1 Buku Murah Melayang-layang Sampai Terngiang Tak Bisa Hilang, OOH

Rabu, 15 Desember 2010

Sebagai mahasiswa yang tidak berpenghasilan sendiri alias masih bertumpu pada subsidi orang tua, kebutuhan membacaku harus terpenuhi dengan melakukan berbagai macam cara, termasuk hunting semua tempat penjualan buku murah dan pameran-pameran. Tapi hari ini sampai ketika tulisan ini kuketik, hatiku benar-benar terombang-ambing oleh rasa kesal, iba, sedih dan segalamacam rupa negatif, semua berpunca pada kegagalanku mengunjungi sebuah pameran buku luar biasa di semarang. Parahnya lagi, ini adalah hari terakhir pameran setelah dibuka beberapa minggu, duh.

Promo pameran ini yang berlokasi di Admiral--tempat penjualan pakaian, lupa alamatnya--sudah kuketahui bahkan sebelum pameran berlangsung. Namun ini digagalkan oleh beberapa hal. Pertama, acara workshop salah satu organisasi kampus selama tiga hari. Kedua, jadwal kuliah disambung latihan teater empat kali seminggu. Ketiga, ketiadaan armada--motor--yang membuat aku harus menawarkan bantuan pada beberapa teman yang apesnya tidak ada yang berkenan dengan berbagai alasan wajar. "ah day, aku harus kesini!", "udah empat kali aku kesana day! bosseen" atau yang memang tidak berminat dengan yang namanya BUKU.

dan malam ini aku benar remuk 'BUKU MURAH MELAYANG-LAYANG SAMPAI TERNGIANG TAK BISA HILANG'

Namun, semua hal pasti mengandung segi positifnya, itulah yang kurasakan setelah lalu melihat ke kedalaman isyarat yang terjadi hari ini. Setidaknya aku mencintai buku dan berkeinginan besar menyingkap tabir rahasia dalam setiap untai baris bahasanya. Setidaknya aku memperbesar ledakan untuk berikutnya secara lebih ekstrim berjuang untuk mendapatkan buku-buku--bukan mencuri, hehe.



Sekarang ini buku memang semakin banyak dengan berbagai disiplin ilmu. Namun kehadiran buku tidak dibarengi dengan antusiasme yang besar dari konsumen buku. Alhasil, buku hanya jadi pajangan yang setelah itu basi di rak-rak penyimpanan atau lenyap dimakan rayap. Hm, atau memang ada yang salah dengan euforia penerbitan di negeri kita, hanya asal terbit tulisan yang secara kualitas belum bisa dikatakan layak, apalagi sekarang tengah berkembang gaya penerbitan indie atau personal dengan biaya sendiri, sehingga tidak ada penyaringan kualitas secara objektif.

hm... 
sepertinya penjualan buku murah di pameran-pameran ada hubungannya dengan hal diatas, semacam kausalitas berkelanjutan. ketika buku yang tidak laku dipasaran semakin menumpuk, alhasil 'mau tidak mau' mereka harus menjualnya dengan membanting harga, 'yang pentin balik modal atau seburuk-buruknya tidak rugi 100 %'. Kenapa ini kausalitas berkelanjutan, karena secara tidak sadar ini akan membuat sebuah persepsi dalam cara pembelian buku, dan tentunya ini persepsi buruk. Pembeli akan serta-merta berpikir, "ah, lebih baik aku menunggu pameran, toh ini diadakan beberapa bulan sekali". Apa yang terjadi, bukannya ini menjadi solusi tapi menambah berat penulis-penulis atau penerbitan dikarenakan jumlah pembelian dengan harga resmi semakin menurun. Bukankah ini akan membentuk budaya buruk membaca? yah, ini belum lagi ketika saya masukkan fakta bahwa kita kembali lagi harus berhadapan dengan mafia pembajakan yang men-copy buku lalu dijual dengan harga murah. Penulis kita pun semakin menderita.

lalu?
apakah aku akan mengharamkan membeli buku murah di pameran-pameran buku berikutnya?
ah, sebagai pembaca yang 'tidak mapan' sulit untuk mengatakan tidak, kecuali dengan langkah berani. 'TIDAK ADA LAGI PAMERAN BUKU MURAH'

hei, dan mungkin saja sayalah salah seorang yang menentang kebijakan tersebut
ANEH BUKAN?
ya, saya sendiri merasa ini ANEH

LALU??




ditulis di Semarang, 15 Desember 2010
Qur'anul Hidayat Idris

1 Dan Memang, Garuda Itu Milik Bangsa dan Yang Memperjuangkannya

kau terbanglah jauh mengambil tabuh sayap di tanah ribuan pulau, dengan luka apa kami menyebut yang tersiksa oleh anak bangsa sendiri. Kusertai keranda di bola matamu tapi kau lagi berkata "aku pada yang memiliki, pada nakhoda sayap dan limpahan tumpah tanah, hutan dan laut yang ricuh" lalu jalan yang melapang bukankah telah tumbuh di ujung persengajaan yang rindang? aku mengenal yang bukan kata, aku mengenal yang bukan frasa bahkan aku tak tahu kapan tubuhku mereduplikasi menjadi ganda.

ah, sesungguhnya aku hanya bahasa

hutan fona
inilah leksem
kompositori yang mahir menjemput kompleks tubuh--terikat
atau simpleks yang bundar
sayap
sayap dari kau garuda
adalah fona, leksem bahasa  tubuh bangsa

ah, sesungguhnya aku hanya bahasa
dan memang, garuda itu milik bangsa
dan yang memerjuangkannya


Semarang, 15 Desember 2010
Qur'anul Hidayat Idris

0 Cerita Abah

Kamis, 18 November 2010
kupelajari lewat mimpimimpi cara mengenal dan bersuasapa denganmu, kubayangkan aku mengenakan lencana dan menyandang badik serta senjata. Mengikat kepala dengan bendera lalu dengan sedikit menunduk merambah darah dari aliran nanah penjajah. Aku ingin jadi Pembunuh dan aku ingin membunuh saat itu juga,
seketika aku terjaga. Ah

***

Di tanah Emak, aku mengenal pelepah dan tanah merah tempat tuatua melempar petuah dengan cerita dari silau lampau. Aw, aku kadang ingin menjerit DOOOR ketika Abah sibuk memelinting tembakau yang ke berapa puluhnya, terpaksa menghenti cerita. Tanahku memang melahirkan para pencerita ulung, melahirkan nusa retorika yang tak terkalahkan. Cobalah mengetik di perpustakaan terbesar abad ini yang sekiranya ditutup akan menjadi bencara besar, ya bertanyalah kepada Mbh Google dengan mengetik 'Young Dollah'. Seorang pendongeng dengan daya imajinasi semesta yang tak berbatas juga gaya mahir merengkuh penceritaan.

"Jang, besok kalau kau besar jadilah pahlawan bagi Abah dan Mak ya!" Abah yang duduk dikursi berkain sarung berkopiah miring menatapku dalam, Aku tersenyum dan mengangguk, menampilkan sederetan gigi kuning bocahdegil  kampung yang tak kenal waktu penat. "Lalu kau harus ingat bahwa hidup adalah milik akhirat, artinya dunia ini hanyalah jalan menuju kesana, Kau sudah Abah kasi tahu akhirat Jang?"

"Sudah Bah!" Emak meremas kepalaku setelah menaruh secangkir kopi di atas meja sebelah Abah. Ini memang jadwal Abah minum kopi super besar yang disebutnya 'kopi tersedap' buatan Emak. Emak menyimpul rambutnya ketat lalu duduk sisebelahku.

"Kau belajar Apa tadi Nak?" Emak manarik tubuhku rebah dipangkuannya, kadang sampai aku tertidur.
"Sejarah Mak!"
"Ceritakanlah pada Emak!"
"Emak kenal Pangeran Diponegoro?"
"Semacam Sultankah itu Nak?"
"Entahlah Mak, dia selalu memakai kuda!"
"kau juga punya kuda Nak, tapi tak bisa dibuat naik, tuu!" Emak menunjuk kuda buatanku dari kayu yang kutakik, terpajang dekat lemari tua sebelah kiri ruang tengah. Aku tertawa memunum senyum Emak.

"Oh, dia Raden Mas Ontowiryo!" Abah tiba-tiba menyela setelah menghembus asap tembakau dari mulutnya.
"Siapa pula itu bang?"
"ya itu yang disebutkan anak dikau Nab"
"Sultan itu?"
"Bukan, yang Pangeran Diponegoro!"
"Oo, jadi itu nama samaran bang? macam intel dekat tipi tu?"
"Bukan Nab, dia orang hebat yang dimiliki negeri ini, tidak tamak dengan kekuasaan yang sudah jelas-jelas ada di depan mata. Bayangkan Nab, dia ditawar jadi raja tapi ditolaknya mentah-mentah, setelah itu dia bergerak melawan Belanda menebarkan ancaman propaganda. Kalau orang sekarang Nab, usahkan ditawar, meminta jabatanpun tak malu lagi. Tujuannya satu, kemewahan duniawi!"
"Jadi teringat kerajaan Melaka Bang!"
"Ah, itulah kenapa ada pepatah Melayu, Raja Adil Raja di Sembah, Raja Lalim Raja di Sanggah"
"Jang, dengar cakap Abah tu! Jang.. Dah tidur anak kita bang!"
"Pergilah dikau bawa masuk bilik!"

***

kembali kupelajari lewat mimpi cara bersuasapa dengamu, wajah cerita abah yang kupelajari juga di sekolah. Seorang laki-laki yang datang ke tanahku, tanah Melayu, mengenakan songket, berkuda dan nemakai sorban dikepala, dia berkata"Jadilah pahlawan bagi Emak dan Abahmu!"
Aku terjaga, Ah

"Bah, besok ceritakan lagi!"



Semarang, 10/11/2010
Qur'anul Hidayat Idris

0 TERAS SASTRA (TeSt) OASE KEDUA MENAMPUNG KARYA ANDA UNTUK DIDISKUSIKAN DAN DITERBITKAN DI BULETIN 'TERAS SULUH ISI ULANG DUA'

Sabtu, 30 Oktober 2010
Salam Budaya!
Salam Suluh!

"Obrolan santai tapi cerdas akan membahas salah satu karya terpilih yang didapat dari seluruh penjuru nusantara"

Perjalanan menjadi susuran oase, bagai melacak dimana lekuk nadi kita sendiri. Begitulah Sanggar Suluh, coba bertahan dengan mencari denyut-denyut yang mungkin siap memerahkan darah, menitik aroma pada kematian 'nanti' yang pasti akan terbit pada semua kebendaan. Memulai sesuatu artinya siap menggerakkannya pada rel yang membawa kepada suasana apapun; suka, derita, perjuangan bahkan airmata. Kami berkomitmen untuk itu, menjadi bagian kecil dari besarnya sastra Indonesia.

TeSt 'Buka Lahan' sudah mendapatkan karya-karya pilihan* dengan acara puncaknya pada 31 Oktober 2010 di DKJT (Dewan Kesenian Jawa Tengah)-Kompleks Kampung Laut, PRPP-Semarang. Menghadirkan sebuah puisi oleh Rangga Umara (Bandung) berjudul 'Jeritan Anak Malang'. Para Tamu di teras akan dibebaskan untuk mengeluarkan apa saja yang ada dalam benaknya, disambut, ditimpali, diiyakan/ditolak hingga menemukan perangai sastra baru yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Keunikan dari TeSt terletak pada ‘ketidakpentingan’ kehadiran pengarang terhadap hasil karyanya. Dalam teori pengkajian sastra ini berlaku, setelah karya sastra diterbitkan (publish) maka pengarang sudah terpisah dari karyanya yang telah memiliki dunia sendiri, lalu diterjemahkan tanpa intimidasi sang pengarang. Hasil karya selanjutnya menjadi tanggungjawab para pengkaji, pembedah, penelaah atau yang mencoba membuka tabir hubungan antara karya dengan dirinya maupun orang lain. Untuk lebih formalnya, kritikus sastralah yang menjadi jembatan pemahaman ke pembaca yang lebih luas.

Beberapa waktu lalu, beberapa kawan di grup Teras Sastra (TeSt) Sanggar Suluh menyarankan agar menetapkan tema setiap edisi TeSt agar lebih menspesifikkan karangan. Setelah melakukan rapat pengurus, akhirnya saran ini disetujui dan tema untuk TeSt Oase Kedua adalah 'PEMUDA; refleksi sumpah pemuda 28 Oktober 1928'. Diharapkan tema ini akan mencatat karya berkenaan Sumpah Pemuda baru saja diperingati pada tahun 2010.

Bila memungkinkan pengarang untuk hadir dalam TeSt, tidak ada larangan untuk itu, namun tidak menjadi sebuah keharusan. Lalu bagaimana pengarang dan pembaca umum bisa tahu hasil diskusi?

Pertanyaan ini akan sekaligus dijawab dalam pembahasan teknis TeSt,

1. Penulis berasal dari belahan manapun di Indonesia--walaupun tidak sedang menetap di Indonesia, tidak ada dikotomi pendidikan, kelas, jabatan, pangkat, profesi, latarbelakang, politik, agama dan semua jenis pemisah dan pemecahbelah,

2. Terlebih dahulu membolehkan karyanya untuk ditelaah dan dikaji sebelum dikirim ke panitia,

3. Tulisan boleh dalam bentuk puisi, cerpen, naskah drama, esai sastra dan artikel sastra,

4. Bagi yang belum menjalin pertemanan di FB dengan panitia penjaring karya online wajib meng-add Qur’anul Hidayat Idris, Sanggar Suluh dan bergabung ke grup Teras Sastra (TeSt) Sanggar Suluh** guna untuk men-tag info dan hasil diskusi serta mempermudah komunikasi lebih lanjut,

5. Tema, 'PEMUDA; refleksi sumpah pemuda 28 Oktober 1928'

6. Mengacu pada tema, peserta mengirimkan maksimal satu karya terbaik,

7. Tulisan dikirimkan ke sanggarsuluh@gmail.com dalam file (doc.)

8. Dibawah karya, tuliskan identitas singkat, kontak yang bisa dihubungi dan satu foto pribadi,

9. Wajib mem-publish karya yang diikutsertakan di note fesbuk dengan memberi judul 'KARYA SAYA UNTUK TERAS SASTRA (TeSt) OASE KEDUA SANGGAR SULUH'

10. Dibawah karya tautkan link info ini, http://www.facebook.com/notes/quranul-hidayat-idris/teras-sastra-test-oase-kedua-menampung-karya-anda-untuk-didiskusikan-dan-diterbi/10150291110275430

11. Peserta wajib men-tag catatan ke minimal 20 akun termasuk akun Qur'anul Hidayat Idris dan Sanggar Suluh,

12. Tenggat untuk pengiriman Teras Sastra (TeSt) Oase Kedua tanggal 15 November 2010, selanjutnya akan ada info untuk TeSt berikutnya,

13. Akan dipilih lima karya terpilih dengan hirarki (urutan) pilihan, urutan pertama karyanya akan diangkat dalam diskusi yang dilaksanakan pada 21 November 2010 di Semarang (tempat menyusul)

14. Setelah terpilih, undangan, pamflet serta pemberitahuan ke yang bersangkutan akan dilaksanakan secepatnya,

15. Hasil diskusi akan diterbitkan di catatan FB, blog Sanggar Suluh juga Blog-blog milik panitia untuk bisa disimak dan dibahas kembali oleh teman-teman yang tidak bisa hadir dalam TeSt,

16. Lima karya terpilih akan diterbitkan di Buletin Teras Suluh dan akan dikirimkan ke alamat yang bersangkutan (tanpa imbalan materi)

Teras Sastra belumlah menjadi even sastra besar, namun kita berharap anda menjadi bagian dari kami untuk eksis dalam memberikan andil dalam dunia sastra saat ini.Terima kasih kami ucapkan yang telah berpartisipasi, semoga Sanggar Suluh dapat terus belajar dan membagikan hasil pembelajaran tersebut buat kemanfaatan bersama.

Keterangan:
* Pengumuman karya terpilih TeSt 'Buka Lahan' dapat dilihat di sini: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150287064695430

** Untuk melihat dan meng-add grup Teras Sastra (TeSt) Sanggar Suluh klik link ini: http://www.facebook.com/home.php?sk=group_162358557126733&ap=1

Info berkenaan TeSt dapat juga dilihat di,
http://sanggarsuluh.blogspot.com/
http://cafesenja.blogspot.com/

(INFO INI TOLONG DIBAGIKAN KE REKAN, KERABAT, TEMAN UNTUK BISA DISIARKAN KE SELURUH NUSANTARA)
terimakasih...

Salam budaya!
Salam Suluh!

0 TERAS SASTRA (TeSt) MENAMPUNG KARYA ANDA UNTUK DIDISKUSIKAN DAN DITERBITKAN DI BULETIN 'TERAS SULUH'

Rabu, 13 Oktober 2010
Salam Budaya!
Salam Suluh!

Sanggar  Suluh akan merealisasikan agenda yang telah direncanakan dari awal berdirinya. Memosisikan diri untuk ikut andil dalam perkembangan sastra serta coba membangun jiwa kritis dan keterbukaan dalam pengkajian sastra. Ini dirasa penting untuk dapat mengawal sebagian kecil dari sekian banyak karya sastra yang bermunculan setiap menitnya.

“Teras Sastra” atau yang disingkat TeSt akan “Membuka Lahan” pada akhir bulan oktober 2010, tepatnya tanggal 31 yang selanjutnya akan dilakukan secara berkala dua minggu sekali. Obrolan santai tapi cerdas akan membahas salah satu karya terpilih yang didapat dari seluruh penjuru nusantara.

Keunikan dari TeSt terletak pada ‘ketidakpentingan’ kehadiran pengarang terhadap hasil karyanya. Dalam teori pengkajian sastra ini berlaku, setelah karya sastra diterbitkan (publish) maka pengarang sudah terpisah dari karyanya yang telah memiliki dunia sendiri, lalu diterjemahkan tanpa intimidasi sang pengarang. Hasil karya selanjutnya adalah hak utuh para pengkaji, pembedah, penelaah atau yang mencoba membuka tabir hubungan antara karya  dengan dirinya maupun orang lain. Untuk lebih formalnya, kritikus sastralah yang menjadi jembatan pemahaman ke pembaca yang lebih luas.

Bila memungkinkan pengarang untuk hadir dalam TeSt, tidak ada larangan untuk itu, namun tidak menjadi sebuah keharusan. Lalu bagaimana pengarang dan pembaca umum bisa tahu hasil diskusi?

Pertanyaan ini akan sekaligus dijawab dalam pembahasan teknis TeSt,

1.       Penulis boleh berasal dari manapun di Indonesia, tidak ada dikotomi pendidikan, kelas, jabatan, pangkat, profesi, latarbelakang, politik, agama dan semua jenis pemisah dan pemecahbelah,
2.       Terlebih dahulu membolehkan karyanya untuk ditelaah dan dikaji sebelum dikirim ke panitia,
3.       Tulisan boleh dalam bentuk apapun, baik puisi, cerpen, naskah drama, esai sastra, artikel sastra dan segala macam bentuk karya sastra lainnya,
4.   Bagi yang belum menjalin pertemanan di FB dengan panitia penjaring karya online bisa meng-add Qur’anul Hidayat Idris dan Sanggar Suluh guna untuk men-tag info dan hasil diskusi serta mempermudah komunikasi lebih lanjut,
5.       Tidak ada pembatasan jumlah tulisan yang dikirimkan
6.       Tulisan dikirimkan ke: quranul@yahoo.co.id
7.       Dibawah karya dicantumkan identitas singkat dan kontak yang bisa dihubungi,
8.       Tenggat untuk pengiriman Teras Sastra (TeSt) ‘Buka Lahan’ tanggal 25 Oktober 2010, karya boleh dikirim setelah tanggal tersebut dengan catatan akan masuk dalam daftar pertimbangan karya TeSt kedua,
9.       Panitia akan melakukan rapat kecil untuk menentukan karya mana yang akan diangkat dalam TeSt ‘Buka Lahan’ tanggal 31 Oktober 2010 (Tempat menyusul dalam undangan)
10. Setelah terpilih, undangan, pamflet serta pemberitahuan ke yang bersangkutan akan dilaksanakan secepatnya.
11.   Hasil diskusi akan diterbitkan di catatan FB, blog Sanggar Suluh juga Blog-blog milik panitia untuk bisa disimak dan dibahas kembali oleh teman-teman yang tidak bisa hadir dalam TeSt,
12.   Karya terpilih tersebut akan diterbitkan di buletin ‘Teras Suluh’ dan akan dikirimkan ke yang bersangkutan (tanpa imbalan materi)
13.   Begitulah aliran karya dalam TeSt, selanjutnya akan diumumkan untuk TeSt berikutnya.
Teras Sastra belumlah menjadi acara besar, namun kita berharap anda menjadi bagian kami untuk eksis dalam memberikan andil dalam dunia sastra saat ini. Terima kasih kami ucapkan yang telah berpartisipasi, semoga Sanggar Suluh dapat terus belajar dan membagikan hasil pembelajaran tersebut buat kemanfaatan bersama.

Info berkenaan TeSt dapat juga dilihat di,

dan,

(INFO INI TOLONG DIBAGIKAN KE REKAN, KERABAT, TEMAN UNTUK BISA DISIARKAN KE SELURUH NUSANTARA)

terimakasih...

salam budaya!
Salam Suluh!




0 LPM HAYAMWURUK Kedatangan Wajah-wajah BARU!

Kamis, 07 Oktober 2010
Raker IX Hawe di Kopeng

info dikit :
Sebenernya sih pengen ngepost about new personil of Hayamwuruk itu kemaren, pas benerkan waktunya! Berbagai kejadian masih nyimpen banget di kepala. Namun ya sudahlah, karena tugas kuliah yang harus lebih dahulu diselesaikan. Makanya hari ini akan kucoba menceritakan garis besar acara kemaren.


Kampus FIB (06/10/10) memang tampak seperti biasanya. Kesibukan mahasiswa yang sedang kuliah atau yang lagi nongkrong di Joglo FIB Undip menjadi ciri khas tak tergantikan setiap harinya. Letak kampus yang berhadapan langsung dengan jalan raya pun membuat bunyi bising selalu setia menghuni dari ujung ke ujung pendengaran.

Kepadatan kampus memang bertambah dengan datangnya MaBa (Mahasiswa Baru) yang telah menjadi bagian civitas akademika Undip, otomatis kesesakan yang memang sudah mencapai batas menjadi semakin menjadi-jadi. Untunglah itu terobati dengan adanya kabar menggembirakan bahwa bangunan kampus Tembalang sudah rampung, bahkan sudah pula diresmikan dalam rangkaian Lustrum IX FIB Undip tanggal 27 September 2010. Menurut keterangan Bpk Mujid, PD III FIB Undip, bangunan kampus baru di Tembalang sudah siap huni dengan properti atau kelengkapan di dalamnya, namun ada beberapa hal yang menyebabkan kepindahan direncanakan baru terealisasi dalam bulan Januari 2011. Salah satu penyebabnya adalah belum tersedianya ruang parkir kendaraan dan jaminan keamanan.

Menjadi mahasiswa tidak hanya menemui setumpuk materi dan tugas yang memusingkan, namun ada medium belajar yang materinya tidak berkurikulum dan tidak tersedia di ruang-ruang kuliah, bernama ORGANISASI. Keikutsertaan dalam organisasi murni keputusan pribadi tanpa ada paksaan dari siapa pun, tergantung kemauan mengembangkan diri, sebab materi kuliah tidak cukup untuk menlahirkan pribadi tangguh, bermutu, cakap, terintegrasi, kompeten dan bersaing dalam jenjang karir. Ada nilai tambah dalam organisasi; bagaimana cara memanajemen waktu, menempatkan diri dalam struktur integral, memutuskan dan bertindak serta mempartisipasikan diri dalam berbagai kegiatan.

FIB Undip memiliki berbagai PKM (Pusat Kegiatan Mahasiswa) yang bergerak dibidangnya masing-masing. Selain LPM-Hayamwuruk yang bergerak di bidang Persma (Pers-Mahasiswa); belajar reportasi, menerbitkan majalah, buletin dan pelatihan. Terdapat juga PKM lain seperti Teater EmKa yang mewadahi mahasiswa yang berminat menekuni seni peran. Untuk menampung pemusik ataupun penyanyi kampus, ada WMS (Wadah Musik Sastra). MATRAPALA (Mahasiswa Sastra Pecinta Alam) siap memberikan jalur untuk dapat berkegiatan sosial. Juga terdapat PMK (Persatuan Mahasiswa Katolik) dan EDSA.

Angka peminatan untuk LPM-Hayamwuruk meningkat tajam, tercatat sampai hari ini (07/10/10) ada kurang lebih 60-an Mahasiswa dari berbagai jurusan--Sastra Indonesia, Sastra Inggris, Jepang, Perpustakaan, Sejarah--menyerahkan formulir pendaftarannya. Formulir yang diserahkan langsung ke Kantor Hayamwuruk berjumlah lebih dari 30--mengingat masih ada yang datang menyerahkan formulirnya, begitupun dengan formulir dari fakultas sendiri.

berhubung formulir dari pihak fakultas baru diterima beberapa jam sebelum pelaksanaan wawancara dan temu awal dengan MaBa yang mendaftar ke LPM-Hayamwuruk, maka yang bisa diundang oleh panitia--yang dipegang oleh divisi LitBang--hanyalah nama-nama yang tercantum di formulir pendaftaraan dalam rak kantor LPM.

acara dijadwalkan jam 14.00 berlokasi di kantor LPM, namun beberapa mahasiswa dari Sastra Inggris sudah mengetuk pintu kantor pukul 13.20 di karenakan dosen yang mengampu mata kuliah berhalangan hadir.   Untunglah beberapa panitia--Qur'anul Hidayat, Yasmine, Nanik, Desta--sudah berada di tempat, perkenalan kecil pun terjadi. Menginjak jam acara hampir semua peserta mulai berdatangan termasuk ketua panitia, Ponco Wiyono, Nurul Cahya Hikmah dan Sri Debby M.

Ruangan kantor tak sanggup menampung jumlah peserta yang mencapai angka 30. Ketua panitia menginstruksikan bahwa acara akan dilakukan ditempat yang lebih lapang dan nyaman. Beberapa usul pun bermunculan dan yang diterima adalah menggunakan ruang terbuka Fak. Perikanan yang juga terdapat beberapa kursi panjang.

Setelah semua berkumpul di lokasi dadakan tersebut, ketua panitia langsung meng-handle seluruh peserta. Acara ini sifatnya non-formal agar peserta merasa enjoy dan bisa menikmati kebersamaan. Ada yang menarik diawal acara, peserta yang masih duduk bersebelahan dengan teman se-jurusan diharuskan menempati posisi dimana terdapat peserta dari jurusan lain. Tindakan ini dilakukan untuk meningkatkan kedekatan dan tidak meningkatkan perpilah-pilahan dalam satu organisasi.

Teknis Wawancara

Divisi Litbang (Penelitian dan Pengembangan) mengagendakan hari itu diadakan wawancara secara lebih personal untuk mengetahui sejauh mana tingkat ketertarikan peserta terhadap organisasi, pengalaman sebelum ke jenjang perkuliahan mau pun komitmen awal yang mereka tunjukkan.

Agar wawancara bisa efektif tanpa memakan terlalu banyak waktu, ditetapkan teknis wawancara dengan membuat tiga pos wawancara. Setiap pos diisi oleh dua orang pewawancara dan tiga orang peserta wawancara. Pos 1 diisi oleh Dian dan Dayat, pos 2 diisi oleh Sandy dan Desta sedangkan pos 3 oleh Nurul dan Nanik. Bagi peserta yang menunggu giliran diwawancarai, ada Ponco Wiyono yang siap mengisi kekosongan dengan lelucon-lelucon yang kerap membuat derai tawa menggema.

Kejadian-kejadian Seru Saat Wawancara

layaknya dua orang yang baru mengenal, itulah yang kerap terjadi pada sesi wawancara. Berbagai karakter terlihat dari masing-masing peserta. Pewawancarapun harus memutar otak untuk menggali sedalam-dalam informasi keorganisasian dan kepribadian peserta wawancaranya. Beberapa peserta tanpak sangat antusias dan ekspresif, namun ada juga yang terlihat diam dan menjawab apa adanya ketika pertanyaan diluncurkan.

Ronald, mahasiswa jurusan Perpustakaan asal Palembang menjawab tegas ketika ditanya dorongannya mendaftar ke LPM-Hayamwuruk. "saya ingin mendapat pengalaman lebih dalam hal penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, makanya saya memilih divisi litbang" ditanya lebih lanjut, apakah pernah melakukan penelitian sebelumnya, yang bersangkutan tampak malu-malu menjawab. "belum kak!". Selanjutnya ditegaskan kalau di LPM-Hayamwuruk baik senior maupun yunior sama-sama masih dalam posisi berproses, maka melakukan permulaan suatu hal adalah langkah yang tepat.

Ditanya tentang pemilihan divisi beserta alasannya, Riska dari Sastra Inggris malah nggak ngeh tentang divisi--reportase, redaksi, artistik, riset, fotografi--yang ada, "kemaren saya hanya asal coret pas memilih peminatan divisi, hehe! Mungkin kakak bisa menjelaskan!". Diawal acara sebenarnya sempat dijelaskan secara ringkas tentang divisi yang ada di LPM-Hayamwuruk. Mungkin dikarenakan tidak konsen mendengarkan penjelasan itu tidak ditangkap oleh Riska.

Pewawancarapun menjelaskan secara singkat divisi-divisi tersebut. Reportase merupakan bagian utama dalam organisasi ini, semua anggota harus bisa menjadi reporter atau setidaknya tahu berkenaan reportase. Redaksi menjadi divisi yang mengurusi isi dari produk LPM-Hayamwuruk, contohnya majalah, di dalam keredaksian anggotanya harus mencari materi dan informasi. Artistik mengurusi lay-out, karikatur, ilustrasi dan disain grafis. Riset atau litbang berkenaan dengan proses penelitian dan pengembangan pengetahuan di dalam tubuh organisasi. Terakhir adalah fotografi yang menangkap berbagai kejadian yang relevan dengan berita dan materi yang diangkat.

Pewawancara di pos 1 juga dibuat tergelak dengan gaya ekspresif Arum dari Sastra Indonesia ketika menceritakan hobinya membuat funpict--menggabungkan artis korea atau asing dengan artis indonesia dalam sebuah cerita baru. salah satu pewawancara, Dian sempat jail dengan bertanya nama artis korea yang menjadi idolanya, dengan cepat Arum menjawab masih dengan gaya ekspresifnya nama-nama yang sulit ditulissebutkan.

Pertanyaan pamungkas adalah berkenaan komitmen mereka berikutnya. Semua jawaban menunjukkan komitmen mereka untuk dapat berproses dengan lebih baik dan tetap membangun organisasi walau terjadi kondisi terburuk sekali pun di masa mendatang. Semoga komitmen tersebut tidak semata retorika yang pada kenyataannya nanti bernilai nol besar.

Wajah Baru Semangat Baru!

Acara wawancara selesai jam 16.30 dengan keselurahan acara berakhir pukul 17.00. Seluruh peserta pun dibolehkan untuk meninggalkan tempat acara, sedangkan panitia dan seluruh pengurus HaWe (panggilan LPM-Hayamwuruk) tinggal ditempat untuk membicarakan agenda selanjutnya, yakni reportase dasar yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat.

kelelahan tanpak hinggap di wajah-wajah pengurus, namun ada sisa optimisme dalam diri tentang regenerasi yang akan mereka lakukan. Wajah-wajah baru yang baru terlihat memang menjadi harga mati untuk dapat meneruskan tampuk kepengurusan, mengingat tidak selamanya pengurus dapat berada di lingkungan HaWe.

Seluruh pengurus sadar bahwa dari sekian banyak peserta tersebut pada akhirnya ada yang menyerah, rubuh dan tersungkur dalam ketidakkomitmen. Namun begitulah, alam dan proses akan menyeleksi yang benar-benar pantas menjadi anggota HaWe kedepannya. Apalah pentingnya kuantitas bila tak satupun dapat menunjukkan kualitas.

wajah-wajah baru tentu dengan semangat baru, lebih fresh, meledak dan dapat melakukan inovasi dan cara kerja serta hasil yang lebih baik. Kemungkinan memang ada dua, tentu harapan dari seluruh pengurus wajah-wajah baru yang hadir dapat memberi kontribusi maksimal sehingga LPM-Hayamwuruk dapat menjadi jalan pengembangan ketrampilan dan kepribadian dimasa sekarang dan masa depan.

 KAMI SELURUH PENGURUS LPM-HAYAMWURUK DARI PERIODE AWAL HINGGA SEKARANG MENGUCAPKAN SELAMAT DATANG CALON JURNALIS HANDAL MASA DEPAN!
CHAAAAYYOOOOOO!!



ditulis oleh:
Qur'anul Hidayat Idris
Redaktur Pelaksana (RedPel) di LPM-Hayamwuruk

0 Jantungku Masuk Ke Gelas Kopi Pagimu

Senin, 04 Oktober 2010

I/
sudah kita jelajahi rawa-rawa berpelita redup ujung pengandaian

menebak berapa sisa peradaban remuk di tumit dan lengan

di setiap Mesolitikum kutemui parau

sebentar dentang di ujung darah meracau

bukan aw tapi AW

kau telah membaca

belajarlah pula cara lupa



II/

kita bukan tersesat

semata hilang mencekau ruparupa karat

pemberhentian hanyalah kursi

ada apa dibalik dada

jantung, disebaliknya

daging, lalu?

pembuluh, terus?

kopi-kopi berwarna malam

yang kita minum tiap selepas bermakam



III/

aku ingin mengambilmu

sebagai arteri dan ragi



IV

aku menatap neolitikum

orang berwajah ladang dan sawah

asyik meminum

kembang bermadu darah

tak puas, kucampur

di kopi

dadamu



V

menukar beberapa jantung

menampik tuduhan waktu pada masa sulung






HaWe, 041010

Qur'anul Hidayat Idris