Tampilkan postingan dengan label tulisan motivasi saya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisan motivasi saya. Tampilkan semua postingan

0 Jika Ingin Dibaca, Membacalah!

Senin, 12 Desember 2011
Sumber Gambar

Gol A Gong menjadi seorang penulis terkenal lewat Balada Si Roy, Kupu-kupu Pelangi, Pada-Mu Aku Bersimpuh, dan banyak karya lainnya--di buku autobiografinya Menggenggam Dunia disebutkan kalau karyanya sudah berjumlah 90 buku termasuk di dalamnya novel, cerpen, naskah drama, dan buku praktis menulis. Melalui buku perjalanan hidupnya Gong menyebutkan kalau ia sudah membaca segala jenis buku dari sejak kecil. Sampai sekarang pun ia terus meneruskan hobinya itu, menginspirasinya untuk membangun perpustakaan rumahan, Rumah Dunia.

Ada refleksi yang kuat dari sepenggal kisah di atas. Untuk menulis juga dibutuhkan senjata, bukan pedang atau pun sebilah golok, tapi BACAAN. Satu buku--100 hlm--menyimpan 1 milyar kata, misalnya. Jika membaca 100 buku, maka tidak menutup kemungkinan ribuan kata baru terkonversi dalam otak. Itu baru 100 buku. Inilah senjata bagi penulis, kata-kata yang berseliweran di dalam kepalanya itu siap diambil kapan pun. Seperti mesin ATM, tinggal masukkan kata sandi (baca: kebutuhan kata) maka ia akan meluncur dan diinstruksikan pada tangan yang melakukan perintah pada tuts-tuts komputer, software membaca perintah. BUM. Jadilah!

0 Pentingnya Penerang

Minggu, 11 Desember 2011

Kegelapan akan membatasi kemampuan indera penglihatan (baca: mata) untuk dapat menangkap "sesuatu" di depan, belakang, atau di atasnya. Mata dapat bekerja apabila ada cahaya yang masuk, persis yang ditirukan oleh lensa kamera yang harus menggunakan bantuan agar bisa menangkap objek. Maka penerang selalu dibutuhkan setiap mata (baca: manusia) untuk menangkap kode dan tanda. "Cahaya" tak hanya berbentuk real sebuah lilin atau lampu, tapi kata ini telah mengalami perluasan makna, terutama lewat sebuah kata lain. "Terang" atau "penerang".

Aku membutuhkan lampu "bantu" baca untuk menambah cahaya kamar yang redup dan membuat mataku sakit. Hasilnya, aku bisa membaca dengan lancar tanpa mengalami masalah; mata berair, perih atau berkunang-kunang. Lampu itu menimpali lampu yang lain, di balik cahaya ada cahaya yang lain yang mengakibatkan ia dapat disebut TERANG. Lampu yang redup--walau hakikatnya cahaya--tak bisa disebut terang, karena fenomena "terang" hanya terjadi jika SEMUA YANG ADA TAMPAK JELAS.

0 Kamar dan Sekardus Ide


Aku memang bukan "mahasiswa kamaran". Yakin kukatakan, bukan! Senin-Jum'at biasanya selalu kuhabiskan sampai sore bahkan malam di kampus. Mengerjakan majalah LPM Hayamwuruk atau sekadar bersenda-gurau dengan kerabat seprodi atau seorganisasi. Bagaimana dengan Sabtu-Minggu? Sangat jarang aku memiliki kedua hari tersebut, ada-ada saja kegiatanku di luar sana; seminar, meliput, rapat evaluasi, dsb. Jadi bagaimana kamar bisa kuanalogikan seperti sekardus ide?

Lihatlah gambar di atas. Tidak ada yang luar biasa, bahkan sangat sederhana, bahkan sah kalau kau bilang jelek, kampungan, atau berantakan. Di sana hanya ada kasur yang tidak lagi empuk, untunglah ada stroberi yang sedikit menyegarkan ketika aku berbaring. Sebuah laptop, tetikus, hardisk external, dan modem selalu menjadi bunyi-bunyian di sana. Sebuah lampu baca yang menolongku karena tidak bisa lama membaca dengan posisi duduk. Sebuah printer bertutup kain merah yang belakangan agak rewel. Dan tumpukan buku yang belum kubaca--aku memang menumpuk buku yang belum kubaca di dekat tempat tidur, sedangkan buku-buku yang sudah kubaca ada di atas lemari pakaian. Oh ya, tak lupa deretan poster beberapa acara sastra dan jurnalistik yang menarik kutempel di dinding. Sederhana sekali.

0 Menyelesaikan Tulisan Jauh Lebih Sulit dari Memulainya

Sumber Gambar

Banyak ide berguguran di atas kepala. Tentang kehangatan, daun, buku, tidur, wanita, pertikaian, politik, dan segala hiruk pikuk imajinatif. Itu tentu saja bisa dimulai kapan pun, tapi yang selalu menjadi persoalan bagiku adalah terus melanjutkannya dan meuliskannya hingga selesai. Banyak karena karena yang menjadi alasan, yang terkuat adalah kemalasan (sebenarnya!) bukan kemandegan ide. Sebuah ide merupakan kerja intelektual, jadi siapa yang salah jika ia tak mengalir baik karena dimampetkan oleh pengarangnya sendiri dengan ditunda-tunda. Salah siapa jika ide itu hilang karena dilupakan oleh pengarangnya dengan sebelumnya tak mencatat dalam sebuah kerangka. Salah siapa jika itu bertahun-tahun hanya menjadi cita-cita di dalam folder komputer karena pengarangnya sudah berpindah ke lain ide, dan besok pindah lagi ke lain ide.

Perlu ketekunan dalam menulis, tentu saja secara idealis. Namun, inilah yang mejadi masalahku atau mungkin masalah sebagian penulis yang belum menemukan ritme lainnya. Ide-ide jadi semacam sampah yang dibuang-buang, untunglah jika masih sampah yang bisa tercium busuknya, ini sampah yang diperam dalam kepala tak keluar-keluar sampai mati.

Solusinya? Putar balik ketidakbenaran di atas.
Itu!


QHI

0 Satu Kalimat = 50 Ribu

Sabtu, 10 Desember 2011

Sebelum menjemput Umi aku mampir dulu di warung ketoprak favoritku di Banjarsari. Kawanku satu ini sms saat waktu menyentuh angka 08.31 WIB. Dia tepat waktu ternyata, aku memang mewanti-wantinya agar tidak telat dan akan menjemputnya pukul 08.30. Aku lalu mengirim sms bahwa akan sampai di depan kostnya 10 menit lagi karena ketoprak belum lagi habis dari piring.

Aku bergegas. Membayar dan kembali sebentar ke kostan untuk mengambil helm dan tas. Aku langsung menuju kos Umi yang terletak di belakang toko buku An*ida. Aku mengiriminya sms lagi supaya bergegas turun, ia pun membalas singkat, ia. Saat menunggu aku melihat Nanik dan Hasna masuk ke gang kostan Umi, aku tidak sempat berpikir karena dalam hati menggumam. "Lha kok? Nggak langsung ke pom bensin?" Kami emang janjian untuk berkumpul di pom bensin depan GSG (Gedung Serba Guna) Undip. Nah setelah mereka lewat dan masuk ke area kostan, aku tak lagi melihat mereka karena aku memberhentikan motor agak jauh. Tapi sayup-sayup terdengar.

"Dayat mana?" Terdengar suara Umi sayup.
"Lha belom kesini tho?" Kini Nanik balik bertanya.
"Lha katanya dia udah di depan!" Lanjut Umi
"Gak liat tuh!" Jelas Nanik lagi.

2 JANGAN LAKUKAN PEMBUNUHAN KARAKTER!

Jumat, 04 Maret 2011

Dua hari yang lalu aku mengikuti rapat BEM yang membahas tentang cara penarikan DKM (Dana Kemahasiswaan), aku disitu sebenarnya mewakili HaWe, tapi dikarenakan tidak ada perwakilan KMSI (Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia) yang hadir dan kebetulan ada Achmad—anggota Hawe—yang hadir, jadinya secara dadakan aku jadi perwakilan KMSI. Tidak masalah, yang penting KMSI tidak diberi sanksi karena tidak ada perwakilan rapat.

0 MELEDAKLAH BERSAMA JIWA!!

Rabu, 29 September 2010
Pencapaian yang dilakukan manusia dalam ilmu pengetahuan memang cukup membanggakan. Berbagai rahasia dapat terpecah dan menjadi pelajaran umum di ruang pendidikan mau pun secara otodidak dipelajari. Bahkan rahasia terciptanya alam semesta telah dapat diambil teorinya, big bang, wah, saya tidak akan menjelaskan tentang teori ini, selain ianya bisa ditemukan dalam jurnal-jurnal ilmiah dan cukup mengetik “big bang” di kolom pencarian ‘kakek google’. Selain itu, saya bukan ahli dibidang tersebut, saya hanya mengambil intisari dari ilmu ini.

Ledakan hebat itulah yang melahir-hadirkan planet, bintang dan bermacam spesies benda semesta lainnya. Pengetahuan yang akhirnya diakui ini telah menyingkirkan dugaan-dugaan sebelumnya. bagai pelita ia hadir mendadak ditengah kegelapan, membuat semua merasa ‘silau’ yang akhirnya tersenyum mengetahui itulah ‘terang’ yang dapat diterima oleh mata, menjadi terang yang benderang.

Apa yang terjadi dari ledakan?

Ledakan identik dengan penghancuran, pemusnahan, tercerai-berai, pisah. Pemikiran harfiah ledakan tentu mengarah pada ledakan bom, nuklir dan berbagai macam tetek-bengek yang berhubungan dengan persenjataan perang. Ledakan yang diartikan secara lebih mendalam (konotatif) akan mengindikasikan pada cetusan, buncahan, euforia. Apa yang dapat dilihat dari keduanya? Tentu perbedaan kutub yang penanggapannyapun berlainan. Untuk yang pertama, ledakan menjadi sesuatu yang ditakuti, dihindari, kejahatan dan kehancuran fisik sehingga menjadi negative mean. Sedangkan, pengartian konotatif memberi peluang kepada kata mengembangkan sayap pemaknaannya kepada yang lebih baik, indikasinya adalah ianya dicari, diinginkan dan menjadi pemicu kekuatan, inilah positive mean.

Apakah manusia bisa meledak?
Saya tidak akan mengungkit pemaknaan secara harfiah yang akan membawa kita pada imajinasi umum, contoh: telan saja sebuah bom, lalu meledak. Saya akan membicaran ledakan yang dicari dan diinginkan oleh manusia.
Meledak, meledak, meledaklah. Apa yang kita rasakan saat kata tersebut diteriakkan oleh seseorang dengan motivasi dan keyakinan penuh. Dapat kita rasakan buncahan, kekuatan bahkan euforia seolah kita akan segera meledak. Sesungguhnya alam bawah sadar kita telah mencatat semua ledakan itu dalam kantung-kantung memorinya, dan ia selalu mengingat dan bangun dari tidurnya ketika kondisi luar mengalami proses penekanan. Bahkan kita sendiri pun tidak mengerti darimana energi ledakan itu, kita hampa namun penuh nyawa, apalagi yang mengucapkan adalah sosok yang telah mengalami peledakan.
Meledak sering diasumsikan sebagai ‘puncak’ pencapaian, jagat kesuksesan, titik superior. Pernah mendengar orang berteriak sambil membawa sebuah benda “wah, buku ini meledak dipasaran”. Gambaran itu sudah sedikit mewakili bagaimana ledakan itu terjadi pada apa yang dihasilkan dan yang meledakkan itu butuh pengorbanan, disebut proses peledakan.
Kembali tentang bagaimana teriak ‘ledakkan atau meledaklah’ itu mempunyai nyawa dan secara otomatis memanggil kekuatan dari alam bawah sadar hadir?  Inilah yang disebut pengendapan (kontemplasi) yang mengumpul, menumpuk lalu menjadi reaksi.
Saat kita memandang mata seseorang agak lama, alih-alih kita menemukan tanggapan terhadap si Empunya mata, misalnya “ah, dia orangnya sinisan”. “ternyata dia lagi jatuh cinta” atau kita temukan keteduhan dimata tersebut yang intinya adalah perasaan suka. Nah, saat tanggapan itu berhasil kita dapat, berarti kita telah menemukan ‘keadaan kontemplatif’ dimatanya.
‘perasaan suka’ itu menjadi ledakan awal yang melahirkan ledakan selanjutnya, bermarkas  pada proses ‘realisasi kemungkinan’. Perasaan suka yang melahirkan cinta kerap diawali oleh sebuah objek perhatian yang menarik perhatian, lalu proses yang ada akan memberi informasi lebih lengkap sehingga pada akhirnya ia bisa memutuskan. Ya/tidak. keputusan itu sangat bergantung dari tanggapan satu dengan yang lain dan tak lebih tentang kecocokan.

Lalu, ledakan apakah yang perlu kita hasilkan?

Meledaklah bersama yang ditawarkan oleh jiwa. Pernah mendengar pribahasa ‘tepuk dada tanya selera?’. Kita disuruh untuk menemukan penawaran dari dalam diri, bukan apa yang dunia atau orang lain tawarkan. Berapa banyak penawaran yang mengikuti pasar hanya berdampak pada ketidakbetahan dan ketidaknyamanan setelah mendapatkannya, sehingga kerap penawaran dari dalam berontak, bersaing dengan apa yang ada. Pilihan setelah memilih selalu sulit, karena tidak lagi dalam keadaan gelas kosong. Bila memilih kembali, otomatis gelas yang terisi harus berbagi tempat.
Sejak kecil kita sudah melakukan penumpukan informasi, sehingga orang yang menilai atau menangkap keadaan kontemplatif kita berkata “wah, anak ini kelak jadi polisi” karena sedari kecil kita sering menjadi pengadil dan pelerai perkelahian. Atau “kamu cocok menjadi penulis” disebabkan sejak kecil sudah suka menulis di dinding rumah, atau benar-benar sudah bisa membuat karangan dengan baik.
Saat beranjak kedunia sekolah, pengidentifikasian diri mulai terjadi. Kerap lingkungan sekitar coba menangkap ‘bakat’, membantu menemukan keinginannya. Pelajaran di sekolah juga telah mengenalkannya pada spesifikasi yang lebih jelas. (baca ilustrasi cerita di bawah)



Semenjak berumur satu tahun, Fairuz menunjukkan bakat atau ketertarikannya kepada benda. Ia lebih memilih untuk mengambil pensil yang digunakan si kakak Rana buat belajar ketimbang bermain dengan mobil-mobilannya. Awalnya kedua orang tua tidak ngeh dengan keinginan anaknya tersebut, namun lama-kelamaan kehendak Fairuz mulai diladeni. Ia dibelikan sebuah pensil—mengalihkan perhatiannya agar tidak mengganggu si kakak. Ketertarikannya yang besar terhadap pensil tersebut membuat ia mencoreti lantai, dinding bawah dan semua yang bisa disentuhnya dengan pensil. Ibu berinisiatif memberinya buku gambar agar tidak lagi mencoreti bagian rumah. Kegiatan mencoret mulai tersalurkan di buku gambar, sejak itulah Ibu menangkap keadaan kontemplatif dari Fairuz kalau ia berbakat untuk menjadi pelukis. Sewaktu di TK bakat ini semakin jelas terlihat, daya imajinasinya melebihi anak-anak lainnya. Saat yang lain menggambar gunung dan sawah, ia sudah menggambar wajah kakaknya Rana. Sang Ibu tidak memaksakan kehendak, ia mendorong Fairuz untuk mengembangkan bakatnya dengan menyediakan peralatan lukis yang memadai bagi anaknya. Seperangkat pensil cat, meja lukis dan kertas gambar menjadikan Fairus semakin leluasa melukis. Peran sekolah tidak kalah penting bagi Fairus. Di SD ia dapat menuangkan idenya lebih luas dengan bimbingan guru. Di masa sekolah, Fairuz semakin menemukan spesifikasi dalam dirinya, apalagi setelah ia diikutkan untuk mewakili sekolah dalam lomba-lomba lukis.


Apa yang terjadi kalau seandainya Fairuz dipaksa menjadi dokter oleh ibunya yang terobsesi dengan keadaan bursa kerja yang lebih menjamin masa depan anaknya?
Yang terjadi adalah, jika pun Fairuz menjadi dokter, ia tidak akan MELEDAK. Ya! Ia tetap menjadi dokter, namun dokter biasa-biasa saja tanpa NILAI LEBIH karena melakukannya tanpa rasa cinta dan keinginan besar.  Maka, “tepuk dada tanya selera”
Betapa banyak anak yang terjebak oleh keinginan orang tuanya, kendati pun ia sebenarnya tahu bakat yang ditunjukkan si anak sejak kecil. Obsesi para orang tua berubah menjadi intervensi keinginan yang menjebak anaknya sendiri. Keinginan yang dipaksakan membuat anak ‘tidak bisa menentukan pilihan’. Menjalani apa adanya tanpa kecintaan atas ‘yang dipilihkan’ tersebut.
Meledaklah bersama jiwa!!
Saya ingin mengkritik cara masyarakat kita umumnya dalam memandang ‘sebuah pilihan’. Dalam hal pengambilan prodi di universitas misalnya, sering terjadi kultus-kultus yang menjebak kelapangan pikiran. Saat mereka bertanya ‘kamu ngambil jurusan apa?’ dan yang ditanya menjawab, ‘saya ambil A’, tanggapan ketidaksesuaianpun muncul, yang paling sering dengan kembali bertanya, ‘ah, mau jadi apa nanti kamu, kenapa nggak B, C atau D, itu lebih menjamin’.
Ini tidak lebih penjarahan pilihan menurutku, terlebih ketika seseorang yang baru hendak menguatkan pilihannya sangat mudah merasa ‘hampa dukungan’. Pengkultusan ini terjadi akibat nilai khusus sebuah profesi di masyarakat, akibatnya penilaian bertolakbelakang pun muncul, apalagi terhadap ‘pilihan baru’ yang masih ‘aneh’ di tengah masyarakat.
Yakinlah, setiap orang mempunyai jalur yang semakin merupa-warnakan dunia, pada akhirnya demi kebutuhan hidup bersama. Apakah si Fulan lebih memilih IPS ketimbang IPA karena ia tidak mampu Kimia atau Fisika atau Fulan memilih IPA karena punya nalar yang rendah. Kulltus seperti inilah yang harus dihilangkan. Jiwa punya pilihannya dan pilihan oleh jiwa tidak diperoleh secara instan, terjadi proses ‘perkenalan’ yang membawa ‘keinginan mendalami’ yang pada akhirnya menjadi keutuhan sebuah ‘ikatan’.
Meledaklah bersama jiwa!

‘tepuk dada tanya selera’. Pribahasa yang tidak sederhana, mengandung nilai luhur sebuah penyerahan keyakinan melalui yang muncul, yang timbul, yang benderang dari dalam jiwa, bukan sekedar serangkaian instruksi yang dibacakan lalu dilakukan. Bertanyalah dengan melihat proses, bertanyalah apakah kita mampu seumur hidup membohongi jiwa karena mengalih channel-kan pilihan? Jawaban ada ditangan siapa pun yang berani ‘menentukan pilihan sesuai keyakinan’.
Lalu lihatlah!
Apakah kau sekedar menjadi granat atau menjadi nuklir?


Diselesaikan tanggal 25 September 2010
Bengkalis dan Semarang.
Qur’anul Hidayat, penulis adalah mahasiswa Sastra Indonesia Undip semester III

1 Jangan Biarkan Penyesalan Merenggutmu

Rabu, 30 Juni 2010

tak bisa kita pungkiri hidup di dunia ini akan memberi dampak dua hal, positif dan negatif. dua hal ini sebenarnya diciptakan, dibuat dan diolah oleh pribadi kita masing-masing. itulah kenapa sering disebut hidup itu pilihan, ya itu tadi, harus memilih yang baik atau yang buruk. keduanya ibarat kutub yang saling tarik-menarik, pengaruhnya dirasakan mampu membawa manusia menjongkok di liang kenegatifan atau mencapai keselarasan dengan menggamit hal positif.

positif dan negatif disini tidaklah mutlak, ia saling berbagi dan melengkapi, cuma yang manakah pembagiannya lebih besar? itu yang menjadi pertanyaan. Manusia sering terjebak dengan "ketidaksempurnaan" dirinya untuk memberi toleansi dan kompensasi berlebihan akan kesalahan atau hal negatif yang dimilikinya, selebihnya menganggap remeh dengan segenap aturan nilai, tatanan, kaidah, pranata sosial, dan berbagai macam hukum tertulis dan tidak, termasuk yang tertinggi yaitu hukum Tuhan.

kesalahan memang harus dimaknai sebagai kesalahan yang memang murni harus dirasakan benar-benar kesalahan terhadap diri, agar sebuah rasa muncul, yakni "penyesalan". penyesalan akan kesalahan memang harus secara hakiki di dapat ketika seseorang memang "terlanjur" atau sudah terjebak dengan kesalahan. perasaan ini semakin mendorongnya untuk sadar akan kesalahannya secara mendalam. Bukan sekedar mengatakan "Aku sadar aku salah" harus ada konsekwensi logis dari kesadaran itu, dan itulah perlunya penyesalan agar ianya dapat bulat menjadi kesadaran yang penuh.

namun, penyesalan menjadi lucu jika hanya akan membuat pelarutan yang lama tanpa "kesadaran yang memperbaiki". ya, itulah inti dari kesadaran, harus bersikap memperbaiki apa yang telah salah. jika hanya sekedar kesadaran, apalah artinya, itu ibarat seremonial ketika petang dan senja datang, lalu seketika menghilang. kesadaran harus menjadi waktu, harus menjadi sinar yang terang sehingga seluruh muka rupanya terlihat dan sedikit demi sedikit mengambil kotoran yang menempel di tubuhnya itu.

kenapa saya menulis judul catatan ini "Jangan Biarkan Penyesalan Merenggutmu" adalah bermaksud hampir mirip dengan yang di atas, namun secara lebih jelas, penyesalan yang ada butuh tindak lanjuk yang membalikkan kesalahan menjadi perbaikan (seperti di atas). penyesalan yang merenggut adalah penyasalan yang malah berkonotasi negatif, penyesalan yang membuat diri jatuh pada titik "nol" hingga merasa "tak pantas".

nah, perasaan "tak pantas" baik itu dalam kata
"tak pantas hidup lagi"
"tak pantas dihatimu lagi"
"tak pantas menjadi hambamu lagi"
"tak pantas memilikimu lagi"
adalah sedikit contoh penyesalan yang menimbulkan perasaan "tak pantas..." yang paling berbahaya adalah yang paling atas, membuat frustasi yang hebat yang pada akhirnya memutuskan untuk bunuh diri. ironis bukan. namun, begitulah hidup, semua saling berpapasan dengan lawan dari yang ada, saling tubrukan nilai, dan saling melengkapi.

konsep penyesalan harus ditegaskan lagi menjadi "langkah bangkit" bukan "jatuh ke titik nol". menjadikannya langkah bangkit akan menimbulkan efek kekuatan yang bahkan tak disangka dari tubuh dan mentalnya, bahkan olehnya sendiri. betapa banyak orang yang melakukan percepatan dan perubahan hebat setelah mengalami kesalahan, lalu menyesal dan melakukan perbaikan. ejekan dianggapnya pemantik yang semakin mengobarkan energi tersembunyi dalam dirinya.

indah bukan sahabat, bila kita semaksimal mungkin mengarahkan pilihan pada yang jerni "positif" walau tak menampik kita pasti mencatat sejarah titik "negatif". ianya perlu perlawanan, dan kau harus semakin menjorok ke kanan...

dan siapa yang ketika sedang mengalami penyesalan ketika membaca tulisan saya ini, segera tangkap nilainya, dan cari pemantik energi dalam tubuhmu. lihatlah apa yang akan kau peroleh dari penyesalan itu... amazing


salam Kampung Karya
Qur'anul Hidayat
30 Juni 2010