[#FikTwit] PRELUDE: (fragmen 2)

Selasa, 11 Desember 2012
Share this history on :
fragmen 1 klik di sini

Mendengar suaranya, tawanya, dan air yang mungkin jatuh ke tubuhnya. Semakin aneh karena semua perasaan itu langsung hilang ketika aku sampai ke rumah. Aku kembali menjadi pendiam, dingin, cuek, sensitif, pemarah dan berbagai sikap lain layaknya orang yang tak mencinta.
Bahkan aku pernah melakukan sesuatu yang kusesali sampai sekarang. Murni karena kebodohanku.

Malam itu aku sedang duduk di ruang tamu rumahku dengan mata tertuju ke laptop. Serius. Banyak pekerjaan yang harus segera kuselaikan. Ia kemudian dengan lembut datang membawaku segelas kopi, memberiku senyum lalu memeluk dan memijat pundakku. Sikap dinginku datang seperti dinginnya malam. Tanganku yang sebelumnya sibuk memencet tuts-tuts laptop tiba-tiba berhenti.
Entah dari mana datangnya perasaan risi itu. Dengan bodohnya aku berucap, “Kau itu tak mengerti atau pura-pura tak mengerti. Aku itu masih tak mencintaimu sama sekali!” Mengingat kalimat ini saja ingin rasanya kutonjok kepalaku sendiri. Bukan hanya karena kebodohanku itu, juga karena setelah mendengar ucapanku ia diam dan tak membalas. Ia hanya melepaskan tangannya dari pundakku. Meninggalkanku sendirian dalam perasaan yang berubah gusar.
Ia langsung menangis, aku tahu itu. Tapi tak pernah mau ia tunjukkan padaku. Gusarku mulai berubah menjadi perasaan bersalah. Malam itu ketika aku masuk ke kamar tidur, ia sudah tertidur, lebih tepatnya pura-pura tertidur.
Hampir sepanjang malam aku tak benar-benar tidur. Suara tangis tertahannya terlalu jelas kudengar. Aku masih saja terlalu bodoh, tak memeluk dan menyeka air matanya ketika itu. Dalam hatiku membatin, “besok pagi aku harus meminta maaf!”
Pagi itu, betapa kagetnya aku ketika melihat ia sudah tak ada lagi di tempat tidur. Rasa bersalah membuat pikiran negatifku terkuak. Aku lalu bergegas keluar kamar dan melihat ke seisi ruangan. Tak ada siapa-siapa.
Aku semakin panik dan melanjutkan pencarianku ke dapur, dan langkah cepatku perlahan terhenti saat melihat punggungnya yang berbalut kaos berwarna biru. Ia sedang mencuci peralatan dapurnya. Aku menoleh ke meja makan dan melihat di sana sudah mengepul semangkuk nasi goreng.
Aku tak memanggilnya dan sepertinya kehadiranku masih tersamar oleh bunyi air keran. Dengan gontai aku menarik kursi meja makan, hanya diam melihat sarapanku. Suara gesekan kaki kursi ke lantai membuatnya tersadar akan kehadiranku. “Eh mas sudah bangun toh! Ayo, sarapannya sudah siap.” Aku langsung membatin, wanita macam apa yang kunikahi ini?

(bersambung cuy!)

Bagi yang ingin menikmati karya ini secara berkelanjutan dan lebih mudah tahu apabila ada cerita telah terupdate. Silakan gabung ke page di fb (KLIK DI SINI). Saya akan mentautkan ke sana. Terimakasih!

oleh Qur'anul Hidayat Idris alias @Bang_Dayyy

ilustrasi terlalu bagus, jadi tak terdefinisikan :D :D

Related Posts by Categories

3 komentar:

Leni Fitria Says:
Selasa, Desember 11, 2012

jiaaaaaa
brp fragmen ni Yat?
tak jd cerbung dow kan?
anyway, senang membacanya.
ditunggu fragmen selanjutnya.
eh, btw, om Bean nya dah diusir y? mantap.
^ ^
sukses selalu....!!!

Puspita Resky Amaliyah Says:
Rabu, Desember 12, 2012

i'm waitng for next fragment,,, haha #menikmati

Kampung Karya Says:
Kamis, Desember 13, 2012

Makasih yo Leni, makasih ya Puspita. Ikuti terus ceritanya. :D

Posting Komentar

Selesai baca, tinggalkan jejak ya!