadi kacau *berpikir keras)
tenang-tenang, gini aja ceritanya. sesaat setelah ide ke WARNET tercetus, aku langsung mengingat sesuatu yang berhubungan dengan warnet. (komputer?) bukan (Headphone) no no (pengunjung warnet?) ogah (atau penjaga warnet?) idddiiih, kan cowok... (lalu?) ahaa,, nanyanya gitu aja dari tadi, jadi bisa kujawab. setelah usut punya usut dengan melirik kecil benda segi empat di saku belakang (dompet?) tumben pinter! iya,, deh o do em pe e et a.k.a dompet. apa yang terjadi membuatku miris bahkan sedih, di dalam hanya ada selembar kertas (sepuluh ribuan?) bukan dodol, seribuaaaann :(
--cendol aja nggak cukup segitu, paling dikasi sedotan doang--
miris bin tragis nasibku,,
tapi semua gampang setelah ada ini--benda persegi empat bertulis ATM-- (apa tuh?) ah masa nggak tahu, itu tuh Alat gesek-gesek atau kalau inggrisnya Automatic Teller Machine--bukan Autobot Teler Mabok. nah, sesampainya di depan TKP, hatiku sedikit tenang melihat yang antri cuma tiga orang, lekas ku parkirkan motor lalu masuk ke antrian paling belakang.
satu menit,
dua menit, (aku masih goyang-goyang kaki, soalnya otakku lagi ngeRidho Rhoma, wkk. *ini fiktif lo)
tiga
...
...
15 menit tuh orang yang di dalem gk keluarkeluar. Tape kumatikan, nah. ternyata orang yang di depanku sudah benar-benar resah (baca : marah) hehe... aku pun mulai gundah (baca : sebel)
orang pertama melongok melihat kaca ruang ATM diikuti orang kedua, orang ketiga menatap ketus, (kamu?) karena penasaran, aku bukannya ngeliat ke dalem, tapi ngeliat orang yang di depanku.. --liat dialog mereka ya!
org 1 : kenape lame sekali? (karena ini real, kutulis pake bahasa mereka dan aku, Melayu)
org 2 : tertidur dio agaknyo! huh
(orang ketiga mengetok pintu ATM, tidak ada tanda-tanda usai)
(suasana sejenak hening dengan mata-mata terus melirik ke dalam ruang ATM)
org 3 : mungkin, die main poker dekat dalam
org 1 : aah, kalau nak ngalahkan aku. kuajak dio tanding di facebook *ni orang emosi
(lah, dialogmu mana dudul?) nggak pake dialog, cuma pake ngakakkkk,,, hahaha... ada orang main poker di ATM, itukan imajinasi luar biasa. (dasar!)
ya, begitulah kondisi yang kualami hari ini, keadaan makin parah setelah dibelakangku muncul wajah-wajah pengantri baru. akhirnya setelah hampir setengah jam orang yang di dalam keluar (apa dia minta maaf?) kagaaak, malah mukanya berlalu tanpa dosa, ditambah sedikit garam asem.
yah, setelah dia keluar sirkulasi penumpang, eh pengguna ATM pun lancar, aku sendiri hanya butuh waktu 20 detik hehe,--maklum yang kuambil cuma 50 ribu,, wkwkwk. aku pun membayar parkir, tancap dan akhirnya sampai di WARNET dan sekarang lagi mengetik di blog (tentang apa?) tentang apa lagi dudul? ya cerita inilah.
mungkin pembaca sudah bisa menangkap apa hikmah yang dapat diambil dari catatan kampoengku karya ini. (apa ya?) gak tanya lu!.. intinya, di dalam masyarakat kita mengenal adanya fasilitas umum. liat tuh namanya FASILITAS UMUM, artinya digunakan secara kolektif, bersama-sama dan hak kepemilikannya 'satu buat semua'. nah untuk fasilitas umum ini tidak ada larangan bagi siapa pun untuk dapat menggunakannya. WC umun, telepon umum, jalan, penyeberangan, termasuk ATM.
menggunakan fasilitas umum harusnya cepat, tepat dan efesien. CEPAT. karena nih yang menggunakan banyak, tidak bisa didalamnya kita berlama-lama, seperti main poker, pacaran atau tiduran, hehe. semua harus dilakukan super ringkas. menanggapi masalah yang terjadi di mesin ATM tadi, memang kalau kita selidik akan kita dapati pengguna yang berlama-lama itu melakukan transaksi lebih dari lima kali--ngambil gaji karyawan misalnya. namun prihal itu tidak bisa dilakukan sekaligus dalam satu kesempatan, ia harus mempunyai empati untuk secara bertahap menyelesaikan urusannya--dua transaksi dalam sekali masuk contohnya. karena ini akan sangat mengganggu pengguna lain yang juga memiliki keterbatasan dalam waktu dan tidak selazimnya mengalami hal seperti itu.
TEPAT, kalau seandainya kita belum tahu penggunaannya atau rasanya itu tidak penting --mau belajar gunain ATM--ketika jam sibuk, maka batalkan. carilah waktu-waktu kosong, seperti di malam hari agar kita bisa sepuasnya di dalam ruang ATM (nah, boleh tuh pokeran).
EFESIEN, ini menyangkut interaksi sosial yang tidak bisa menerapkan hukum individualitas didalamnya, kita harus saling tahu, artinya tahu dengan kepentingan kita dan kepentingan orang lain, sehingga penggunaan yang efesien dapat mengurangi panjang antrian di tempat fasilitas umum. ingat, antri itu melelahkan dan semua orang tidak menyukainya. antri kerap bisa meningkatkan sensitifitas dan meledaknya amarah. nah. lakukanlah dengan efesien, bagi kita dan orang lain..
(aku melihat bill, waaaaaaaaaaah,,, udah 6 ribu.. hehehe)
nah, sampai disini ya blogger mania, semoga besok masih bisa ngisi nih blog lagi... si yu nek tayem..........
oleh, Qur'anul Hidayat Idris
Bengkalis, 20-09-2010
0 OASIS PERJALANAN V
Diposting oleh
Kampung Karya
Minggu, 12 September 2010
Label: seni, puisi, artikel, cerpen, esai
puisi
0
komentar
RUMAH
lempung dalam takaran jemarimu
menata sisi dan beberapa gambar mata
kau jerat semesta
di jagat kau carikan aku 7 malam
tanpa derai
coba membaca ngarai
disanalah tempatmu
menjadikan patri
sebelah kamar membelah sungai
dan membangun sebuah rumah
:kita
MALAM KE-7
kuciumi diammu
entah kenapa, dimalam ke-7
genangan apa kasih?
bukankah sudah kubuat rawarawa
disanalah kita susur jalan perit
dilembat tungku dan perapian pahit
entah kenapa, di malam ke-7
kau membawaku rajuk
tak mempan kubujuk
ah,
VAS
kau suka vas oranye di simpang sebelah perempatan itu, ya
aku tahu
akan kumasak matangmatang di bibirku
kupasang di keningmu
setelah tumbuh bunga
kusemai di depan rumah
setiap hari, kan kau lihat airmataku menyiraminya
Bengkalis, 7 September 2010
terakhir 15.22
Qur'anul Hidayat Idris
lempung dalam takaran jemarimu
menata sisi dan beberapa gambar mata
kau jerat semesta
di jagat kau carikan aku 7 malam
tanpa derai
coba membaca ngarai
disanalah tempatmu
menjadikan patri
sebelah kamar membelah sungai
dan membangun sebuah rumah
:kita
MALAM KE-7
kuciumi diammu
entah kenapa, dimalam ke-7
genangan apa kasih?
bukankah sudah kubuat rawarawa
disanalah kita susur jalan perit
dilembat tungku dan perapian pahit
entah kenapa, di malam ke-7
kau membawaku rajuk
tak mempan kubujuk
ah,
VAS
kau suka vas oranye di simpang sebelah perempatan itu, ya
aku tahu
akan kumasak matangmatang di bibirku
kupasang di keningmu
setelah tumbuh bunga
kusemai di depan rumah
setiap hari, kan kau lihat airmataku menyiraminya
Bengkalis, 7 September 2010
terakhir 15.22
Qur'anul Hidayat Idris
0 OASIS PERJALANAN IV
DEBUR
bulan merebah mamah di pangkuanku
diujung lidah pantai
kusemai butir doa
terserah pada bakau
dan liangliang derita
'di semak aku mengutip sepadan jalan,
mendarat tak tepat di sampan''
diujung lidah pantai
hikayat jatuh menyebut tapak lapuk
kakikai pemijak usang berlinang timang
'doi, nak!"
ditatap seratap bekap
bulan lagilagi menampik kedatanganku
padanya berpuluh putar getar jam
jaman
dan semua taman pengikatan
'di semak aku mengutip sepadan jalan,
kapan bulan mendaratkan sampan?'
HIKAYAT SAMPAN
berkata sebab itu rebab dibunyi nampan
tang tang
seperti bocor yang asin
badanbadan laut terhenti membangun sauh
di tangan beberapa nelayan
singgah berbutir ketam dan anakanak tanah
di bocor yang mulai ubin
kilap tersarap ayat miskin
bersurah jejal saat airmata bertampin
melempar pukat
melempar jerat
tang tang
rebab dibunyi
nampan dan serongkeng
membentuk wajah berdada pasir
tempat henti
yang jauh di tunai kayuh
SAUH
di atap
tubuh berendam
mengembang menjadi bukan bunga
bukan raga
sebenar kusam yang jaga
putih menghitam
melayang
layang
melayang
:layang
poripori campak ke gigitan
di eluh yang aduh
ada senyum mengembang
:sayang
melayang
berkali
layang
tinggi
ah, bukankah tak pernah berhenti
ATAS BAWAH
dimuka lupa
tertenteng sebadan kemban
lamat tersentap badan bulan
untuk ini malam jadi santapan
Bengkalis, 06 September 2010
terakhir di 12.27
Qur'anul Hidayat Idris
bulan merebah mamah di pangkuanku
diujung lidah pantai
kusemai butir doa
terserah pada bakau
dan liangliang derita
'di semak aku mengutip sepadan jalan,
mendarat tak tepat di sampan''
diujung lidah pantai
hikayat jatuh menyebut tapak lapuk
kakikai pemijak usang berlinang timang
'doi, nak!"
ditatap seratap bekap
bulan lagilagi menampik kedatanganku
padanya berpuluh putar getar jam
jaman
dan semua taman pengikatan
'di semak aku mengutip sepadan jalan,
kapan bulan mendaratkan sampan?'
HIKAYAT SAMPAN
berkata sebab itu rebab dibunyi nampan
tang tang
seperti bocor yang asin
badanbadan laut terhenti membangun sauh
di tangan beberapa nelayan
singgah berbutir ketam dan anakanak tanah
di bocor yang mulai ubin
kilap tersarap ayat miskin
bersurah jejal saat airmata bertampin
melempar pukat
melempar jerat
tang tang
rebab dibunyi
nampan dan serongkeng
membentuk wajah berdada pasir
tempat henti
yang jauh di tunai kayuh
SAUH
di atap
tubuh berendam
mengembang menjadi bukan bunga
bukan raga
sebenar kusam yang jaga
putih menghitam
melayang
layang
melayang
:layang
poripori campak ke gigitan
di eluh yang aduh
ada senyum mengembang
:sayang
melayang
berkali
layang
tinggi
ah, bukankah tak pernah berhenti
ATAS BAWAH
dimuka lupa
tertenteng sebadan kemban
lamat tersentap badan bulan
untuk ini malam jadi santapan
Bengkalis, 06 September 2010
terakhir di 12.27
Qur'anul Hidayat Idris
0 OASIS PERJALANAN III
Diposting oleh
Kampung Karya
Rabu, 01 September 2010
Label: seni, puisi, artikel, cerpen, esai
puisi
0
komentar
TEDUH
disana tempat semua berujung
danaudanau berpalung
selat terlarung
hingga airmata terpasung
datang itu menyeduh kopikopi pekat
berapa gelas, atau segelas berserat
:malam lengah
dentang dipan kehabisan peradu
menunggu secarik ampunan
teduh di pasir nadi
teduh di jalan menuju sunyi
KERUH
sekawanan nyawa melenggang
namun tak sedikit berlalu terbang
lalu tambatanmu dimana?
nyawa yang penuh
menyesak sentuh tergaduh
keruh
sekawanan nyawa melenggang
namun tak sedikit berlalu terbang
lalu pelabuhanmu dimana?
apa sebatas pandang
lewat dan tak tepat menghitung gersang
(sekedar) tumbang
sekawanan nyawa melenggang
namun tak sedikit berlalu terbang
lalu singgahmu dimana?
kelana tak perih
hanya rupa gerai tak putih
berpuring pedih
LEPUH
dilangit
tersulam peta perjalanan
ke teduh
ke keruh
atau lepuh
dilangit
tersulam abstraksi kehidupan
realitakan
bumikan
ditanah kau berperan
aktor
pengatur selangkah
papan panggung
atau berhenti di cenung
bingung
Bengkalis, 01 September 2010
Qur'anul Hidayat Idris
disana tempat semua berujung
danaudanau berpalung
selat terlarung
hingga airmata terpasung
datang itu menyeduh kopikopi pekat
berapa gelas, atau segelas berserat
:malam lengah
dentang dipan kehabisan peradu
menunggu secarik ampunan
teduh di pasir nadi
teduh di jalan menuju sunyi
KERUH
sekawanan nyawa melenggang
namun tak sedikit berlalu terbang
lalu tambatanmu dimana?
nyawa yang penuh
menyesak sentuh tergaduh
keruh
sekawanan nyawa melenggang
namun tak sedikit berlalu terbang
lalu pelabuhanmu dimana?
apa sebatas pandang
lewat dan tak tepat menghitung gersang
(sekedar) tumbang
sekawanan nyawa melenggang
namun tak sedikit berlalu terbang
lalu singgahmu dimana?
kelana tak perih
hanya rupa gerai tak putih
berpuring pedih
LEPUH
dilangit
tersulam peta perjalanan
ke teduh
ke keruh
atau lepuh
dilangit
tersulam abstraksi kehidupan
realitakan
bumikan
ditanah kau berperan
aktor
pengatur selangkah
papan panggung
atau berhenti di cenung
bingung
Bengkalis, 01 September 2010
Qur'anul Hidayat Idris
1 Jangan Biarkan Penyesalan Merenggutmu
Diposting oleh
Kampung Karya
Rabu, 30 Juni 2010
Label: seni, puisi, artikel, cerpen, esai
tulisan motivasi saya
1 komentar
tak bisa kita pungkiri hidup di dunia ini akan memberi dampak dua hal, positif dan negatif. dua hal ini sebenarnya diciptakan, dibuat dan diolah oleh pribadi kita masing-masing. itulah kenapa sering disebut hidup itu pilihan, ya itu tadi, harus memilih yang baik atau yang buruk. keduanya ibarat kutub yang saling tarik-menarik, pengaruhnya dirasakan mampu membawa manusia menjongkok di liang kenegatifan atau mencapai keselarasan dengan menggamit hal positif.
positif dan negatif disini tidaklah mutlak, ia saling berbagi dan melengkapi, cuma yang manakah pembagiannya lebih besar? itu yang menjadi pertanyaan. Manusia sering terjebak dengan "ketidaksempurnaan" dirinya untuk memberi toleansi dan kompensasi berlebihan akan kesalahan atau hal negatif yang dimilikinya, selebihnya menganggap remeh dengan segenap aturan nilai, tatanan, kaidah, pranata sosial, dan berbagai macam hukum tertulis dan tidak, termasuk yang tertinggi yaitu hukum Tuhan.
kesalahan memang harus dimaknai sebagai kesalahan yang memang murni harus dirasakan benar-benar kesalahan terhadap diri, agar sebuah rasa muncul, yakni "penyesalan". penyesalan akan kesalahan memang harus secara hakiki di dapat ketika seseorang memang "terlanjur" atau sudah terjebak dengan kesalahan. perasaan ini semakin mendorongnya untuk sadar akan kesalahannya secara mendalam. Bukan sekedar mengatakan "Aku sadar aku salah" harus ada konsekwensi logis dari kesadaran itu, dan itulah perlunya penyesalan agar ianya dapat bulat menjadi kesadaran yang penuh.
namun, penyesalan menjadi lucu jika hanya akan membuat pelarutan yang lama tanpa "kesadaran yang memperbaiki". ya, itulah inti dari kesadaran, harus bersikap memperbaiki apa yang telah salah. jika hanya sekedar kesadaran, apalah artinya, itu ibarat seremonial ketika petang dan senja datang, lalu seketika menghilang. kesadaran harus menjadi waktu, harus menjadi sinar yang terang sehingga seluruh muka rupanya terlihat dan sedikit demi sedikit mengambil kotoran yang menempel di tubuhnya itu.
kenapa saya menulis judul catatan ini "Jangan Biarkan Penyesalan Merenggutmu" adalah bermaksud hampir mirip dengan yang di atas, namun secara lebih jelas, penyesalan yang ada butuh tindak lanjuk yang membalikkan kesalahan menjadi perbaikan (seperti di atas). penyesalan yang merenggut adalah penyasalan yang malah berkonotasi negatif, penyesalan yang membuat diri jatuh pada titik "nol" hingga merasa "tak pantas".
nah, perasaan "tak pantas" baik itu dalam kata
"tak pantas hidup lagi"
"tak pantas dihatimu lagi"
"tak pantas menjadi hambamu lagi"
"tak pantas memilikimu lagi"
adalah sedikit contoh penyesalan yang menimbulkan perasaan "tak pantas..." yang paling berbahaya adalah yang paling atas, membuat frustasi yang hebat yang pada akhirnya memutuskan untuk bunuh diri. ironis bukan. namun, begitulah hidup, semua saling berpapasan dengan lawan dari yang ada, saling tubrukan nilai, dan saling melengkapi.
konsep penyesalan harus ditegaskan lagi menjadi "langkah bangkit" bukan "jatuh ke titik nol". menjadikannya langkah bangkit akan menimbulkan efek kekuatan yang bahkan tak disangka dari tubuh dan mentalnya, bahkan olehnya sendiri. betapa banyak orang yang melakukan percepatan dan perubahan hebat setelah mengalami kesalahan, lalu menyesal dan melakukan perbaikan. ejekan dianggapnya pemantik yang semakin mengobarkan energi tersembunyi dalam dirinya.
indah bukan sahabat, bila kita semaksimal mungkin mengarahkan pilihan pada yang jerni "positif" walau tak menampik kita pasti mencatat sejarah titik "negatif". ianya perlu perlawanan, dan kau harus semakin menjorok ke kanan...
dan siapa yang ketika sedang mengalami penyesalan ketika membaca tulisan saya ini, segera tangkap nilainya, dan cari pemantik energi dalam tubuhmu. lihatlah apa yang akan kau peroleh dari penyesalan itu... amazing
salam Kampung Karya
Qur'anul Hidayat
30 Juni 2010
1 MARI MENGENAL TARI ZAPIN (EDISI 1) oleh Qur'anul Hidayat Idris
Diposting oleh
Kampung Karya
Label: seni, puisi, artikel, cerpen, esai
esai budaya dan kesenian
1 komentar
Ragam kesenian menjadi simbol pengenal bagi daerah yang memilikinya, kekuatan dalam menyebar dan memperluas kesenian tersebut menjadi celah semakin mengukuhkan kesenian di ranah yang lebih luas. Selain pengakuan yang dianggap penting untuk mematenkan, nilai pariwisata juga menjadi incaran APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah). Sehingga, tidak mengherankan menjadi komoditas yang bisa menjadi jalur penghubung berdatangannya wisatawan lokal maupun mancanegara.
Dapat dilihat bagaimana Bali bisa mengukuhkan diri sebagai tempat pariwisata yang kuat, mereka mampu menarik wisatawan dengan menjadikan kesenian sebagai jalur penghubungnya. Hal ini menyebabkan objek-objek wisata lainnya mendapat imbasnya.
Tari zapin, merupakan salah satu dari banyaknya tarian daerah yang ada. Tarian yang pada awalnya dibawa oleh orang-orang Yaman dan Gujarat untuk menyiarkan islam. Tindakan penyiaran mendapat sambutan yang baik dari masyrakat Melayu, khususnya di Riau waktu itu.
Di dalam makalah ini nantinya, akan dipusatkan perhatian pada tari zapin yang ada di Kabupaten Bengkalis, yang merupakan bagian dari Propinsi Riau. letak geografisnya yang dekat dengan Selat Melaka membuat daerah ini menjadi begitu kental dalam khazanah kebudayaan melayunya. Apalagi pada awal tarian ini diperkenalkan oleh pedagang-pedagang Arab, belum terjadi pemisahan batas negara dengan Malaysia , sehingga disebut serumpun.
Tari zapin sarat dengan nuansa keislaman, mulai dari gerakan dan pakaian yang sopan, juga dengan music pengiring sederhana.
Sejarah Tari Zapin Masuk ke Riau
Pada masa lampau, penyebaran kepercayaan dilakukan melalui media perdagangan. Cara seperti ini sangat efektif pada saat itu, berhubung masyarakat masih sangat bertopang pada sistem interaksi lisan, segala informasi dengan cara bercerita dan disampaikan langsung akan sangat mempengaruhi warga pribumi. Semua kepercayaan yang ada di Indonesia kalau dilihat sejarahnya, tidak akan lepas dari penyebarluasan melalui media dagang.
Bangsa Arab termasuk salah satu negara yang senang berkelana membawa hasil-hasil kerajinan; seperti permadani, batu permata dan beragam pernak-pernik aksesoris yang berbau ke-araban. Berbagai belahan dunia mereka singgahi, dari mulai bangsa-bangsa Eropa, Afrika termasuk Asia .
Selain berdagang, para pedagang dari negeri Arab mempunyai misi menyampaikan dan mendakwahkan agama Islam kepada siapa pun yang mereka temui. Bahkan tidak jarang mereka memperistri gadis-gadis pribumi dengan tujuan mendekati keluarga wanita secara personal dan bisa memiliki keturunan di tempat yang mereka singgahi.
Tidak mengherankan bila di Indonesia sendiri banyak kelompok masyarakah Arab yang menempati suatu bagian wilayah. Tapi pada umumnya mereka menyebar dan menyisakan gurat-gurat fisik pada keturunannya.
Untuk tarian zapin sendiri dibawa oleh orang-orang dari Yaman dan Gujarat ke Indonesia di awal abak ke-16. Mereka datang ke tanah melayu, khususnya Riau untuk berdagang hasil kerajinan dan menyebarluarkan agama islam.
Gambar 2: Peta Gujarat
Menyebarluaskan agama tidak bisa disamakan ketika menawarkan barang yang hendak di jual. Selain warga pribumi sudah memiliki kepercayaan peninggalan nenek moyang atau yang bersifat anemisme, masalah kepercayaan juga sangat sensitif bila disampaikan secara vocal, cara terbaik adalah dengan cara persuasif atau ajakan yang bersifat pengertian dan kelembutan.
Penyampaian secara vocal tanpa gerakan permisif hanya akan menimbulkan kecurigaan yang pada akhirnya berdampak pada pembencian dan perpecahan. Hal lain yang bisa diakibatkan adalah semakin menguatnya primordialisme di tengah masyarakat.
Media yang di pilih oleh bangsa Arab untuk mendekati warga pribumi supaya percaya maksud dan tujuan mereka datang adalah dengan memperkenalkan kesenian dan kebudayaan yang mereka miliki. Terbukti, cara ini efektif membuat antara para pengelana dan masyarakat tercipta kedekatan secara emosional melewati batas ras, bangsa dan karakter fisik.
Di daerah Yaman dan Gujarat sendiri terdapat sebuah tarian dengan karakteristik dan corak islam yang kuat menggunakan alat musik utama sebuah marwas. Tarian tersebut mulai diperkenalkan kepada warga pribumi sekaligus menunjukkan beragam ciri khas agama islam.
Diawal masuknya, tarian ini sangat digemari oleh para raja-raja di tanah melayu, seperti kerajaan Melaka dan Siak. Celah ini juga yang membuat mereka lebih leluasa bergerak dengan sedikit demi sedikit melakukan pendekatan terhadap pihak kerajaan. Bahkan pada akhirnya raja-raja tersebut menerima islam menjadi kepercayaan mereka. Kondisi ini membuat animo kepercayaan kian luar biasa, mengingat pada zaman dahulu seorang raja adalah “tuhan kecil” di daerah kekuasaannya, sehingga segala pilihan dan tindakannya di anggap keramat dan selalu benar.
Akulturasi budaya telah berlangsung dengan mulus. Pedagang-pedagang dari Yaman telah meninggalkan kebudayaan dan kesenian baru yang sangat disenangi raja-raja—pada awalnya. Pada waktu itu, sesuatu yang dilakukan seorang raja pantang dan dianggap menentang apabila diikuti oleh rakyat biasa. Seperti tari zapin, perkembangannnya hanya di seputar kerajaan sebagai hiburan bagi raja dan keluarganya.
Keadaan seperti ini terjadi dalam kurun waktu yang lama, masyarakat hanya bisa mendengar cerita-cerita tentang tari zapin dari beberapa orang warga yang kebetulan berani untuk mengintip aktifitas di dalam kerajaan. Namun untuk mempraktekkan gerakannya mereka tidak berani dan tidak mau menghadapi hukuman yang berat, di hukum mati.
Hingga pada akhirnya seiring perkembangan zaman dan perubahan pola pikir. Banyak masyarakat yang berani secara diam-diam menirukan gerakan yang ada di zapin. Cara yang dilakukan masyarakat ini akhirnya merubah suatu hal yang fundamen pada tarian zapin yakni merubah bentuk tarian yang dimainkan oleh –hanya—laki-laki menjadi percampuran antara laki-laki dan perempuan atau pun semuanya hanya perempuan.
Kerajaan semakin kehilangan pamornya karena tidak mampu menguasai masyarakat yang gencar menarikan zapin secara sembunyi-sembunyi. Sampai pada akhirnya keadaan berubah. Raja pada waktu itu mengizinkan tari zapin menjadi tarian rakyat yang bebas ditarikan oleh siapa pun. Keputusan ini juga berbarengan dengan perubahan bentuk tarian dari segi para penarinya.
Inilah titik dimana zapin memiliki wajah baru sehingga berkembang secara normal sesuai zamannya. Tarian yang awalnya hanya dimiliki oleh seorang raja kini menjadi milik rakyat. Mereka merayakan dan menghibur diri dengan tari zapin, sehingga lama-kelamaan tarian ini mulai kembali tersebarkan di jagad nusantara dengan pembawanya masyarakat melayu itu sendiri.
note: materi saya dapatkan dari pembelajaran Muatan Lokal di SMP dan SMA di Kab. Bengkalis-Riau
0 SEMPAT AKU MENYESAL MENGETAHUI ADA BIBIT CINTA DIHATIKU YANG SECARA TIBA-TIBA MEMBESAR DAN KUPOTONG PUN IA REINKARNASI
Diposting oleh
Kampung Karya
Rabu, 23 Juni 2010
Label: seni, puisi, artikel, cerpen, esai
puisi
0
komentar
apa yang tegoreslukis di beranda kau duduk
mengambil kanvas
menggenanginya berkuas-kuas
dan cat yang lupa warna
juga helai yang terbang
tak serupa aku,
karena secara tibaba ada bibit cinta
dihatiku
membesar
sempat kupotong dan maki hamun berlarian bersama angin
sebagai kesakitan
dan aku pesakitan yang menua di tempat semakin hilangnya kau dan menghilanglenyapnya kau
bahkan lebih lagi
KAU
:bukan aku
TAPI
ada yang reinkarnasi
menjadi bibit yang semakin menghutan dihatiku
memanggil rintik dan menghujani cinta yang lebih mekar
aku
tak bisa mengerti
kenapa ketika itu kau bakar kanvasmu
tunggu-tunggu
tak mengapa kau bakar ia
tapi kenapa beserta hatiku dan segenap isinya
aku tak habis pikir
Tembalang-Semarang, 23-Juni-2010
Qur'anul Hidayat idris
mengambil kanvas
menggenanginya berkuas-kuas
dan cat yang lupa warna
juga helai yang terbang
tak serupa aku,
karena secara tibaba ada bibit cinta
dihatiku
membesar
sempat kupotong dan maki hamun berlarian bersama angin
sebagai kesakitan
dan aku pesakitan yang menua di tempat semakin hilangnya kau dan menghilanglenyapnya kau
bahkan lebih lagi
KAU
:bukan aku
TAPI
ada yang reinkarnasi
menjadi bibit yang semakin menghutan dihatiku
memanggil rintik dan menghujani cinta yang lebih mekar
aku
tak bisa mengerti
kenapa ketika itu kau bakar kanvasmu
tunggu-tunggu
tak mengapa kau bakar ia
tapi kenapa beserta hatiku dan segenap isinya
aku tak habis pikir
Tembalang-Semarang, 23-Juni-2010
Qur'anul Hidayat idris














